
“Sejak awal aku memang tak berharap banyak padanya,” suara seorang pria memecah keheningan dari ruangan itu. Ruangan yang sepertinya pernah dilihat Indi sebelumnya.
“Setidaknya, dia berhasil menggagalkan ramalan itu bukan?” ucap salah seorang pria yang berdiri di sudut ruangan gelap itu. Tampilannya kurang lebih sama dengan pria yang barusan berbicara, tetapi ia tak mengenakan jubbah aneh yang membuatnya terlihat seperti karakter vampire di film Twilligt. Ia mengenakan setelan jas hitam, kemeja hitam, celana panjang kain hitam, kaos kaki hitam, dan sepatu putih (Ia putih, yang membuatnya menjadi pusat pandangan).
Dari nadanya bertutur, Indi tahu jelas kalau ia ingin meyakinkan lawan bicaranya, meski ia sendiri tampak ragu dengan perkataannya barusan.
Indi tak mengerti bagaimana ia bisa berada di tempat itu. Ini menjadi bagian dari mimpinya atau penglihatan lainnya, atas kemampuannya sebagai seorang avatar indigo. Ia bahkan tak dapat mengendalikan keadaannya untuk segera keluar dari apa yang dilihatnya, atau bagaimana ia bisa terjebak dalam penglihatan ini.
“Kau bodoh! Ramalan itu bahkan sama sekali belum terjadi. Gadis itu jelas telah memperlihatkannya. Ia bahkan tak dapat mengendalikan seorang anak perempuan bodoh yang bahkan belum sadar akan apa yang dapat dilakukannya pada dunia,”
“Tapi bukankah, ia telah memperlihatkan kalau anak perempuan itu bukanlah bagian dari ramalan? Ia hanya anak yang sama sekali tak ada peran pentingnya dalam ramalan itu. Anak dalam ramalan itu kini sudah mati,” pria di sudut ruangan kini mencoba meyakinkan lawan bicaranya dengan mendekatkan dirinya.
Sosok pria berjubah lalu mengumpat beberapa kata yang tidak layak untuk didengar siapapun, “Kau bahkan sama bodohnya dengan dia! Pantas saja ia dengan mudah dikalahkan,”
Indi masih tak dapat mengerti dengan maksud dari pembicaraan kedua pria itu. Yang diinginkannya saat ini adalah segera keluar dari penglihatan yang benar-benar mengganggunya.
“Tenang saja. Semuanya belum berakhir. Lagipula, anak perempuan itu tak dapat mengerti tentang semua yang terjadi. Ia terlalu bodoh untuk memahaminya. Bahkan untuk saat ini,” ucap Pria bersepatu putih dengan terdengar antusias.
Penglihatan itu lalu mengabur dengan cepat lalu menyeret Indi untuk terbangun ke dunia nyata. Ia benci bagaimana semua mimpi maupun penglihatan yang dilihatnya tampak begitu nyata. Ia bahkan masih dapat merasakan pengapnya ruangan dari penglihatannya barusan. Indi mencoba mengatur nafasnya. Jam di dinding menunjukan pukul 12 malam. Ia menyentuh kepalanya, yang terasa begitu berat. Perlahan, ia kini merasakan bahwa tak hanya kepalanya, tetapi seluruh tubuhnya terasa berat. Ia melempar pandangannya ke sekeliling. Matanya lalu menangkap papan kayu dengan sebuah tulisan Medicorum yang digantung pada pintu ruangan.
Apa yang terjadi? Batin Indi. Kepalanya masih terlalu berat untuk mencoba mengingat apa yang terjadi. Ia lalu mencoba untuk duduk. Dengan nafas tersengal dan kepala yang begitu berat, Indi memaksakan dirinya.
“Aku senang kau sudah sadar,” ucap suara dari samping Indi.
“Ingatkah kau, pertemuan pertama kita terjadi di tempat ini?”
Tepat di sampingnya, Jeannet si hantu cilik berdiri. Ia terlihat lebih cerah dari biasanya. Rambut pirang pucatnya kini dikepang dua, dan jatuh pada kedua bahunya. Mata sayunya, kini berseri, dan auranya tak lagi dingin yang menyengat. Hantu cilik itu kini mengenakan gaun bewarna pastel, dengan rok puff berenda. Senyuman ompongnya masih sama seperti sedia kala.
“Apa yang terjadi?” ucap Indi parau. Indi berhasil mengeluarkan suaranya, meski setelah itu ia merasakan tenggorokannya yang kering.
Senyum riang Jeannet sempat menghilang sepersekian detik karena pertanyaan Indi, sebelum kemudian ia kembali menunjukan keompongannya.
“Kau hanya kelelahan, lalu pingsan dalam beberapa hari. Atau mungkin minggu. Entahlah, aku tidak begitu pandai dalam berhitung. Namun sekarang kau sudah sadar, dan ada begitu banyak hal yang harus kau lakukan,”
Indi mencoba untuk menginterupsi namun dengan segera Jeannet menarik tangan pucat Indi. Indi bahkan baru menyadari pakaian yang dikenakannya. Piyama hijau lime dengan motif gambar kodok coklat yang membuatnya tampak aneh. Sepanjang jalan Indi dituntun oleh Jeannet, menyusuri lorong-lorong yang dindingnya tersusun dari batuan granit. Indi mengenali lorong itu, lorong yang dihiasi dengan berbagai pajangan lukisan yang menggambarkan persitiwa-peristiwa besar dunia. Hanya saja kepalanya terlalu sakit untuk dipakainya berpikir, maupun mengingat.
Jalan-jalan yang mereka lalui dipadati dengan anak-anak sebayanya yang bersesakan, dari ekspresi wajah mereka, Indi dapat menebak kalau mereka sedang berada dalam kekecewaan atau berada dalam masalah. Entah apa yang sedang terjadi di tempat ini. Indi dapat merasakan aura yang begitu intense. Ada hal yang pernah terjadi, namun ia tak dapat mengingatnya.
“Apa yang terjadi di tempat ini?” Indi berhasil mengeluarkan pertanyaannya.
__ADS_1
Jeannet menoleh beberapa saat, kemudian berhenti tepat di depan sebuah ruangan. Di dalam kepalanya ia dapat melihat beberapa kepingan, yang menggambarkan ruangan yang ada di depannya. Archididascalum: Arthur Tristan. Entah mengapa tetapi Indi dapat mengatakan ada yang berbeda. Di depan ruangan itu, terdapat beberapa anak yang mencoba mengangkat etalase-etalase kaca, tanpa menyentuhnya. Anehnya, tak ada satu bendapun dalam etalase itu. Indi menyadari bahwa Jeannet sama sekali belum menjawab pertanyaannya.
“Tenanglah, semua pertanyaanmu akan terjawab dalam ruangan ini. Yang tinggal kau lakukan hanya masuk ke dalam ruangan ini-“
Indi hendak menginterupsi Jeannet, dan mengatakan kalau dia baru saja sadar, belum makan, belum mandi, dan belum mengganti baju kodok aneh yang dikenakannya. Namun dengan kecepatan hantu miliknya ia mendorong Indi untuk memasuki pintu ruangan yang sedari tadi terbuka.
“Dia disini,” ucap Jeannet lantang.
Meski susah untuk mengingatnya, namun Indi bisa mengatakan dengan jelas bahwa ruangan itu dulunya tak seperti apa yang dilihatnya sekarang. Ruangan itu berukuran sebesar ruang kepala sekolah Indi pada sekolah lamanya. Entah bagaimana Indi dapat dengan jelas mengingat ruangan itu, sepertinya ia memiliki ingatan yang begitu berbekas dengan sekolahnya.
Di dalam ruangan itu, terdapat dua buah lemari pajang berwarna cokelat tua yang memiliki beragam ukiran, baik itu manusia, raksasa, para peri, maupun beberapa mahkluk yang tidak dikenali Indi. Pada setiap ukiran terdapat jalinan-jalinan persitiwa sejarah yang terjadi di dunia manusia, maupun dunia mahkluk-mahkluk yang terukir di bagian bawah lemari. Pada setiap lemari kaca terpajang, terdapat pigura-pigura foto tampak UCI dari masa ke masa. Mulai dari gedung-gedung asrama hingga beberapa foto anak-anak indigo yang tengah beraktivitas. Di luar dari lemari-lemari pajangan, warna pastel dari ruangan itu juga berhasil membuat perhatian Indi tergugah dari lemari-lemari pajangan.
Indi tak begitu memperhatikannya saat ia baru masuk di ruangan itu. Terdapat beberapa tulisan latin maupun huruf-huruf yang tak dimengertinya yang tersusun pada beberapa gradiasi warna pastel pada dinding-dinding ruangan itu. Semakin menjorok pada ujung ruangan, lemari-lemari pajangan berganti dengan rak-rak buku yang menggantung di langit-langit. Indi sempat berpikir tentang bagaimana caranya orang-orang menggapai buku-buku itu. Hingga, sebuah buku terbang melayang tepat melalui Indi menuju ke atas meja di ujung ruangan yang terletak tepat di depan jendela yang hampir menutupi dinding, yang tersusun dari kaca warna-warni yang membentuk tampilan mosaic. Di balik meja, sosok pria duduk pada sebuah kursi kantor berwarna hitam legam yang sepadan dengan warna meja kerja hitam, yang dihiasi dengan beberapa aksesoris.
Dari baliknya, duduk seorang pria dengan setelan jaket musim dingin navy ala idol K-POP dan celana jeans berwarna hitam. Sisirannya rapi dan klimis. Rambutnya berwarna hitam pekat, sama seperti arang. Kedua matanya berwarna biru, sewarna dengan danau yang pernah Indi kunjungi. Raut wajahnya menenangkan. Diluar dari itu, menurut Indi dia tampak seperti aktor hollywood yang memerankan sosok Iron Man dalam serial Marvel. Di atas mejanya sebuah buku yang baru saja melayang kini terbuka dengan sendirinya. Sebuah penanda di atas meja megukirkan nama yang sama seperti yang ada di depan pintu ruangan; Arthur Tristan.
Kedua matanya lalu menangkap Indi. Seutas senyuman diikuti, tiga garis kerutan di ujung kedua matanya, menghiasi raut lembutnya. Kursi di depan Indi lalu bergerak dengan sendirinya.
“Tenanglah, hal itu adalah bentuk dari gelombang elektormagnetik yang dihasilkan oleh otakku. Aku seorang Indigo cerebellum, tidak ada sihir maupun sesuatu yang menyeramkan,” sergah suaranya ramah, seakan membaca pikiran Indi.
Indi mengambil posisi ternyaman untuk duduk, dengan tetap elegan. Untuk memberikan kesan pertama yang menarik untuk pria di depannya. Dengan refleks, Indi menangkupkan salah satu tangan pada mulutnya. Mencoba untuk mencium bau nafasnya. Semoga ia tidak tampak begitu memalukan. Jeannet sialan! Umpat Indi. Setelah memposisikan diri, otak Indi lalu menyadari kalau pria di depannya adalah seorang cerebellum yang dapat membaca pikirannya. Seketika, ia merasa gugup.
Seolah membaca pikiran Indi, pria di depannya tersenyum kecil, “tenanglah, aku tak akan berlaku tidak sopan dengan membaca pikiranmu tanpa izin. Hal itu merupakan salah satu hukum dasar untuk seorang cerebellum,”
Kepulan asap mencuat dari minuman berwarna coklat. Arthur lalu mengisyaratkan tangannya kepada Indi untuk meminum minumannya. Indi mengangguk pelan, lalu dengan kikuk mengambil mug yang ada didepannya, lalu menyeruput teh yang sama sekali tidak manis.
“Aku minta maaf atas apa yang dilakukan oleh Jeannet. Sepertinya ia mengartikan secepatnya dengan langsung membawamu tepat ketika kau sadar. Diluar itu, perkenalkan aku Arthur. Wajahku mungkin tak asing lagi bagimu, karena sebelumnya kita sudah pernah bertemu, entah kau mengingatnya atau tidak,”
Indi masih mencoba untuk mencerna semua hal yang didengar dari pria ini. Namun Indi tahu dengan pasti kalau ia tidak akan pernah bisa akrab dengannya.
“Apa yang terjadi? Mengapa aku tak bisa mengingat semua yang terjadi beberapa minggu sebelum aku pingsan? Dan apa penyebabnya aku bisa pingsan selama itu?” rentetan pertanyaan Indi menyerang Arthur, yang sepertinya tidak membuatnya kaget.
Ekspresi Arthur melembut. Dari wajahnya, Indi tahu kalau ia menyusun ratusan kata rumit lain yang dapat membuat ia kesulitan untuk memahaminya. Arthur menghembuskan nafas berat.
“Aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Tapi menurutku, sekarang bukan waktu yang tepat untukmu mengetahui semuanya. Yang jelas saat ini, aku bersyukur karena kau sudah sadar, dan kau bisa menenangkan dirimu terlebih dahulu,” ucap Arthur lembut.
Indi mengernyitkan matanya diikuti kedua alisnya yang kini bertautan. Kini keputusannya bulat untuk tak menyukai pria yang ada di depannya.
“Aku bersikeras untuk mendengar semuanya! Apa yang sebenarnya terjadi?” ucap Indi lugas, kedua telapak tangannya menghantam meja Arthur.
“Aku berjanji akan mengatakannya. Tapi aku butuh waktu untuk hal itu. Begitu banyak hal yang terjadi, dan semuanya terjadi di luar dari kendali siapapun. Hal yang terpenting saat ini, aku senang kau baik-baik saja. Dan alangkah lebih baiknya agar kau membersihkan dirimu terlebih dahulu, dan pada saat jamuan malam nanti kau berkumpul bersama dengan yang lain. Aku yakin beberapa pertanyaanmu akan terjawab. Namun untuk saat ini aku harus mempersiapkan beberapa hal yang tak kalah pentingnya,” Arthur berdiri lalu berjalan menuju pintu tempat Indi masuk. Ia membukanya lalu menyiratkan senyum yang diartikan Indi segera keluar dari tempat ini.
__ADS_1
Indi masih ingin bertahan dan meminta penjelasan, namun seperti membaca pikirannya kursi tempatnya duduk bergerak tepat menuju depan Arthur lalu berhenti.
“Aku minta maaf untuk itu. Ini kursi pintar yang masih dalam tahap percobaan,” ucap Arthur dengan sedikit kikuk.
... ****...
Setelah mendapati kamar asramanya yang kini menyisakan puing-puing, mencoba mencari Jeannet ataupun Fanny di beberapa gedung, berkeliling untuk menemukan kamar mandi dan pakaian layak pakai, serta menghindari tatapan-tatapan aneh dari orang-orang yang ia temui, aktivitas mencoba mengingat di bangku taman terdekat dari tempat ia membersihkan diri diinterupsi oleh sosok lelaki berkacamata bundar, berpakaian kaos cream yang ditutupi oleh kemeja flanel kotak-kotak berwarna hijau tosca dengan celana cinno berwarna cokelat tua. Lelaki itu berperawakan kurus (namun tidak pada porsi kekurangan gizi), warna kulitnya sewarna kuning langsat. Rambut cokelatnya tertata rapih dan klimis dengan gaya belah pinggir. Kedua matanyalah yang menarik perhatian Indi. Lelaki itu memiliki bulu mata yang melentik dan tebal, dengan warna mata biru atau mungkin hijau, agak susah untuk mengatakannya untuk seorang gadis yang hanya menyukai palet warna ungu.
“Aku Juno. Senang bisa bertemu denganmu Indi,” ucap lelaki yang kini duduk bersebelahan dengan Indi.
Oke dia mungkin tampak tak semengerikan psikopat, tapi bagaiamana dia bisa tahu namaku. Aku tak mungkin seterkenal itu.
“Aku ketua asrama elementum yang bar-, untuk saat ini aku akan mendampingimu dari asrama elementum,” ucapnya sambil menyunggingkan senyum yang lebih menampilkan bintik-bintik coklat di kedua pipinya.
Indi mungkin tak mengenalnya. Tapi setidaknya ini kesempatannya untuk menumpahkan segala pertanyaan yang saat ini terus menerus terngiang di dalam kepalanya.
“Kalau memang seperti itu. Bisakah kau membantuku dengan memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini? Siapa Arthur? Dimana Ibuku? Aku sedari tadi tak dapat menjumpai Jeannet, Fanny, maupun Catherine. Dan kenapa aku kesusahan untuk mengingat?”
Raut Juno dengan cepat berubah dari kaget menuju tenang. Dari ekspresinya, Indi tahu kalau dia bukanlah tipe lelaki yang unggul dalam kelas drama maupun sandiwara.
“Apa yang terakhir kau ingat?”
Indi jelas ingin melayangkan kata-kata kasar saat ini juga, kalau sedari awal dia mengingat apa yang telah terjadi, tentu saja ia tak akan menanyakannya. Pada akhirnya ia tak sendiri dengan orang julukkan lambat loading. Indi menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kuat.
“Aku dalam perjalanan mencari Ibuku,”
jawab Indi dengan tatapan sinis yang membuat kedua matanya terlihat lebih sipit.
Indi dapat mengatakan kalau pupil kedua mata Juno membesar sepersekian detik, sebelum akhirnya kembali normal. Kepalanya lalu menolah ke kanan, kiri, depan, dan belakang. Seolah-olah ia sedang memastikan kalau di sekitarnya tak ada yang memperhatikan mereka. Ia lalu mencondongkan wajahnya hingga menyisahkan beberapa senti meter saja jarak antara wajah Indi.
“Ada hal yang tidak dapat ku katakan sekarang. Namun aku berjanji padamu, setelah makan malam nanti aku akan memberitahukan semuanya kepadamu. Yang perlu kau lakukan saat ini adalah mengikuti segala instruksiku agar mereka dapat mempercayaiku sepenuhnya-“
Indi mengacungkan satu tangannya hendak menginterupsi, namun seakan tahu akan diinterupsi Juno meletakkan kedua telapak tangannya pada pipi Indi.
“Aku tahu, aku tahu, aku adalah orang baru dan kau baru saja bertemu denganku dan aku terlihat sangat aneh. Tapi percayalah padaku. Aku juga masih susah untuk menerima sepenuhnya keadaan ini. Tapi aku ada di pihakmu. Dan kau harus percaya kepadaku,” ucap Juno dengan kedua matanya yang kini melotot tepat di depan mata sipit Indi.
“Apa kau mengerti?” tanya Juno tegas.
Kali ini Indi benar-benar tak dapat berkata apa-apa. Ia hanya menganggukan kepalanya pelan. Ia jelas tahu kalau Juno bukanlah tipe orang yang tepat untuk mencari suatu jawaban. Namun, entah bagaimana Indi dapat tahu dengan pasti kalau Juno adalah orang yang dapat dipercaya.
Juno lalu menarik wajahnya menjauh, berdiri, lalu mengenggam tangan Indi.
__ADS_1
“Ayo, saatnya aku melakukan tugasku sebagai pendampingmu. Karena seperti yang kau lihat UCI yang kau lihat saat ini agak sedikit berbeda. Aku akan membawamu ke tempat asrama kita yang baru, sebelum jam makan malam,”