
“Harus kuakui, kau sangat ahli dalam bidang ini Noella. Aku begitu terkesan, dan tiga temanmu itu, kau mungkin tak harus terlalu memikirkan dua laki-laki bodoh itu, tapi Inggrit. Berhati-hatilah padanya, aku dapat merasakan aura pemberontak darinya,” ucap suara dari mulut boneka ventriloquist yang berkeletak itu.
Perhatian Indi terdistraksi saat mendengar nama ibunya disebut oleh boneka itu. Ia begitu penasaran dengan apa sebenarnya rencana dari pembicaraan yang barusan ia dengarkan. Apa kaitannya hal itu dengan ibunya. Lalu siapa dua lelaki bodoh yang dimaksudkan boneka itu. Walaupun di satu sisi Indi merasa sedikit legah karena ibunya tidak masuk dalam kategori bodoh yang sudah disebutkan boneka itu.
“Bagaimana kau bisa yakin dengan pernyataanmu barusan?” tanya Noella yang tampaknya tak bisa menerima apa yang baru saja diucapkan boneka kayu miliknya.
Wajah muda Noella yang kini dilihat Indi berbeda dengan kilasan-kilasan yang dilihat Indi sebelumnya. Yang ada di depan Indi saat ini adalah sosok Noella yang terlihat cantic, walaupun wajahnya masih saja ditutupi dengan riasan-riasan super gelap miliknya. Badannya pun terbentuk sempurna sama seperti bintang film yang sering ditonton Indi.
__ADS_1
Pakaian Noella masih sama dengan Noella yang Indi kenal. Jaket kulit hitam membalut tank top berwarna ungu gelap yang dipakainya. Celana kulit ketat membungkus kedua kaki jenjangnya. Pada kedua telinganya, Indi dapat menghitung dengan jelas enam tindik telinga hitam yang mengkilap.
Rambut bergelombangnya dipotong rapih sebahu, dan sepertinya sudah disetrika agar tampak lurus. Indi hampir melupakan salah satu tindik bulat yang melekat di hidungnya. Jika ia adalah seorang siswa SMA di sekolah Indi, sudah pasti ia akan dicap sebagai wanita tidak baik. Meskipun secara tidak langsung hal itu benar-benar mencerminkan dirinya. Untungnya meski berat untuk mengakuinya, namun benar adanya kalau Noella muda ini cantik.
“Karena akulah yang pertama menciptakan kata itu,” ucap boneka itu, namun Indi dapat merasakan aura kelam dari suaranya.
Pintu ruangan itu lalu terbuka. Indi tak begitu mengenal jelas ruangan itu. Tapi dari tembok dan suasana dalam ruangan itu, Indi tahu kalau itu adalah UCI. Seorang pria, yang tingginya mungkin sama seperti ayahnya. Ia mengenakan kaos hitam yang dibalut dengan kemeja bergaris yang tampaknya sengaja tak dikancingnya. Celana jeansnya menggantung tepat diatas lututnya.
__ADS_1
Tampang pria itu terlihat lembut untuk pria dengan postur tubuh atletisnya. Rambut pirangnya berwarna kalem, dan menurut Indi tidak simetris dengan wajahnya yang tampak sedikit ke Asia-Asia-an. Untungnya matanya jelas menunjukan kontradiksi dengan pemikiran Indi. Warna matanya biru kehijau-hijauan, mengingatkan Indi pada lautan jernih yang pernah dikunjunginya bersama Ayahnya.
Raut pria itu jelas terlihat begitu gelisah. Ia terlihat seperti baru saja kesalahan terbesar dalam hidupnya. Indi bahkan benci untuk mengatakan apa yang dilihatnya, namun ia tidak punya pilihan lain. Pria itu terlihat gemetar, yang sangat tidak cocok dengan perwakan serta postur tubuhnya. Indi membenci melihat tipe pria idealnya terlihat lemah.
“Apa yang sebenarnya rencanamu? Kenapa sejak awal kau tak katakana padaku kalau rencanamu merupakan bagian dari pembunuhan! Ini sudah diluar dari apa yang kita rencanakan! Kau. Kau seorang PEMBUNUH!” tutur lelaki itu.
__ADS_1