Indi Go!

Indi Go!
Episode 32


__ADS_3

“Tunggu, apa yang dilihat ibuku? Dan kenapa hanya ibuku yang diincar? Bukankah setiap anak Indigo dengan kemampuan tempus juga dapat melihat masa lalu dan masa depan? Kenapa harus ibuku yang tetap dikejar-kejar? Dan, bagaimana kau bisa mengetahui semua hal itu? Lalu apa kaitannya ibuku dengan The Sanctus?”


“Sepertinya kau tidak benar\-benar memperhatikan setiap pembelajaran yang ada di UCI. Indigo dengan kemampuan tempus memang bisa melihat masa lalu dan masa depan. Namun, tidak semua yang mereka lihat itu sama. Bahkan hanya sedikit anak\-anak tempus yang bisa membaca kedua\-duanya. Beberapa anak tempus bahkan terkadang tak sadar, kalau mereka sudah melihat sesuatu. Ibumu adalah indigo yang dikaruniai sesuatu yang lebih besar pada kemampuannya. Ia dapat melihat masa depan dan masa lalu sesuatu hanya dengan menyentuh, maupun melihatnya,”


Fanny menatap langit malam, tampak tak ingin beradu pandang dengan Indi. “Apa yang dilihat ibumu erat kaitannya dengan The Sanctus. Sesuatu yang besar akan terjadi diantara keduanya. Dan aku tak pernah tahu apa itu. Menurut Catherine, hanya dua orang yang tahu apa yang akan terjadi. Ibumu dan juga Jeannet. Aku akan memberitahumu lebih lanjut tentang, darimana aku mengetahui semua ini, tapi-“ Fanny menguap, “aku terlalu lelah dan mengantuk. Akan kuceritakan padamu besok dalam perjalanan kita.” Kata Fanny lalu mulai meringkuk dan tertidur.


Indi ingin memprotes, namun mengingat semua kejadian hari ini membuatnya berpaling. Indi memikirkan semua yang dikatakan Fanny. Ia lalu teringat dengan apa yang dikatakan monster souvenir itu. “Kau akan terus menjadi buronan Indi. Terus begitu hingga salah satu dari mereka mendapatkanmu”.


Ia juga kepikiran dengan Jeannet. Hantu kecil itu sudah terlalu lama meninggalkan mereka. Ia sedikit khawatir. Tapi Indi percaya hantu cilik itu dapat menemukan jalan kembali pada mereka. Sama seperti kebiasaannya di UCI. Tapi apa kaitannya Jeannet dan penglihatan ibunya?


Semua pemikiran itu membuat Indi lelah, dan begitu mengantuk. Ia kemudian mulai berbaring. Malam itu langit malam penuh dengan bintang. Kemilau bintang malam itu, hampir mirip dengan kelap-kelip cahaya peri.


Setelah beberapa menit, Indi tertidur. Dalam mimpinya, ia kembali berada di dalam penjara. Gadis yang sama berada di ruangan itu. Tangannya masih di rantai, begitu pula kakinya. Tampangnya tampak begitu kelelahan.


Ruangan itu begitu sempit dan pengap. Namun, entah mengapa aura dari tempat itu begitu familiar dengan Indi. Dari balik jeruji seorang gadis dengan jubbah hitam mendekat.


“Apa kau sudah kembali memikirkannya?” kata gadis di balik jeruji.



“Kau tak perlu memalsukan semua perhatianmu untukku. Dari awal kau memang tidak pernah setuju dengan rencanaku! Yang kau pikirkan hanyalah dirimu sendiri.” Jawab gadis yang dirantai, lalu meludah.



“Aku tak pernah egois! Aku kembali kesini karena aku mengkhawatirkanmu! Sejak awal jika kau mengikuti rencana, semuanya tidak akan menjadi seperti ini! Sebentar lagi orang yang kau harapkan akan semakin dekat dengan pengejaran kita! Dan kau tau kalau perseteruan itu tak akan terelakkan. Hanya ini kesempatan kita untuk bisa selamat\-”


Indi tak dapat melihat dengan jelas wajah gadis itu, tapi dibalik jubahnya. Tampaknya air mukanya melembut, tampak ragu untuk melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


“Aku peduli denganmu, aku tak ingin semua ini terjadi. Aku mau kita keluar dari sini dan bersama\-sama terhindar dari apa yang akan datang.”



“Aku juga, tapi tidak dengan mengorbankan orang lain.”


Indi tak tahu bagaimana caranya, tapi rasanya ia dapat merasakan perasaan gadis berjubah itu. Kesedihan dan kekecewaan.


“Kau dapat pergi kalau memang tak ada lagi yang ingin kau sampaikan.”


Sesuatu lalu mengguncang Indi. Matanya terbuka mendadak. Cahaya mentari jatuh tepat di wajahnya.


“Tampaknya seseorang benar\-benar menjaga kita semalam.” Kata Fanny sambil tertawa kecil.


Masih teringat dengan jelas mimpi yang dialaminya. Mungkin hanya perasaannya tapi sepertinya mimpi itu tampak menunjukkan sesuatu. Ia ingin menceritakan apa yang ia alami pada kedua temannya, tapi kelihatannya mereka tak akan percaya dengan mimpi absurdnya.


“Maaf, kami terpaksa membangunkanmu, karena sepertinya hanya kau yang dapat melihat dan berkomunikasi dengan para peri itu sebelum kita berangkat kembali.” Kata Liona yang tengah menyusun roti lapisnya.




Indi berdiri. Ia melihat sekeliling. Satu peri lalu datang mendekatinya. Ia tampak tersenyum dan mengatakan sesuatu. Yang entah bagaiamana dipahami Indi, kurang lebih seperti ini,


“Hai, kami ingin berterima kasih padamu dan teman-temanmu. Sudah lama sekali ada manusia yang dapat melihat kaum kami. Dan bahkan rela menolong kami meskipun baru pertama bertemu,” yang mungkin akan di dengar orang biasa seperti suara dengungan capung.


“Kalau tidak ada kalian, kaum kami di hutan ini mungkin akan musnah karena troll jelek itu. Oh iya, kami tak sengaja mendengar kalau kalian ingin menuju ke suatu negara, dan kalian tidak memiliki uang, karena itu kami ingin membantu kalian,” jelas peri mungil itu. \(Oh iya, kalau kalian pernah menonton film Maleficent, penampilan peri yang dilihat Indi hampir sama dengan yang ditampilkan, hanya saja sayap mereka terlihat seperti serangga ketimbang bunga\).

__ADS_1



“Terima kasih, tapi bagiamana kalian bisa membantu kami?” tanya Indi.


Peri mungil itu lalu tersenyum, “Tenang saja, kami sudah memikirkan hal itu. Jika kalian bersedia, kami memiliki kenalan di balik air terjun di ujung hutan ini. Namanya Vega. Ia dapat membantu kalian untuk pergi ke tempat manapun yang kalian inginkan. Selain itu kalian tidak harus membayarnya. Ia adalah makhluk yang baik dengan manusia.”


Indi ingin langsung percaya dengan apa yang dikatakan peri di depannya, hanya saja mengingat kejadian malam kemarin, membuatnya susah untuk percaya dengan makhluk semi serangga itu.


“Bagaimana?” tanya peri itu.


Tak memiliki pilihan lain Indi mengangguk sambil tersenyum. Ia berharap agar teman-temannya bisa setuju dengan hal ini.


Indi menjelaskan apa yang dikatakan oleh peri itu pada teman-temannya. Tampaknya dari reaksi mereka, jelas bahwa mereka ragu dengan apa yang disampaikan Indi.


“Indi kau ingatkan kejadian malam kemarin? Hanya kau yang bisa melihat makhluk\-mahkluk alam itu. Bagaiamana jika itu terjadi?” tanya Fanny, diikuti anggukan Liona, tanda sepakat.



“Kita tak memiliki pilihan lain kan, lagipula kemarin malam aku belum memahami bahasa para peri, dan kali ini aku benar\-benar bisa memahami mereka. Kita harus percaya pada mereka.” Jelas Indi.


Tampak peri yang terbang disampingnya mengangguk setuju, “Oh ya, katakan pada teman-temanmu bahwa mereka tak perlu khawatir, kami sudah menyiapkan beberapa tumbuhan ajaib yang bisa membantu mereka, melihat makhluk alam. Tapi mereka harus memakannya sedikit saja, agar efeknya tahan lama. Dan tumbuhan itu memiliki efek samping jika dikonsumsi terlalu banyak.” Jelas peri itu pada Indi, lengkap dengan terjemahan dari Indi.


Liona dan Fanny saling bertukar pandang. Tampak begitu ragu.


“Ayolah, setidaknya kita tidak naik bus lagi kan?” kata Indi memohon.


__ADS_1


“Baiklah. Tapi kita harus berangkat sekarang, karena kita harus pergi ke air terjun itu.” Kata Fanny.


***


__ADS_2