
Perkataan Noella barusan jelas membuat Indi terdiam. Ia teringat perkataan Jeannet tentang bagaimana ia bisa mati. Orang yang bertanggung jawab akan kematian hantu cilik itu, adalah the sanctus, setidaknya begitu yang dikatakannya.
“Berhenti membodohiku!” kata Indi.
Ia mengepalkan kedua tangannya, jelas ingin segera menghajar wanita gempal yang ada di depannya.
“Aku mungkin masih bisa memaafkanmu terkait semua kebohongan yang pernah kau lakukan padaku, tapi kematian bukanlah hal yang dapat kau bercandakan,” kata Indi, nadanya penuh dengan emosi pada setiap kata\-katanya.
Raut wajah Noella seketika berubah. Ia melebarkan senyumannya, lalu mulai tertawa terbahak-bahak, sambil menepuk-nepuk salah satu pahanya. Hal itu membuat Indi menjadi geram, dan segera ingin secepatnya menghajar wanita aneh itu.
__ADS_1
“Aku tidak tahu kalau kau benar\-benar sebodoh ini. Semua orang di UCI benar\-benar menlebih\-lebihkanmu, kau hanyalah seorang anak gadis yang juga masih perawan dan juga bodoh. Aku bahkan tidak dapat menyangka kalau kau juga memiliki kemampuan seorang *cerebellum* dan *interiorem*,” kata Noella, dengan sedikit terkekeh.
Pernyataan Nolla barusan jelas sangat amat membuatnya tampak bodoh, walaupun situasi saat ini sangatlah tidak tepat untuk merasa bodoh. Untungnya, hari sudah malam, sehingga Noella tak dapat terlalu memerhatikan kalau kedua pipi Indi sedang memerah saat ini.
“Tapi sungguh. Aku tidak sedang berbohong saat mengatakannya. Aku paham, mungkin kau terlalu kelelahan saat ini sehingga otak dan emosi sangat susah untuk berfungsi. Mengapa kau sampai dapat mengatakan kalau aku sedang mempermainkanmu?”
Indi menunduk jelas masih sedikit malu, “Jeannet. Ia pernah mengatakan kalau ia mati karena The Sanctus, sedangkan aku sudah melihat langsung siapa The Sanctus dan tujuan mereka yang sebenarnya. Mereka bukanlah orang jahat. Selama ini aku sudah salah paham karena terus berputar-putar dalam kebohongan dan dongengmu!” Bentak Indi.
“Kau benar tentang kebohongan dan segala rencanaku. Jeannet juga mengatakan hal yang jujur tentang kematiannya yang disebabkan oleh *The Sanctus*. Tetapi kau salah jika mengira kalau akulah tokoh antagonisnya. Sebenarnya aku tak perlu lagi menceritakan hal ini padamu. Sejak awal kau sudah melihat dan mengetahui semuanya,”
__ADS_1
Indi menautkan kedua alisnya. Mungkin ia harus mengakui kalau Noella benar tentang pikiran dan otaknya yang sedikit lambat, namun perkataannya yang barusan jelas akan membuat orang lain juga kebingungan.
“Oh ayolah. Aku sudah membaca pikiranmu, selama kita berbicara. Kau sudah melihat Jeannet dalam penglihatanmu, bersama dengan penglihatan tentang ibumu di masa lalu. Kau adalah salah satu dari *Tempus*,”
Detik berikutnya, pikiran Indi terasa seakan ditampar dan ditarik pada semua segmen-segmen yang dilihatnya. Selama ini ia tak pernah sekalipun terbesit dalam pikirannya kalau semua hal yang pernah dilihatnya adalah bagian dari dunia nyata yang pernah terjadi.
Ia berpikir kalau semua hal itu adalah bagian dari mimpinya, ataupun kilasan-kilasan aneh yang sering dialaminya sejak ia kecil dulu. Kilasan-kilasan penglihatan yang pernah dilihatnya lalu mulai muncul satu per satu dalam ingatannya. Matanya benar-benar terbuka saat ini.
“Kau. Kau. Kau salah satu orang bertopeng putih itu.” Kata Indi pelan.
__ADS_1
Hi guys, sekali lagi terima kasih banyak atas kesetiaannya membaca Indi Go! tetap dukung karya ini dengan semangat kalian ya. jangan lupa like, comment dan share. terima kasih. GBu ✨