
Perkataan Noella barusan benar-benar menarik perhatian Indi. Siapa maksudnya sahabat Indi. Selama hidupnya ia hanya memiliki satu orang yang dianggapnya sahabat, dan ternyata pada akhirnya dia hanyalah satu dari sekian “mata-mata” yang selama ini mengamati kehidupannya. Karena segala hal yang berkaitan dengan kekuatan ‘avatarnya’. Dengan sekuat tenaganya ia mencoba kembali memalingkan pandangannya.
Menangkap tatapan Indi, Noella mengangkat tangan kirinya. Dari jarak beberapa meter dari situ, Indi dapat menangkap bunyi sesuatu yang terbang dan melintas dengan cepat ke arah Noella. Dengan pandangan yang sedikit kabur Indi mencoba menerka apa yang saat ini sedang mendekat, melihat kondisi Indi yang saat ini benar-benar sangat lemah, dan langit yang semakin menggelap. Semakin dekat benda yang terbang itu membuat Indi lambat laun dengan jelas melihat kalau itu bukanlah suatu benda.
Detik berikutnya Indi merasa kalau degub jantungnya terhenti. Di depannya seorang gadis tengah melayang beberapa meter dari atas tanah, tak bergerak. Kulit putihnya pucat pasi dan penuh dengan banyak luka serta memar, rambut coklatnya tampak redup di bawah sinar bulan. Pakaiannya lusuh dan penuh dengan sobekan bekas sayat.
Bibirnya terasa kelu untuk mengucapkan sepatah kata pun. Ia bahkan merasa terlalu lemah untuk merasakan segala emosi saat ini.
“F\-fanny,” gumam Indi serak.
Percuma, Indi bahkan saat ini tak memiliki cukup tenaga untuk merasakan segala emosinya. Ia bahkan tak sanggup untuk menyelamatkan dirinya untuk saat ini.
__ADS_1
“Aku turut berduka sayang. Tapi tenanglah, kau tak perlu menguras tenagamu untuk bersedih karenanya, karena sebentar lagi kau akan bertemu dengannya,” kata Noella, lalu menjatuhkan tangannya, yang membuat Fanny juga ikut terjatuh dengan keras. Daun\-daun pinus kering beterbangan diikuti jatuhnya Fanny.
Langkah Noella kini mulai mendekati Indi. Dari telapak tangannya ia tampak tengah memegang sesuatu. Indi mengingatnya. Sama seperti yang pernah dilihatnya pada pertarungannya dengan Lisa.
“Sampaikan salamku untuk Inggrit dan juga Fanny saat kau sudah menggapai alam baka,” kata Noella dengan senyuman lebarnya.
Indi menutup kedua matanya, memutuskan untuk tak mengingat detik-detik sebelum akhirnya ia benar-benar akan pergi dari dunia nyata. Ia menarik nafas dalam-dalam, dan benar-benar pasrah tentang hal berikutnya yang akan terjadi padanya.
“Doll Viventem”
Suara seseorang yang ditangkap Indi. Detik berikutnya keheningan terjadi. Hanya terdengar suara pohon dan dedaunan karena angin. Perlahan Indi membuka kembali kedua matanya. Di depannya Noella tampak mematung dengan tangan yang menghunuskan pedang tak kasat mata, tepat di depan dada Indi. Indi masih terlalu pusing dan lemah untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
“Kau akan baik\-baik saja,” bisik seseorang di samping Indi.
Mata Indi terbelalak melihat sumber suara itu. Gadis itu berdiri dengan kedua lututnya di samping Indi. Rambut pendek cokelatnya jatuh tepat di kedua bahunya. Jaket parka biru dongkernya masih menutup badannya dengan baik. Di bagian pinggangnya sabuk yang menggantung dua belati melekat dengan baik. Dia baik-baik saja.
“Fa\-fa\- Fanny?” gumam Indi pelan.
Apa yang sebenarnya terjadi? Batin Indi. Tampak mengerti dengan apa yang saat ini dipikirkan Indi membuat Fanny menyimpulkan senyuman khasnya.
“Aku tahu, aku berhutang penjelasan padamu nanti. Tapi saat ini, ada hal penting yang harus aku selesaikan. Oh ya, tak lama lagi bantuan kita akan datang, jadi beristirahatlah dulu,” kata Fanny.
__ADS_1
\*\*\*