Indi Go!

Indi Go!
Episode 69


__ADS_3

Sebenarnya Indi masih belum paham, bagaimana Catherine bisa mengatakan kalau Indi bisa menciptakan ilusi, yang bahkan dapat membatalkan ilusi milik Lisa.


Selama berjalan, ia mencoba mengingat bagaimana semua itu dapat terjadi. Saat dua bilah pisau mengarah ke arah mereka, yang Indi lakukan hanyalah menghindar. Itu pun karena ditarik oleh Catherine. Kemudian yang ia ingat, Catherine menyentuh kepalanya selama beberapa menit. Yang ia pikirkan saat itu, adalah Catherine yang khawatir dengan benturan di kepala Indi.


Setelah itu, yang ia ingat mereka mendapati Lisa, tersenyum, tertawa, dan berbicara sendiri.


Indi menatap gadis berambut cokelat di depannya. Satu per satu kejadian yang terjadi, sepertinya tak membuatnya lelah, walaupun sudah hampir sebulan lebih ia dikurung.


“Kau baik-baik saja Indi?” Tanya Catherine, yang memecah keheningan diantara mereka.


Indi mengangguk cepat, tak ingin dicurigai. Untungnya Catherine bukanlah seorang cerebellum, jika iya maka ia sudah pasti menginterogasi Indi saat ini juga.


“Aku tahu, kau mungkin juga sama kagetnya dengan aku. Tapi, apakah aneh kalau aku bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi?”


Catherine menatap Indi. Kilauan matanya jelas menunjukkan kekhawatiran. Ia lalu menunduk. Merasa bersalah atas pertanyaan barusan, membuat Indi ingin segera merubah topik.


“Kau tahu, kau tak harus menjawabnya. Tadinya aku hanya mencari pembahasan, karena penasaran tentang semua hal gila yang terjadi,”


__ADS_1


“Hal gila?” ulang Catherine.


Indi menepuk jidatnya. Bagus batinnya. Indi jelas memiliki bakat di bidang membuat emosi lewat pertanyaan. Ia memutar otaknya, mencari jawaban yang kemungkinan besar tak akan menyinggung Catherine.


“Kau tahu. Awalnya semua perjalanan yang kulalui, memiliki satu tujuan yaitu ibuku. Lalu aku ditangkap dan BUM ledakan terjadi dimana\-mana, lalu Ibuku muncul, dan aku dipaksa untuk tidak segera mengetahui jawaban, dan sekarang berada disini,” Indi menunggu, emosi Catherine yang mungkin meledak karena jawabannya.



“Kau pantas untuk marah padaku. Aku tak menyalahkanmu. Tapi kau harus tahu satu hal. Mengetahui segalanya tak akan menjamin kebahagiaan,”



Apa yang sebenarnya terjadi denganku? Batin Indi. Ia tak mengerti dengan dirinya sendiri saat ini. Ia harusnya bersyukur karena ibu dan teman-temannya baik-baik saja. Di belakangnya tampak Catherine yang berjalan sambal terus menunduk. Rautnya benar-benar aneh. Ia seperti baru diselimuti oleh rasa bersalah.


“Indi,” kata Catherine. Suaranya kali ini bergetar.


Perkataan Catherine barusan membuat Indi berhenti. “Aku benar-benar minta maaf. Semua ini, kesalahanku. Akulah yang membuatmu terlibat dengan semua ini. Dari awal akulah yang harusnya bertanggung jawab,” kali ini Catherine mulai terisak.


Otak Indi masih terlalu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ia tak pernah berencana untuk membuat Catherine larut dalam kesalahan. Ia mendekati Catherine dan mulai mendekapnya.

__ADS_1


“Kau tidak salah. Aku tak bermaksud untuk menyalahkanmu Cate,”


Catherine menggeleng. Tangisannya pecah. Gadis itu beringsut dari pelukan Indi, dan mulai memeluk dirinya sendiri.


“Tidak! Aku yang salah. Jika saja, aku tak mengikuti kemauan bodohku, ini semua pasti tak akan pernah terjadi. Aku salah! Aku memang bodoh! Aku memang bodoh!”


Detik berikutnya Catherine berhenti menangis. Tatapannya kosong. Ia lalu memandang kedua mata Indi. Digenggamnya kedua tangan Indi.


“Kau, harus membantuku.”


Indi menatap Catherine bingung, tetapi ia jelas tak ingin membuat gadis itu, kembali menangis di tengah-tengah hutan.


“Aku pasti membantumu,” kata Indi yakin.


Catherine lalu mengambil sesuatu, dari balik sakunya.


“Aku ingin kau membunuhku.”


***

__ADS_1


__ADS_2