Indi Go!

Indi Go!
Episode 24


__ADS_3

Hai guys! How are you? Author harap kalian masih stay healthy di tengah wabah covid-19, dan tetap #stayhome. Cuma sedikit peringatan, buat kalian yang akan membaca episode ini, pastikan kalau kalian bukan tipe orang yang parnoan. Karena episode ini mengandung sedikit bumbu horror. Tapi cuma sedikit saja. Thanks for reading. Jangan lupa vote, comment, and share cerita Indi Go! Ya.


***


Ketiga gadis itu kembali meneruskan perjalanan mereka. Sekitar beberapa kilometer, sesuatu lalu mendekat pada mereka. Benda besar itu mendekat dengan kecepatan penuh, yang membuat Indi mulai gelisah.



“Apa kalian juga melihatnya?”


Fanny dan juga Liona tampaknya melihat hal yang sama. Dapat dilihat dari ekspresi mereka yang menegang.


“Apa ini waktu yang tepat untuk lari?” Tanya Indi, yang sepertinya sudah menyiapkan diri untuk hal itu.


Mereka sudah siap untuk lari, ketika benda itu berhenti. Itu sebuah bus berwarna merah. Hanya saja ada yang aneh dengan bus itu.


Warnanya tampak pucat, dan hawa yang dipancarkannya begitu dingin, tak seperti kendaraan pada umumnya. Di bagian belakang, knalpot kendaraan itu tampak mengeluarkan kabut. Pintu bus itu lalu terbuka.


“Hai!” sapa seorang gadis hantu, dengan senyuman ompongnya.



“Jeannet?” Indi keheranan.



“Ayo naik!” serunya



“Bagaimana bisa?”



“Udah nanti akan kujelaskan di dalam, oh hai Liona!” kata gadis cilik itu.


Omong-omong, Liona sudah dapat melihat hal-hal yang berkaitan dengan arwah dengan bantuan Fanny. Kata Fanny, selain dapat melihat roh dan arwah, para spiritus dapat membuat orang lain, melihat apa yang mereka bisa lihat. Dan itu lebih mudah untuk seorang indigo.

__ADS_1


Fanny naik, dan mulai memandang ke sekeliling. Meski belum terlalu dekat dengannya, namun Indi setuju bahwa untuk hal-hal yang berkaitan dengan hantu Fanny adalah ahlinya.


“Ada apa?” Tanya Indi.



“Bukan apa\-apa.” Katanya tegang.


Indi lalu naik. Dan ia melihat hal yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Seluruh penumpang di dalam bus itu bukanlah “manusia”, mungkin dulunya. Beberapa penumpang bahkan tampak “mengerikan”.


Di sisi belakang mobil tampak seorang ibu yang memegang kepalanya sendiri. Indi lalu memalingkan pandangan pada seorang pemuda, yang wajahnya terkelupas.


Tenang Indi tenang, pikirkan hal yang menyenangkan hatimu. Ibu itu hanya memakai kostum Halloween, sedangkan pemuda itu tampaknya salah memakai produk skin care batin Indi, mencoba menenangkan dirinya sendiri dan masuk ke bus itu.


Meski gemetar, Indi merasa lega ketika akhirnya ia naik dan menemukan tempat duduk, yang berdampingan dengan Liona dan Fanny. Meskipun pengalaman pertama, tapi tampaknya Liona tampak lebih tenang ketimbang, Fanny dan Indi.


Sedari tadi Fanny bahkan tak dapat mengehentikan kakinya yang terus gemetar. Wajah Fanny tampak pucat. Namun Indi tak bisa menyalahkannya. Selain hawa yang begitu dingin, bus itu memiliki bau busuk yang sangat menyengat.


“Tenang saja, dengan ini perjalanan kita ke kota akan semakin cepat,” kata Jeannet dari kursi belakang.


Indi ingin memukul kepala gadis hantu ini. Tapi, ia tak memiliki pilihan lain. Perjalanan mereka dengan berjalan tanpa harapan akan memakan banyak waktu. Belum lagi kemungkinan, mereka akan dikejar oleh UCI. Indi mengurungkan niatnya dan mencoba untuk tenang.



“Kalau kalian bertanya\-tanya, bus ini bukanlah bus yang sama dengan dunia kalian, tapi bus ini jauh lebih cepat daripada kendaraan di dunia manusia. Kalian tahukan perbedaan waktu dan dimensi dunia arwah dan dunia manusia itu berbeda. Selain itu sekedar informasi, bus ini tercipta sepuluh tahun lalu di desa mati tadi. Kata salah satu penumpang, bus ini mengalami kecelakaan parah di desa itu, dan semua penumpang yang ada di bus ini mati, dengan mayat yang berhamburan di desa. Nah, sejak saat itu, warga desa mulai merasa dihantui dan meninggalkan desa tersebut,” jelas Jeannet tampak seperti seorang pemandu wisata, yang sepertinya membuat Fanny semakin mual.



“Oh ya, aku lupa. Kalian harus bersyukur, ibu tanpa kepala barusan bilang, desa yang baru saja kita tinggalkan jaraknya tak begitu jauh dengan UCI.” Tambah Jeannet yang sama sekali tidak memperbaiki keadaan.


Indi duduk dengan gugup selama bus hantu itu berjalan. Ia mencoba dengan keras untuk tak memalingkan pandangannya dari bawah. Namun ia tak bisa. Ia merasa, orang, maksudnya hantu di sampingnya selalu menatapnya.


“Aku dulu memiliki rambut yang indah sama seperti dirimu,” sapa suara dari samping Indi.


Dengan berat hati Indi memberanikan diri untuk menoleh. Ia melihat seorang gadis dengan wajah cantik. Dia mengenakan sebuah gaun berwarna hitam selutut.


Tunggu, ia tak memiliki lutut. Tidak. Ia bahkan tak memiliki pinggang. Badannya hanya setengah, dan melayang diatas kursi. Saat ia menatap Indi, matanya mulai berubah berwarna merah. Tampak seperti pembuluh darah dalam mata yang pecah. Jantung Indi melompat.

__ADS_1


Di UCI saat pelajaran tentang hantu, Indi tahu bahwa terkadang beberapa hantu tak memiliki niat jahat. Namun rasa iri, maupun hal\-hal yang dapat membawa mereka terhanyut di masa lalu dapat merubah mereka. Indi merengket di kursi. Sepertinya kedua hantu lain di samping gadis itu juga mulai tertarik pada Indi.



“Diamlah, kau tak perlu menggubris mereka,” kata Fanny yang tampak mulai terbiasa dengan suasana.


Bus melaju dengan cepat. Dari balik jendela Indi melihat batas dari desa yang baru saja mereka tinggalkan.


“Gadis hantu di sampingmu. Auranya mulai berubah. Untuk sekarang cobalah untuk tenang dan focus. Jangan sampai ia mengambil kendali dirimu,” kata Fanny dengan begitu mudah.


Ia berharap Fanny juga tahu, bahwa salah satu hobi yang sering dilakukannya semasa sekolah adalah kesurupan.


“Dapatkah kita keluar dari tempat ini?” Tanya Indi, wajahnya memucat.



“Tahanlah sebentar lagi, kita akan keluar saat melewati suatu desa atau mungkin kota yang berpenghuni “Manusia” asli,” kata Fanny.



“Lalu bagaimana caranya kita akan keluar?”



“Lewat jendela,” kata Fanny, sambil mencoba mencari tahu selak dari jendela di sampingnya. Ia lalu berpaling. “Sepertinya ini jendela di bus ini, adalah jenis yang tak bisa dibuka,” kata Fanny gugup.



“Pintu belakang?” usul Indi.



Nihil. Taka ada pintu belakang. Indi begitu gugup dan gemetaran saat itu. Ia memang sering membayangkan bagaimana kedepannya ia mungkin akan mati. Tapi mati karena rasa dengki hantu, sangatlah tidak keren. Bus mereka lalu melalui sebuah terowongan. Indi lalu mencoba kembali mengingat pelajaran tentang hantu saat di UCI.



“Aku ingat, hantu tak dapat menyerang manusia kan?”

__ADS_1


Fanny lalu menatapnya iba, seolah pertanyaan Indi barusan adalah hal yang buruk. “Tidak, tapi saat mereka merasuki sesuatu, mereka bisa.”


*To be continued*


__ADS_2