Indi Go!

Indi Go!
Chapter 6: Episode 26


__ADS_3

CHAPTER 6


Duta Peri


Indi benci dengan dirinya. Ia benci dengan dirinya yang selalu merasa senang dan sedih disaat yang selalu bersamaan. Di satu sisi Indi senang karena ia tak harus berada di dalam bus hantu itu, dan ia berhasil mengehentikan Liona yang kesurupan hantu gadis yang sangat piawai dengan api.


Ia bangga karena bisa menyelematkan temannya. Tapi di sisi lain, ia sedih karena telah melukai temannya sendiri. Belum lagi kejadian ransel yang “tidak sengaja” terbakar.


Hal itu membuat Indi, Fanny, dan Liona harus berjalan tertatih\-tatih di sepanjang jalan untuk menuju ke kota. Setidaknya kali ini ada harapan dengan kata kota yang selalu mereka sebut\-sebut. Dari jauh, mereka dapat melihat pendar kota.


Hanya saja mereka harus kembali berjalan, melalui penurunan, dengan hutan lebat di kiri kanan mereka. Belum lagi fakta bahwa Jeannet si gadis hantu yang tertinggal di bus, membuat Fanny merasa bersalah.


Fanny tampak menggigil dan sedih. Sedari tadi ia duduk dengan memeluk dirinya sendiri, “Seharusnya aku juga menariknya.”



Kejadian hari ini sudah cukup membuat Indi syok. Bau busuk dari bus hantu itu masih jelas di ingatannya. Indi mungkin tak piawai dalam hal kepemimpinan, tapi tak ada lagi yang mereka bisa harapkan saat itu.



“Itu bukan kesalahanmu, lagipula aku yakin hantu nakal itu pasti akan menemukan cara untuk kembali. Kita harus terus maju, kota sudah semakin dekat. Setidaknya disana kita dapat mencari sesuatu untuk di makan dan tinggal. Di sini terlalu berbahaya.”



“Semua uang yang kubawa ada di tas yang terbakar,” kata Fanny mengingatkan. “Begitu juga dengan bekal dan pakaian ganti. Lantas bagaimana caranya kita berjalan sekarang? Belum lagi Liona yang masih belum begitu pulih.”


Indi ingin membantahnya, ia sudah bersusah payah untuk menyelamatkan mereka. Ia bahkan harus merelakan rambut panjangnya yang memendek karena terbakar. Belum lagi bau hangus dari bajunya. Ia benar-benar tampak seperti seorang gembel.

__ADS_1


“Aku masih bisa berjalan,” kata Liona mencoba berdiri tertatih.


Indi merasa iba dengan anak itu. Sedari tadi ia satu-satunya orang yang tak mengeluh meski semua luka yang ia alami. Bahkan mungkin yang terparah.


“Aku tak perlu kalian lindungi. Aku pasti baik\-baik saja. Ayo kita lanjutkan perjalanan.” Kata Liona yang bahkan kesusahan untuk berdiri.



“Aku akan menggendongmu,” kata Indi, “Kau tak perlu memaksakan diri,”


Mendengar hal itu membuat wajah Liona tampak tersinggung. “Apa maksudmu? Jangan menganggapku lemah. Aku bukan anak kecil yang harus di gendong!” keluhnya.


Mendengar hal itu membuat Fanny dan Indi saling adu pandang. “Apa maksudmu?”


Liona menautkan alisnya, “Jadi selama ini kalian tidak tahu? Pantas saja perlakuan kalian padaku selalu aneh. Aku bukan anak kecil! Umurku empat belas tahun!”


Setelah beberapa menit berjalan, Fanny menjajari Indi, “Dengar, aku…” suaranya  menghilang. “Aku berterima kasih padamu. Kau menyelamatkan kami.”


Indi tersenyum “Kita teman kan?”


Fanny diam selama beberapa langkah. “Aku juga mau minta maaf. Mungkin kau belum tahu ini, tapi sejujurnya aku sempat membencimu,”


“Aku tahu, dan itu masa lalu\-“



“Aku tak berbicara soal kejadian di asrama bodoh! Semua yang kulakukan di asrama adalah peran belaka, karena tuntutan dari Maddam Noella,” jelas Fanny.

__ADS_1



“Apa tindakan menyerangku, mengangkatku dengan kaki diatas, tatapan sinis, dan semua ejekanmu termasuk?”



“Tentu saja! Aku bukan membencimu karena hal itu. Tapi, aku membencimu karena Catherine begitu melindungimu. Ia bahkan rela untuk tetap disana dan memintaku untuk membawamu keluar dari UCI.”


Malam itu begitu gelap. Indi tak bisa melihat Fanny dengan jelas, tapi ia bisa merasakan kesedihan dan kegelisahannya. Indi mungkin tak bisa membaca apa yang Fanny pikirkan sekarang, tapi ia tahu bahwa pembahasan tentang Catherine akan membuat suasana lebih runyam.


“Kapan kau masuk di UCI?” Tanya Indi, mencoba mengalihkan pikiran Fanny tentang Catherine.



“Tujuh tahun, dan sejak itu aku selalu berada disana.”



“Dimana sebelumnya kau tinggal?”


Perlu beberapa detik baginya untuk menjawab hal itu, “Panti asuhan. Mungkin UCI bukanlah tempat yang baik, tapi disitulah rumahku,” jelas Fanny, kata-katanya mulai berhamburan.


“Walaupun, di asrama aku harus memaksa diriku untuk melakukan sesuatu yang tak sukai, seperti berpedang maupun memanah. Dan aku bahkan tak pernah mengerti kenapa tetap melakukannya selama tujuh tahun ini.”


“Setidaknya tujuh tahun di UCI membuatmu mahir dalam acting,” kata Indi.


Indi tak bisa melihatnya dengan jelas, tetapi ia yakin bahwa saat ini Fanny sedang tersenyum.

__ADS_1


“Aku sempat memikirkan sesuatu,” katanya, “Perihal kejadian di bus tadi, ada hal yang terus mengusikku…”


__ADS_2