
***
Apapun yang dilakukan Indi saat ini, jelas tak pernah direncanakannya. Ia berlari ke arah Inggrit yang baru saja menghancurkan dua boneka ventroquist lainnya.
Ada kurang lebih lima boneka yang dilihat Indi. Indi mengingat boneka-boneka itu, mereka adalah boneka pajangan Maddam Noella di ruangannya. Boneka-boneka itu bergerak karena kemampuan dari Maddam Noella, Spirit Puppet.
Salah satu boneka, dengan rupa anak perempuan, tampaknya menyadari kehadiran Indi. Boneka itu membuka mulutnya, lalu mengarahkan kedua tangannya pada Indi. Dalam sekejap, bongkahan tanah merekah. Di depan Indi kini dinding tanah setinggi tiga meter tampak mengelilingi Ibunya, dan menghalangi jalan Indi.
Kemampuan ini? Bagaimana bisa boneka-boneka ini memiliki kemampuan yang bahkan jarang dimiliki para indigo, batin Indi. Sepertinya ia tak dapat mendekati ibunya dengan mudah.
Indi dapat mendengar suara pertempuran dari dalam tembok itu. Boneka-boneka itu kuat. Apa yang harus kulakukan? Batinnya. Indi memfokuskan pikirannya. Dari arah hutan di sisi utara, Indi bisa melihat tembakan sekelompok besar panah-panah, yang menghancurkan beberapa manusia kayu atau mungkin batu? Tidak terlalu jelas penampakannya. Indi melihat dua orang bertopeng, dengan pakaian serba putih tengah menghadapi lusinan anak-anak dari asrama interiorem.
Ia kemudian melihat dua orang lagi, yang mengenakan topeng, kini tengah dikepung oleh puluhan anak-anak asrama spiritus, tepat di depan gedung utama UCI. Indi tidak mengerti bagaimana caranya, tapi puluhan anak-anak spiritus tak dapat menyentuh mereka. Tiap kali mereka hendak menyerang dua orang bertopeng, akar-akar akan muncul dari dalam tanah dan membelit mereka. Rumput tumbuh di sekeliling kaki para pemanah dari spiritus. Sedangkan beberapa dari mereka tampak jatuh tanpa sadar.
Sedangkan di halaman asrama, empat orang bertopeng, tampak kesusahan dalam menghadapi beberapa boneka. Di tanah Indi melihat beberapa dari mereka tergeletak dengan topeng yang tak lagi melekat di wajah mereka.
“Indi!” Liona mencengkram lengan Indi, dan menariknya. Beberapa bongkahan batu terlempar satu per satu di dekat mereka.
Api di kedua tangan Liona berpendar terang. Boneka tadi lalu menerjang ke arah mereka. Di tempat pijakan mereka, mulai muncul retakan dengan cepat, dan sebuah lubang besar tercipta. Indi tak bisa menghindarinya, ia terperosok ke dalam dengan cepat bersama Liona.
Bongkahan batu tampak datang dari atas lubang dan hendak menghantap mereka, namun dengan sigap Indi mengangkat telapak tangannya dan meledakkan bongkahan batu tersebut berkeping-keping.
“Elementum,” kata Liona terkesima. “Boneka itu menguasai kemampuan seroang elementum.”
“Inikah kemampuan spirit puppet?” tebak Indi.
Liona mengangguk. Rautnya berubah murka, kedua tangannya terkepal. “Kemampuan yang menyebabkan banyaknya kasus kematian dan kehilangan anak-anak Indigo.”
__ADS_1
Mata Indi terbelalak mendengar perkataan Liona barusan, “Apa maksudmu?”
“Indi dengarkanlah ini baik-baik. Saat ini kita tengah di masa pemenuhan penglihatan ibumu. Kau mungkin akan membenci hal ini, tapi kaulah yang menjadi penentu dari hari ini. Dan kami, kami semua ada di tempat ini, untuk membantumu.”
“Aku tak menger-“
“Aku tahu,” potong Liona. “Dan sekarang aku mohon padamu untuk segera pergi dari sini, dan bawa Catherine menuju ruang aula UCI. Disana kau akan bertemu dengan yang lainnya, dan disitulah kau akan mengetahui peranmu.”
“Apa maksudmu? Aku tidak mungkin meninggalkanmu disini sendiri! Lagi pula aku sudah memutuskan kalau aku akan membuat sendiri jawaban yang kucari.”
“Indi aku mohon padamu, hanya untuk hari ini.” Kata Liona, dengan menahan isaknya.
Indi menatap gadis yang sempat tak dipercayainya itu. Ia bisa merasakan emosinya. Ia lalu mengangguk. Liona menyimpulkan senyumnya.
“Dengar, aku akan membuatnya sibuk. Sementara itu kau harus keluar dari sini,” jelas Liona.
Tanah pijakan mereka kembali membuat bunyi retak, stalagmit-stalagmit tajam lalu merekah dari tiap retakan. Secara impulsif Indi dapat menghindarinya, begitu pula dengan Liona. Detik berikunya, stalagmit yang lebih besar, dengan cepat muncul dari retakan. Melihat hal itu membuat Liona dengan cepat menarik Indi.
“Bagaimana caranya keluar dari lubang ini?” tanya Indi terengah-engah. Indi benci mengakuinya, tapi setiap kali ia mengeluarkan kemampuannya ia akan dengan cepat mengalami kelelahan.
Liona memperhatikan keadaan. Mereka benar-benar terdesak saat ini. Kemampuan apinya jelas memerlukan waktu yang lama untuk melawan bongkahan-bongkahan tanah si boneka. Boneka itu masih melayang sekitar satu meter di atas lubang yang diciptakan. Liona mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya. Sebuah peluit perak. Ia meniup peluit itu, namun tidak ada yang terjadi. Bahkan Indi tak mendengar satu suara pun yang dihasilkan peluit itu.
“Hmm, Liona menurutku saat ini, bukanlah waktu yang tepat untuk bermain peluit,” kata Indi perlahan, mencoba tak melukai perasaan gadis mungil itu.
Liona mengangkat satu alisnya lalu tersenyum, “Siapa bilang aku sedang bermain. Aku memanggil bantuan.”
Indi masih menunggu sesuatu terjadi, tapi tetap saja tidak ada sesuatu yang terjadi. Boneka di atas mereka, lalu mengangkat salah satu tangan kayunya, tampak hendak menyerang mereka dengan serangan akhir.
__ADS_1
Boneka itu, kemudian terbang lalu meluncur dengan cepat ke arah Indi dan Liona. Kalau penglihatan Indi benar, boneka itu kali ini lebih seperti boneka batu ketimbang kayu. Indi mengangkat salah satu tangannya, mencoba untuk memfokuskan seluruh pikirannya untuk menyerang boneka itu.
Percuma tidak ada yang terjadi. Ia sepertinya sudah terlalu banyak menghabiskan energinya.
Liona dengan sigap mengarahkan kedua tangannya pada boneka itu. Semburan api yang begitu panas, lalu menyembur dari tangan Liona.
Semburan itu tepat sasaran dan mengenai boneka itu. Bagus! Saat ini boneka itu pasti sudah menjadi abu, Batin Indi. Semburan api mulai menghilang dan menyisahkan bunga-bunga api.
“Kita berhasil!” seru Indi girang.
“Tidak, yang barusan kuserang hanyalah batu, bukan boneka itu!” kata Liona khawatir.
Indi merasakan sesuatu menyentuh kedua kakinya. Baru disadarinya kalau kedua tangan boneka itu kini tengah memegang kedua kakinya. Boneka itu selama ini ada di dalam tanah. Perlahan Indi merasakan, kakinya ditutupi oleh tanah yang mengeras, dan membuatnya tak dapat menggerakkan kedua kakinya.
“Liona dia berada di dalam tanah, cepatlah serang dia dengan apimu!”
“Aku tak bisa! Saat ini dia sedang menggenggam kakimu, bisa saja apiku juga ikut membakarmu,”
Indi baru menyadarinya, “Lalu apa yang harus kita lakukan?” kali ini raut Indi mulai berubah panik. Tanah mulai membungkusnya hingga ke lutut.
Suara kepakan sayap lalu terdengar mendekat. “ROARRR!”
Bunyi auman itu menggema, dari atas lubang, membuat Indi terdiam. Sementara Liona terlihat senang.
Indi melemparkan tatapan panik ke arah Liona. “Kali ini apa lagi?”
“Bantuan kita sudah datang,”
__ADS_1
***