Indi Go!

Indi Go!
Episode 37


__ADS_3

Indi mengeluarkan pisau potong daging yang dia ambil dari toko souvenir. Makhluk itu berputar lebih cepat dari yang dikira. Sebelum Indi hendak mengayunkan pisau iris ke moncongnya, makhluk itu membuka mulut, mengeluarkan bau belerang, dan menembakkan kolom api tepat ke arah Indi.


Ia pasti sudah terbakar jika Liona tak datang menolongnya. Dengan sigap gadis itu menembakan kolom api yang besarnya sama. Indi menghindar ke belakang. Ruangan itu memanas, panasnya begitu tinggi, sampai-sampai Indi merasakan kalau alisnya terbakar.


Di tempat Indi berdiri tadi kini tercipta lantai gua yang hangus, sambil mengepulkan asap. Oke, setidaknya hawa di gua itu tak lembab lagi.


“Hei Indi, pernahkah kau menonton film ataupun membaca novel selama di  dunia nyata! Tidak ada satupun kisah yang menceritakan bahwa seekor naga terbunuh oleh pisau daging dapur,” gerutu Fanny.


“Oke, nyonya tukang gerutu. Jadi apa rencanamu sekarang? Lari dan ditangkap?” balas Indi sarkas.


“Saat ini, aku punya satu. Tapi aku harus memperhitungkannya dengan baik agar rencana ini berjalan dengan lancar.”


Makhluk itu kembali menerjang. Kali ini Liona, sudah menciptakan sebuah tali dari apinya. Ia memutarkannya seperti seorang cowboy lalu melemparnya ke moncong naga.


Tali api itu mengikat moncong makhluk itu, membuatnya meronta dan hendak menyerang Liona dengan kaki depannya.


Dengan sigap, Fanny melempar belatinya ke kaki makhluk itu. Belati itu menancap di kaki unggas makhluk itu. Sepertinya tidak memberi pengaruh apapun. Makhluk itu kini kembali hendak menyerang Liona.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Indi panik.


“Diamlah, dan saksiskan.” Kata Fanny tenang.


Kaki makhluk itu sudah dekat dengan Liona, namun sesuatu menghilangkan keseimbangannya dan membuatnya terjatuh. Makhluk itu mengerang kesakitan. Sedangkan mulutnya masih diikat dengan lilitan api.

__ADS_1


Indi menatap Fanny yang kini tersenyum. “Apa yang kau lakukan?”


“Melempar pisau.” Jawabnya singkat.


Mereka berdua lalu mendekati makhluk itu. Makhluk itu mengeluarkan suara meringis. Ekor hewan itu lalu membelit pergelangan kaki Indi, dan mengangkatnya ke udara.


“Manet intra inclusumque cauo” kata Fanny merapalkan sesuatu, yang membuat makhluk itu melepaskan Indi.


“Liona, kau bisa melepaskan ikatanmu dari mulut naga itu.”


Liona menghilangkan apinya. Tampak bekas hangus lilitan api di moncong makhluk itu.


“Apa yang kalian lakukan padaku? Sakit sekali,” kata naga itu mengerang.


“Bagaiamana kau melakukan itu?” tanya Indi penasaran.


“Itu tak penting. Hal terpenting sekarang adalah, keluar dari tempat ini,”


Makhluk itu menatap Fanny dengan tatapan penuh kebencian. Tatapannya seolah-olah ia ingin membakar Fanny hidup-hidup, lalu dikunyahnya hingga tak bersisa.


“Kau penyihir! Kaulah bangsa manusia yang paling kubenci! Aku tak akan bisa diperbudak oleh kalian. Aku Vega Dracnia! Naga Perkasa-“


“Doll Viventem” kata Fanny lagi, menghentikan perkataan makhluk itu.

__ADS_1


Indi terkesima melihat Fanny. Ia benar-benar tampak berbeda saat ini. Sedangkan Jeannet, tampak menjauh dan bersembunyi dibalik Liona.


“Kemampuan tertinggi seorang spiritus. Soul Catcher.” Kata Liona.


“Sou apa?” tanya Indi tampak bodoh.


“Setiap kemampuan indigo memiliki level penggunaannya, dari yang paling rendah hingga paling tinggi. Contohnya, seorang Spiritus memiliki kemampuan dasar untuk melihat hantu maupun roh-roh yang bersinggungan dengan kematian. Namun, jika seorang spiritus dapat mengembangkan kemampuannya, level kekuatan dari penggunaannya pun akan meningkat. Sama seperti yang Fanny lakukan tadi,”


“Maksudmu menusuk pisau ke kaki naga?”


Liona menggeleng. “Tidak, tetapi dia memasang kutuk pada roh naga tersebut. Hal itu membuat Fanny memiliki kendali sepenuhnya atas tubuh naga itu.”


Indi masih terkesima, kemudian ia mengingat sesuatu yang menjengkelkannya.


“Lalu kenapa waktu di toko souvenir dan di bus kau tidak menggunakan kekuatanmu itu! Kau tau berapa kali aku hampir mati karena setiap kejadian itu!” protes Indi kesal.


Fanny tersenyum simpul, “Aku sengaja. Agar kau dapat lebih melatih kekuataanmu.”


Indi ingin kembali protes, namun dihentikan Liona.


“Baiklah, sekarang kita sudah memiliki kendaraan untuk ke negaramu dan mencari ibumu. Kita harus mengatur rencana.” Kata Liona.


“Negaraku?”

__ADS_1


***


__ADS_2