
Setelah beberapa potong roti dan buah. Mereka memutuskan untuk meneruskan perjalanan menuju air terjun. Semuanya tampak baik-baik saja. Bahkan sepanjang perjalanan mereka, orang-orang yang dikhawatirkan untuk muncul tak pernah datang. Bukannya bahagia, Indi malah khawatir dengan perjalanan mereka yang terlalu normal menurutnya.
“Apa jaraknya masih jauh?” keluh Fanny.
“Kalau menurut instruksi yang dikatakan para peri, kita sudah dekat dengan air terjun yang dimaksud.” Jawab Liona.
“Jangan bilang kalau air terjun itu hanya bualan mereka?” masih keluh Fanny.
“Shhtt…” Indi menyela semua keluhan mereka dengan isyarat tangan.
“Aku mendengarnya, suara air. Kita sudah dekat!” kata Indi lalu mulai berlari.
Pernyataan Indi membuat Liona, Fanny, dan Jeannet saling bertukar pandang. “Hei Indi,Sedari tadi, bahkan semilir angin tak ada suaranya.Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan bahwa jarak air terjun itu sudah dekat?” protes Fanny mengejarnya.
Ketiga gadis itu terus berlari berusaha menyusul Indi. Setelah beberapa meter, Indi berhenti tepat di sebuah ladang rumput dibalik hutan. Di balik rerumputan, sebuah batu besar menjulang di tengah-tengah ladang. Dan, sama sekali tidak ada setetes air. Fanny hendak memprotes namun Indi menghentikannya, dengan mulai berlari menuju batu itu.
__ADS_1
“Sepertinya kepala gadis itu sudah terbentur,” kata Fanny.
“Kau salah. Dari awal dia memang gadis yang bodoh.” Celetuk Jeannet.
“Kita sudah disini teman\-teman!” teriak Indi dengan suara keras dari depan batu.
“Apa kau gila? Tidak ada apa\-apa disini!” kata Fanny yang juga berteriak.
Indi menggeleng, “Tidak! Para peri itu benar. Ah! Aku lupa, kalian harus memakan tanaman yang diberikan dari mereka untuk bisa melihatnya,” sahut Indi.
Fanny menghela nafas. Tidak ada jalan lain batinnya. Ia mengambil sehelai daun dari tumbuhan yang tampak seperti mint. Daun tumbuhan itu saat ini sudah berada di mulutnya. Rasa mual menjalar di kerongkongannya. Sedetik kemudian, matanya seperti terbuka.
Di depan matanya padang rumput yang dilihatnya tak ada lagi disana. Sebuah air terjun setinggi dua meter jatuh di sebuah kolam besar. Tak ada lagi padang rumput, yang ada hanyalah hamparan bunga-bunga hias yang mengelilingi kolam itu.
Suara gemericik air dan bau khas dari air terjun benar-benar bisa menghipnotis siapa saja yang melihatnya. Fanny mencubit dirinya. Mungkin saja dia sedang berhalusinasi atau dibawah pengaruh narkoba. Sakit. Ini nyata.
“Tak usah takut. Kita berada di dimensi lain dari dunia kita. Sama seperti UCI,” kata Liona, mengejutkan Fanny.
__ADS_1
“Bukankah dimensi lain, bisa dengan mudah dimasukki oleh anak\-anak Indigo? Lalu kenapa yang ini membutuhkan tumbuhan dari para peri itu?”
Liona tertawa kecil, “Tampaknya bukan hanya Indi yang tak mengetahui sejarah,” ledek Liona, yang membuat pipi Fanny memerah.
“Ada beberapa dimensi di dunia ini. Tapi manusia biasa hanya bisa melihat dimensi normal. Sama seperti hutan, yang kita lewati tadi. Namun ada beberapa dimensi yang bisa dilihat oleh kita, para indigo. Contohnya adalah dimensi roh, tempat UCI berdiri. Sebenarnya hanya para indigo dengan kemampuan spiritus yang bisa memasuki dimensi roh, tapi UCI tampaknya sudah diatur agar indigo lain dapat melihatnya. Dan ada dimensi yang kusebut sebagai dimensi mitologi. Sama seperti yang kau lihat sekarang. Biasanya para naturae dapat dengan mudah mengakses ataupun masuk ke dimensi mitologi, karena mereka memiliki hubungan yang lebih erat dengan alam. Karena itu, kau, aku, maupun Jeannet, sebelumnya tak bisa melihat apa yang dilihat Indi, karena dia termasuk Indigo naturae,” jelas Liona panjang lebar.
Fanny menautkan alisnya, “Bagaimana bisa kau mengetahui semua itu? “
Liona mengangkat kedua bahunya, “Pengalaman, dan buku. Lupakan, yang jelas focus kita sekarang ini adalah mencari mahkluk yang bernama Vega, yang bisa membantu kita untuk mencari ibu Indi.” Kata Liona, kemudian bergabung dengan Indi dan Jeannet yang saling bermain air.
Fanny berdehem, “Sepertinya main airnya sudah cukup. Kita harus segera mencari Vega, lalu pergi dari sini,” jelas Fanny.
“Oh ayolah, kita masih punya banyak waktu. Tak ada yang mengejar\-ngejar kita. Ayo main air dulu. Air disini jernih sekali,” rengek Jeannet, sambil menciprat\-cipratkan air ke wajahnya.
“Teman\-teman, ingat tujuan awal kita. Pertama, kita harus menemukan ibu Indi, untuk mencari jawaban tentang apa yang sebenarnya akan terjadi. Kedua, jika kita tidak segera pergi, entah itu dari UCI atau The Sanctus akan datang untuk mengejar kita! Dan sekedar mengingatkan, kalau sekarang ini kita adalah orang yang mereka cari. Kita buronan!” ucap Fanny meledak\-ledak.
“Tenanglah. Kita tak akan pernah melupakan tujuan utama kita. Tapi, ayolah Fanny, kita tidak akan dua kali menginjakkan kaki di tempat seindah ini di dunia,” kata Indi, yang menyentuh pundak Fanny.
__ADS_1
Fanny yang wajahnya memerah, mulai melembut. Ia menghela nafas panjang. “Baiklah, selama kita bisa stay disini, tapi hanya selama tiga puluh menit, oke.”
“Oke!” jawab yang lainnya kompak.