
"Kau pasti berbohong, Mama masih hidup. Ia tidak mungkin pergi!" kata Indi tak percaya, matanya mulai berair. Ia lalu melepaskan pelukan wanita bertubuh gempal itu. Berada dipelukannya tidak membuatnya menjadi lebih baik.
"Aku tahu ini berat bagimu, tapi kau\-"
"Tidak! Mamaku belum mati!, kau hanya mengarang semuanya. Semua hal ini tidak nyata, ini hanya bagian dari khayalanku, aku pasti bermimpi. Dan sebentar lagi aku bangun dan menemukan bahwa Mama masih hidup!"
Raut Maddam Noelle iba, ia dapat merasakan yang Indi rasakan. Bahkan, ia tahu persis bagaimana rasanya ditinggal seorang Ibu. Wanita itu lalu mengambil surat kabar dari mejanya lalu memberikannya pada Indi.
Korban Tewas Tabrak Lari
Headline utama di surat kabar itu, dengan foto dr. Inggrit ibunya sebagai korban. Ingatan itu tiba-tiba muncul kembali. Saat dimana Inggrit menariknya, saat dimana ia mengira kejadian itu adalah bagian dari ilusinya.
Sekarang Indi benar-benar sadar, kalau kejadian hari itu adalah bagian yang nyata dari kehidupannya. Indi membenci dirinya. Ia tak bisa berpikir jernih, satu per satu kilasan kejadian hari itu berputar-putar di kepalanya. Badannya lemas. Detik berikutnya ia ambruk, lalu menangis, memanggil-manggil ibunya.
Hal terakhir yang diingat Indi adalah roboh di sebuah ruangan, pikirannya kosong, menatap lampu ruangan itu, dan wajah seorang lelaki yang tampak tak asing, rambutnya berwarna hitam panjang sebahu, persis seperti tokoh pangeran. Salah satu temannya lalu masuk ke ruangan itu, seorang gadis, ia lalu berkata
"Demi dia. Ini semua demi dia."
"Shhhhttt, ingat apa yang Maddam Noelle katakan? Kita harus merahasiakannya!"
***
Indi perlahan sadar. Mata sembabnya seakan berat untuk dibuka. Seorang lelaki tampan menunggu di dekatnya, ia tersenyum melihat Indi mulai sadar. Ketika melihat mata Indi terbuka, dia bertanya,
"Apa kau mengingatku?"
Indi menatapnya lirih, mencoba mengingat rupa lelaki itu,
"Aku, aku tidak ingat,"
Ia tersenyum, senyumannya mengingatkan Indi pada pemeran pangeran dalam film live action Cinderella.
__ADS_1
"Tak apa, aku mengerti dengan keadaanmu saat ini. Kau tak perlu memaksakan dirimu."
Indi menyentuh kepalanya, "Mama," gumamnya,
Lelaki itu lalu menyentuh bahu Indi, kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya,
"Semuanya akan baik-baik saja," ucapnya sambil tersenyum.
"Aku ada diluar jika kau memerlukanku, "
lelaki itu lalu mengeluarkan sebungkus roti dan satu botol susu dari tas gandengnya, lalu meletakannya di meja yang ada di sebelah Indi, lalu beranjak dari ruangan itu.
Indi berada di ruangan yang ditebaknya seperti kamar, atau mungkin asrama. Ia duduk di sebuah kasur putih bersih, di depannya sebuah jendela yang langsung mengarah ke halaman, yang dipenuhi rumput dan bunga hias di kejauhan. Kakinya ditutupi selimut. Dari rasa pusing dan kering lidahnya, membuatnya menebak kalau dia pingsan selama satu hari.
Indi lalu mengambil botol susu di sampingnya. Tangannya lemah, yang membuat botol itu terjatuh saat dipegangnya. Atau mungkin tidak. Botol itu melayang, lalu kembali berdiri diatas meja itu.
"Kau begitu ceroboh," terdengar suara yang tak asing.
Suara itu lalu tertawa riang. Sepertinya ia sudah di ruangan ini sejak tadi, Indi bisa merasakannya.
"Kau beruntung mereka tak menangkapmu," kata Jeannet.
"Mereka? Apa maksudmu?"
"The Sanctus mereka yang mengejarmu dan ibumu," jelas Jeannet. Si Hantu, tebak Indi.
Mendengar penjelasan Jeannet membuatnya kembali terpuruk.
__ADS_1
"Oh ayolah, sampai kapan kau akan larut dalam kesedihan, lalu pingsan, lalu kesurupan, lalu pingsan, lalu menangis, lalu kesurupan, lalu, lalu bangun, dan pingsan lagi. Sepertinya kau memiliki bakat untuk pingsan," jelasnya polos.
"Kau beruntung, bukannya mati sepertiku, tapi kau diselamatkan." Sambungnya.
"Mati?" tanya Indi.
"Ya, aku ini hantu, aku sudah mati. Dulu aku juga sama serpertimu dikejar\-kejar oleh orang\-orang cabul berbaju putih, cih seperti mau kampanye saja mereka," jelas Jeannet ketus, terlihat dari nada bicaranya.
"Maaf," kata Indi, ia merasa tertampar dengan perkataan anak ini, dia yang sudah mati bahkan lebih memiliki semangat dari pada dia yang masih hidup. Ia merasa malu akan dirinya.
Jeannet lalu menghela nafas (seolah-olah dia masih hidup). "Ngapain minta maaf sih, yang salah itu The Sanctus harusnya mereka yang minta maaf, bukan kamu. Dasar ******!"
Baiklah kali ini Indi benar-benar akan mencubitnya walaupun ia tak terlihat.
"Kenapa The Sanctus mengejar\-ngejarmu?"
"Karena aku spesial, dan mereka tidak. Semua anak\-anak yang mereka culik dijadikannya budak maupun eksperimen percobaan. Untungnya aku mati, jadi mereka tidak bisa menjadikanku sebagai budak," jelasnya lalu tertawa geli.
"Kenapa mereka melakukan hal sekejam itu?" tanya Indi.
__ADS_1
"Ya mana kutahu? Kau bisa tanya sendiri nanti sama mereka kalau ketemu. Udah deh, nggak usah banyak pertanyaan. Lebih baik kamu bersihin dulu diri kamu, mandi gosok gigi, lalu kita keluar, kau butuh banyak penyegaran dengan mata sipitmu yang sembab itu."
***