
CHAPTER 16
Hal Yang Berharga
Bunyi raungan bergema di atas Indi. Beberapa anak naturae tampaknya menyadari kehadiran mahkluk itu, dan membeku karena ngeri. Indi melemparkan tatapan tak percaya pada Liona.
“Suara raungan itu, aku mengingatnya. Bagaimana mungkin?"
Liona tampak tahu apa yang dipikirkan Indi. Selama perjalanan mereka, mahkluk itulah yang menjadi “kendaraan” mereka, hadiah dari para peri. Mahkluk mitologi yang hampir selalu ada di setiap mitologi negara-negara di dunia. Seekor naga.
Seekor naga, yang membawa Indi melintasi pulau dan benua. Mahkluk itu terbang membumbung di atas lubang yang tercipta. Setiap kepakan sayapnya mampu menghasilkan angin yang menghambur rambut Indi.
“Vega!” pekik Indi.
“Lepaskan Indi!” teriak Liona pada Vega.
Indi tidak mengerti bagaimana mahkluk itu bisa sampai ke UCI. Seingatnya, Vega ditinggalkannya di bukit di kota tempat tinggalnya. Vega terbang menukik ke arah Indi.
Sayap hitamnya seperti sayap gagak, yang serasi dengan kulitnya. Vega kini berada dekat dengan Indi. Saat ini Indi sudah hampir sepenuhnya menjadi batu. Vega menjejalkan ekornya ke dalam lubang, lalu melingkarkannya di salah satu lengan Indi.
“Jangan bilang?\-“
Vega lalu kembali terbang membumbung, yang membuat Indi terbebas dari kutukan batu itu. Liona dengan sigap mengarahkan kedua tangannya pada boneka yang juga ikut terangkat, lalu menyemburkan kobaran api yang begitu panas. Kepulan asap tertinggal dari boneka yang kini menyisahkan tangan, yang masih menggengam kedua kaki Indi.
“Api yang sempurna Liona!” puji Indi, yang masih melayang beberapa meter di atas tanah, “Tapi, bisakah kau menyuruh Vega agar segera menurunkanku? Tanganku mulai merasakan kesemutan.” Keluh Indi.
Mendengar hal itu membuat Liona terkekeh. Ia kembali meniup peluit perak itu. Kali ini dengan bunyi yang sedikit panjang. Vega kemudian, meletakkan Indi ke atas punggungnya, mengambil Liona dari dalam lubang, dan juga meletakkannya di atas punggungnya.
__ADS_1
“Bagaimana bisa, Vega ada pada kalian? Dan sebenarnya peluit apa yang kau gunakan tadi?” tanya Indi, yang tampaknya telah melupakan kalau sedikit lagi ia akan menjadi sama seperti cerita dongeng di negaranya.
“Aku akan menjelaskannya nanti. Saat ini ada hal yang harus kau selesaikan. Vega akan mengantarmu pada Fanny, jangan lupa untuk membawa Catherine bersama\-sama denganmu,” jelas Liona.
“Bagaimana denganmu?”
“Aku harus membantu ibumu dan yang lainnya.” Kata Liona, rautnya tampak serius.
Melihat itu membuat Indi mengangguk, “Tolong jaga Mamaku, aku tak ingin kehilangannya, lagi,” kata Indi sedikit murung.
Liona tersenyum, “Percayalah padaku,” Liona tersenyum, lalu melompat turun dari atas Vega. Ia meniup peluitnya, dan Vega mulai mengepakkan kedua sayapnya. Dari atas, Indi bisa melihat Liona yang berlari ke arah ibunya.
***
Dari ketinggian, UCI tampak seperti bagian zona perang. Indi berhasil menjemput Catherine, tidak lebih tepatnya membiarkan Vega yang sepertinya sudah disetel untuk terbang secara otomatis untuk menjemput Catherine, yang bersembunyi di balik reruntuhan. Ia sepertinya ahli dalam hal penyamaran. Pertama kali melihatnya Indi mengira kalau ia sudah mati.
Vega terbang dengan ketinggian, yang sepertinya susah dijangkau oleh pandangan manusia. Meskipun begitu, entah darimana, Indi dapat melihat kericuhan yang terjadi di bawah mereka. Di depan gedung\-gedung asrama, anak\-anak spiritus tampak telah kalah telak. Di taman labirin dekat dengan danau, beberapa boneka ventroquist mengalahkan beberapa orang bertopeng. Beberapa anak UCI beradu pedang dengan salah satu pengguna topeng, tepat di wilayah perkebunan.
__ADS_1
Melihat semua hal itu jelas begitu menyakiti hatinya. Ia dapat merasakan emosi semua orang yang dilihatnya. Kesedihan, kemarahan, dan penyesalan. Vega membawa mereka terbang cepat ke arah gunug. Indi jelas tidak paham dengan arah yang dituju oleh Vega. Selama berada di UCI, Indi tidak pernah menginjakkan kaki di daerah gunung yang mengelilingi dataran UCI. Ia bahkan tidak pernah tahu apa yang ada disana.
Semakin mendekati gunung, semakin Indi merasakan aura yang begitu gelap. Di kejauhan ia melihat ratusan hantu yang selama ini berada di UCI, tampak bergerombolan di kaki gunung. Melihat ratusan hantu membuatnya merinding. Ia tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi kalau\-kalau mereka masuk ke tubuhnya. Detik berikutnya Vega menukik dengan cepat ke arah kaki gunung.
“Apa yang terjadi?” kata Indi panik.
“Indi, kita harus melompat!” seru Catherine.
“Apa kau gila?” sahut Indi.
“Hantu\-hantu itu adalah jebakan untuk kita! Kita tak akan bisa mengalahkan mahkluk ini saat ia dirasuki ratusan hantu!”
“Apa?” teriak Indi tak mengerti.
__ADS_1
“Tidak ada waktu menjelaskannya secara teori! Dalam hitungan ketiga kita akan melompat, satu\- tiga!”
***