
Indi tak pernah tahu kalau ternyata, polisi yang baru saja meninggalkan rumahnya adalah tipikal polisi yang mudah baper. Ia mungkin sedikit bingung dengan hal itu, mengingat ia adalah sosok yang susah diajak kompromi ketika di kantor, dan saat mereka tiba di rumah.
Tapi saat di depan rumah, ia jelas melepaskan Indi dan ayahnya begitu saja. Ah sudahlah! Setidaknya aku sudah tiba disini, dan itulah yang terpenting batin Indi. Indi masuk ke dalam rumah, diikuti oleh ayahnya.
Ruangan di dalam masih sama persis dengan apa yang ada di ingatan Indi. Sofa-sofa hitam dipadukan dengan karpet merah dari beludru. Lemari koleksi piring cantik ibu dan buku-buku ayah Indi berdiri tepat di samping pintu yang terhubung menuju ruang makan. Foto keluarga dan beberapa lukisan terpajang rapi di dinding-dinding ruangan itu.
Ayah Indi lalu duduk di salah satu sofa. dr. James Ferdinand, pekerjaannya sama seperti ibu Indi. Ia memang bukan ayah kandungnya, tapi ialah cinta pertama dalam kehidupan Indi, mengingat ayah kandungnya sudah lama hilang entah kemana.
Tampang ayah masih sama seperti ingatan Indi. Pakaiannya kaos berkerah warna biru. Celananya masih saja gombrang, walau saat ini ia mengenakan celana yang sebatas lutut. Kulitnya putih, dan berbulu. Wajahnya tampan, dan garis keturunan Australia jelas tampak dari wajah dan postur tubuhnya. Ayah duduk santai di atas sofa.
“Ayah benar-benar merindukanmu Indi,” katanya, salah satu tangannya menginstruksikan Indi untuk duduk di sebelahnya.
Indi duduk tepat di sampingnya, “Aku juga merindukanmu ayah. Dimana Mama?” tanya Indi, yang duduk dengan salah satu tangannya dilingkar pada pinggang ayahnya, refleks karena rasa rindu.
Ayahnya hanya tersenyum, ia lalu menatap Indi “Tenang saja Mamamu baik-baik saja,”
__ADS_1
Indi mengernyitkan dahinya, jelas tak mengerti dengan apa maksud dari ayahnya.
“Kau pemberani, telah datang kesini sendiri Indi Elisa Widjaja,” kata Ayahnya dengan suara yang kini mulai memberat. “Setelah semua yang terjadi dan semua yang kau jalani, kau benar-benar sangat berani. Atau mungkin kau hanya sangat bodoh.”
Rasa kebas merayapi setiap sendi tubuh Indi, perlahan Indi melonggarkan pelukannya terhadap ayahnya. Tidak, jelas dia bukan ayahnya. Apa yang terjadi? Pria di depanku jelas adalah ayahku, namun, namun aku tahu kalau dia bukan Batin Indi. Indi memberanikan dirinya.
“Siapa kau? Dimana kedua orang tuaku?” tanya Indi yang kini telah berdiri dengan posisi siaga.
Ayahnya (atau bukan) mengangkat sebelah alis. Dia memajukan tubuh di atas sofa. Kali ini Indi bisa melihat dengan jelas wajahnya. Wajah dan tubuhnya adalah ayahnya, tetapi dari tatapannya jelas kalau dia bukan.
Indi menautkan kedua alisnya. Hal ini jelas seperti ketakutannya. Sekilas Indi teringat dengan perkataan Fanny tentang langsung datang ke rumahnya. Sekarang semua sudah terlambat. Ia jelas sudah masuk ke dalam jebakan.
__ADS_1
“Siapa kau? Apa yang kau lakukan pada ayahku? Dimana ibuku?” kata Indi, suaranya jelas terdengar getir.
Ayahnya lalu menatap Indi lengang. Dari pandangannya jelas sesuatu telah terjadi padanya. Sedetik kemudian ia ambruk ke lantai.
“AYAH!” teriak Indi yang dengan sigap mendekati ayahnya yang terkapar.
Langkah kaki seseorang lalu terdengar dari arah ruang makan. Dari balik pintu Indi melihatnya. Sejenak ia berdiri tepat di depan bingkai pintu, lalu berjalan mendekati Indi.
Gaun selutut birunya tampak beruntai tiap kali ia berjalan. Rambut putih panjangnya dibiarkan jatuh dan menyentuh kedua bahunya. Manik mata birunya dingin menatap Indi.
“Lisa?”
***
Gimana dengan Episode kali ini? Jangan lupa komen supaya author bisa lihat seberapa gereget kamu setelah baca ya, jangan lupa untuk vote, comment, and share cerita ini agar kedepannya author bisa lebih semangat menulis di tengah penyelesaian tugas akhir 😅.
__ADS_1
Thanks for reading!