
“Aku mungkin akan menambah lagi salah satu bagian dari kesalahanku, namun dengarlah Indi, aku melakukan ini karena aku menyayangimu. Dan suatu hari kau akan menemukan jawaban atas apa yang akan kulakukan saat ini. Maafkan aku karena aku tak dapat berlama-lama lagi. Teman-temanmu membutuhkanmu, Indi,” kata Inggrit yang perlahan kini melepaskan genggaman kedua tangannya dari Indi.
Indi masih terlelap dalam kesedihan serta emosinya yang begitu meledak-ledak. Sepatah katapun tak dapat ia tuturkan dari bibirnya. Padahal, apa yang menjadi tujuan dari pencarian perjalanan yang telah ia lakukan ratusan juta kilometer hanya untuk mencari Ibu yang selama ini telah menghabiskan lima belas tahun bersama, karena sebelumnya ia dibohongi karena Ibunya telah mati. Ia beberapa kali hampir mati dalam perjalanan, dan juga beberapa kali berpikiran untuk menyudahi kehidupannya sendiri.
Hanya untuk bertemu dengan Ibunya, dalam mantera jebakan yang dibuatnya sendiri, dengan pengetahuan yang minim tentang bagaimana bisa keluar dari tempatnya berada. Sekarang secara ajaib ibunya muncul dan hanya dating memberi tahu kalau ia akan tahu jawabannya nanti. Terlalu banyak yang masih belum dapat dicerna di dalam benak Indi.
“Tidak ada waktu lagi Indi. Sebentar lagi kau dapat keluar dari tempat ini. Dan ramalan itu tak akan gagal,”
Perlahan ruangan serba putih itu mulai memudar. Menghilangkan semua aura keheningan yang sedari tadi menyelimuti Indi dan Inggrit. Dari balik dinding-dinding ruangan yang mengabur, di sanalah Noella berdiri. Raut wajahnya jelas sangat amat diliputi dengan amarah yang setiap detiknya dapat meledak berkali-kali.
“Lama tak berjumpa sahabat lama!” seru Inggrit sambil melempar senyuman berlesung pipitnya.
“Aku sudah menduga kalau kaulah dalang di balik ruangan putih yang secara tiba-tiba muncul di depanku,” kata Noella, dengan nada yang sepertinya ditahan sedemikian rupa agar tak terdengar seperti mengeram ataupun menggonggong.
“Hanya kau seorang yang dapat melakukan hal seperti ini,” sambung Noella.
Inggrit kembali menyunggingkan senyum sinisnya, “Aku takjub dengan ingatanmu yang ternyata masih cukup baik. Kau juga tentunya paham kalau saat ini kau seharusnya khawatir dengan hal apa yang dapat kulakukan berikutnya,” ancam Inggrit.
__ADS_1
Noella menggertakkan giginya. Ia jelas merasa terancam oleh perkataan Inggrit. Ia tahu jelas dengan kapabilitas dari seorang Inggrit. Dan ia tak bisa meremehkan Inggrit untuk tolak ukur seorang lawan.
“Indi dengarkan aku, setelah ini semua yang akan kau alami tak lagi sama. Aku tak dapat berbohong, yang kau alami mungkin akan lebih berat dari perjalanan yang telah kau lakukan, tapi kau harus percaya pada dirimu. Sama seperti aku percaya padamu. Dan dengarlah, ini bukanlah perpisahan. Karena aku akan selalu ada di sisimu,” ucap Inggrit, dengan kedua matanya yang kini berair.
Indi masih berdiam tanpa emosi. Ia jelas masih belum bisa menerima secara penuh hal-hal yang baru saja terjadi, begitupun dengan perkataan ibunya.
Ruangan putih itu kini telah memudar sepenuhnya. Kini Indi kembali berada di tempat yang penuh dengan hamparan warna hitam, bersama ibunya dan Noella.
“Tak akan kubiarkan kau menghalangiku lagi Inggrit. Tidak saat aku sudah 99% berhasil,” sahut Noella, dan mulai berlari ke arah Inggrit.
Di depan Indi, Inggrit menutup kedua matanya. Mulutnya mengucapkan sesuatu yang tak dapat di dengar Indi. Sedang di depan Inggrit, tangan Noella beberapa langkah lagi akan segera menyentuh Inggrit. Dari depannya, Inggrit memalingkan kepalanya pada Indi, lalu tersenyum.
“Aku menyayangimu Indi,” ucapnya lembut.
***
Indi merasakan titik-titik air yang jatuh di atas pipinya. Bola matanya berputar pada kelopak matanya yang masih tertutup. Indi masih mencoba untuk menyesuaikan pendengaran, dan juga penglihatannya. Kepalanya terasa begitu berat, bahkan untuk membuka kedua matanya. Indi Indi, ucap banyak suara yang tak asing di telinga Indi.
Perlahan kelopak mata Indi mulai terbuka. Bola matanya tampak masih mencoba untuk menyesuaikan, cahaya yang secara tiba-tiba menyergap masuk pada penglihatannya. Buram. Ia berkedip beberapa kali untuk mencoba menyesuaikan pandangannya dengan intensitas cahaya yang dilihatnya.
Di depannya bayang-bayang dilihatnya samar kini tampak jelas. Wajah seorang perempuan berambut coklat sebahu, yang dihiasi begitu banyak luka. Mata perempuan itu sembap karena air mata. Melihat mata Indi yang sudah terbuka membuat senyum haru menghiasi wajah perempuan itu. Ia lalu membantu Indi untuk duduk, lalu dengan cepat memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Kepala Indi masih terlalu pusing untuk dapat mencerna semua yang dilihat maupun dirasakannya. Dari balik pelukan perempuan itu, Indi dapat melihat beberapa orang yang berdiri di belakang mereka. Semu orang itu jelas tampak kelelahan, beberapa dari mereka dihiasi luka maupun lebam, seperti baru saja kembali dari medan perang. Beberapa orang tampaknya terlalu lelah untuk berdiri, dan yang lainnya terbaring lemah di atas tanah. Indi mencoba dengan keras untuk mengingat kenapa dia bisa ada di tempat ini.
“Apa yang terjadi?” Indi berhasil mengeluarkan kata-kata dari kepalanya, walau suaranya masih terdengar parau.
Perlahan pelukan dari perempuan yang ada di depannya merenggang. Indi tak dapat menjelasakannya, tetapi ia dapat merasakan kesedihan dan kekecewaan mendalam dari perempuan ini. Perempuan itu lalu menatap Indi ternanar. Ia lalu menyimpulkan senyuman yang bahkan orang tanpa kemampuan khusus tahu kalu ia memaksa senyuman itu.
“Semua baik-baik saja,” bisiknya pelan.
Perlahan Indi mulai mengenali dengan baik siapa perempuan yang ada di depannya.
“Fanny?” tutur Indi serak.
Perempuan yang ada di depannya mengangguk pelan. Secara samar kilasan-kilasan ingatan mencuat dalam kepala Indi. Indi perlahan mengarahkan pandangannya ke sekitar tempat itu. Mentari pagi jelas terlihat baru saja terbit, dan menjatuhkan ratusan cahaya ke area hutan pinus itu. Tepat beberapa meter di sampingnya, Indi melihatnya tergeletak kaku. Detik berikutnya, kilasan-kilasan kejadian meledak dalam kepala Indi. Ia kini telah mengingatnya dengan jelas. Masih dengan kondisinya yang tak baik, Indi memaksa tubuhnya untuk berdiri. Hal itu membuat Fanny dengan sigap membantunya. Dengan tertatih Indi berjalan ke arahnya.
Fanny menahan Indi, untuk tak berjalan ke sana, namun Fanny sendiri tidak memiliki cukup tenaga untuk melakukannya. Begitu juga dengan orang-orang di sekitar situ. Ada begitu banyak luapan emosi kesedihan dan kekecewaan yang Indi rasakan.
Tepat beberapa langkah mendekati wanita itu, tubuh Indi ambruk ke tanah, yang membuatnya terjatuh tepat di samping wanita yang dilihatnya. Wanita yang berbalut dengan pakaian serba putih. Wanita yang raut wajahnya berbagi banyak kesamaan dengan Indi. Indi tak dapat merasakannya. Ia tak dapat merasakan aura dari ibunya.
“Mama,” ucap Indi.
Ia mendekatkan tangannya pada wajah Inggrit. Tidak ada. Indi tak dapat merasakan hembusan nafas dari Inggrit. Ia menguatkan dirinya untuk bangun, dan meletakkan telinganya di atas dada Ibunya. Tidak ada. Tak ada detak yang dapat didengar Indi.
__ADS_1
Detik berikutnya semua emosi yang Indi rasakan, dari dalam maupun luar dirinya lalu pecah dalam tangisnya.
***