Indi Go!

Indi Go!
Episode 35


__ADS_3

Indi dan Jeannet saling mencipratkan air di pinggir kolam. Liona merendam kakinya, dan mengisi air di botol minum mereka. Sedangkan Fanny, duduk menikmati suasana, sambil memandangi air terjun di padang bunga.


Sesekali ia memetik bunga dan mencoba mengingat nama bunga yang dipetiknya. Anehnya, tak satupun bunga yang dipetiknya, sama seperti bunga yang pernah ia lihat langsung, maupun di buku dan televisi.


Terpanah akan keindahan bunga-bunga itu membuat Fanny tak memedulikan pikirannya. Ia kembali memetik bebrapa bunga, dan merangkainya menjadi sebuah mahkota bunga.


“Hei, mahkota yang cantik,” kata Liona, yang sudah memenuhi semua botol minum mereka dengan air.



“Benarkah?”



“Ya, kau terlihat\- tunggu, Fanny bukankah bunga\-bunga yang kau rangkai itu tampak tak asing?”


Fanny melepaskan mahkotanya, dan mencoba mengingat. “Souvenir Barang Langka?” ucap Fanny tegang.


Liona mengangguk pelan. Raut wajahnya mulai panik.


“Bunga-bunga itu, muncul saat mahkluk alam seperti peri, dan sejenisnya mati.”


“Maksudmu tempat ini adalah kuburan?”


__ADS_1


“Kita harus segera pergi.” Usul Liona, diikuti anggukan dari Fanny.


Mereka hendak bergegas, dan menjeput Indi dan Jeannet, namun mereka tak lagi berada di kolam itu.


“Hei! Sepertinya aku menemukan gua yang dimaksud para peri!” teriak Indi yang kini berdiri di sebuah batu besar, tempat air terjun itu jatuh.



“Dimana Jeannet?” tanya Fanny.



“Dia masuk duluan! Katanya kalau ia tak keluar dalam lima menit, kita harus segera mencarinya!”



***


Di balik air terjun, ketiga gadis itu menemukan sebuah gua besar setinggi sekitar lima meter. Lebar gua itu kira\-kira lima meter atau enam meter. Dinding\-dinding gua dipenuhi lumut lembab. Sedangkan di langit\-langitnya bergantung stalagmite\-stalagmit berukuran kecil.


Anehnya, jika gua pada umumnya gelap, di gua itu ada pendar cahaya yang bisa dilihat dengan jelas, yang tampaknya berasal dari ujung gua.


Indi mengedarkan pandangan. Bajunya dan ketiga temannya kini basah, karena harus menerobos masuk air terjun.


__ADS_1


“Kalian mencium sesuatu?” tanya Indi.


Fanny menggeleng, sedangkan Liona mencoba mengendus. “Bau tanah,” katanya jijik, “Hmm, dan bau yang tidak asing, tapi aku lupa.”


Oke, sudah jelas kalau ada yang aneh dengan gua itu. Bukan Cuma gua itu, tetapi tempat itu. Sepertinya Indi harus mempercayai firasat Fanny sejak awal tentang ide dari para peri.


Ketiga gadis itu terus masuk beberapa meter ke dalam gua. Indi berjalan di depan. Kakinya gemetar. Fanny berjalan tepat di belakang Indi. Belatinya siaga di tangannya, lengkap dengan jimat miliknya. Sedangkan Liona, tertinggal beberapa langkah. Ia tampak tertarik dengan lumut-lumut di dinding gua.


“Teman\-teman,” kata Liona. “Kalian mungkin lebih ahli dalam hal ini,” sambungnya sambil menerawang dinding gua dengan tangannya yang menyala.



“Apa yang kau lihat?” tanya Fanny.


Liona kembali memperhatikan, dan mencoba memahami apa yang dilihatnya. “Entahlah, tapi ini tampaknya seperti symbol, atau mungkin gambar.” Katanya.



“Hei aku ingat symbol\-simbol ini,” kata Indi, yang sekarang sudah berada tepat di belakang Liona.



“Sebelum hari festival di UCI, pelajaran terakhir hari itu adalah symbol\-simbol mahkluk alam. Lihat, yang diatas sini adalah symbol peri, dibawahnya adalah symbol dryad, dan yang paling atas itu adalah symbol\-“ Indi tak berani melanjutkan kata\-katanya.


__ADS_1


“NAGA!!!”  suara Jeannet menggema di gua itu.


Barulah Liona ingat sekarang. Bau yang sering diciumnya sewaktu ia kecil. Belerang.


__ADS_2