Indi Go!

Indi Go!
Episode 71


__ADS_3

                                ***


Indi masih tak percaya kalau ia pernah memiliki ketertarikan pada lelaki itu. Ia paham betul kalau ketertarikan itu bukanlah hanya sekedar permainan emosi. Ia benar-benar memiliki rasa simpati yang lebih padanya.


Pikirnya, ia sedikit paham dengan apa yang pernah ia rasakan. Walau ia tahu, kalau lelaki itu bukanlah orang yang baik. Namun kali ini, Indi telah membulatkan tekadnya. Ia tak  bisa memaafkaan orang yang telah bertanggung jawab atas kejadian barusan.


“Indi, apa kau baik\-baik saja?” Tanya Catherine sedikit khawatir, melihat raut Indi.


Indi menunduk, tampak benar ingin mengalihkan ekspresinya, dari pandangan Catherine. Ia benar-benar ingin mengucapkan kalau ia baik-baik saja, tapi tak bisa. Batinnya seakan memberontak dengan keputusan yang akan diambilnya.


Ingatannya terbawa pada beberapa kejadian masa lalu. Ia ingat dengan senyuman lelaki itu. Ia ingat kala lelaki itu, duduk di sampingnya, dan memberikannya sebotol air.


Dia adalah satu dari banyaknya Indigo yang memiliki banyak kesedihan dalam kehidupannya.


Perkataan Jeannet tentangnya, terngiang jelas di kepalanya.


Hati kecilnya benar-benar ingin menolong lelaki itu. Menolongnya untuk menghapuskan semua kesedihannya di masa lalu. Ia benar-benar peduli tentang lelaki itu. Sebuah sentuhan menyadarkan Indi dari segala pemikirannya.


Di depannya, Catherine kini menatapnya dengan khawatir. Kedua tangannya lalu membelai pipi Indi lembut. Senyum manis terhias pada wajah cokelat berbintiknya.


“Jangan menyakiti dirimu sendiri. Ini semua bukan hanya tentang kau,” katanya lembut.


Indi menatap Catherine lekat. Ingin rasanya ia membalas simpul senyum terbaik Catherine. Namun ia tak bisa, walau sudah dipaksanya.


“Kau tahu, kau tidak perlu melanjutkan perjalanan ini. Aku akan menemukan Fanny. Kau dapat beristirahat disini,” saran Catherine.

__ADS_1


Indi merasakan titik-titik bening yang mulai berlinang di matanya. Dasar bodoh! Kenapa juga aku harus tenggelam pada perasaan ini sekarang! Aku sudah berhasil memendamnya selama ini, batin Indi.


Indi menggeleng, “Aku ikut bersamamu. Aku baik-baik saja,” Indi sadar betul kalau ia telah membohongi Catherine dengan mengatakan itu, tapi ia sudah memutuskannya, dan kali ini ia tak boleh ragu.


Kedua gadis itu berjalan beberapa kilometer, menyusuri hamparan pohon pinus, yang entah bagaimana dapat tumbuh begitu menjulang tinggi. Tinggi yang dimaksudkan disini adalah tinggi yang melebihi kapasitas tinggi pohon pinus normal.


Di lihat dari berdirinya matahari di kaki langit, membuat Indi sadar, kalau tak lama lagi langit gelap akan muncul. Indi tidak pernah tahu, apa kemungkinan terburuk yang dapat terjadi ketika berada di hutan pinus saat malam. Namun pengalaman terakhirnya di hutan, jelas membuatnya tak ingin berlama-lama untuk menetap.


Indi mendengar lolongan anjing. Hal itu jelas membuat bulu kuduknya berdiri. Ia memikirkan ibunya, dan Liona yang mereka tinggal di UCI. Apa mereka baik-baik saja? Pikir Indi khawatir. Pikirannya sedari tadi tak berhenti berkelana, sementara emosinya masih mencoba untuk meronta. Suara denting belati lalu bergema di dekatnya. Percikan bunga api terlihat dari belati Catherine yang kini beradu dengan bilah pedang perunggu.


Di balik semburat cahaya jingga yang terjatuh diantara pepohonan, Indi bisa melihat siluet wajah seseorang.


“Aku senang bisa melihatmu lagi Indi,” ucap suara itu.


Perlahan sumber suara itu melangkah mendekati mereka.


Kini Indi dapat melihat wajahnya dengan jelas. Kilau matanya masih sama seperti yang diingat Indi. Begitu pula dengan lesung pipi, yang menghias senyumnya. Ia mengenakan, kaos turtle neck berwarna hitam, dengan celana panjang berwarna cokelat. Rambutnya mulai panjang, dari ingatan Indi terakhir. Di tangan kanan bilah pedangnya berkilau dibawah cahaya.


“Sudah kuduga kalau kau akan melakukan hal ini. Pikiranmu memang terlalu dangkal Catherine. Meski harus kuakui kehebatanmu karena berhasil mengalahkan Lisa, dan perangkapku,” senyumnya masih sama, namun aura yang dipancarkan Rico saat ini benar\-benar berbeda. Indi bisa merasakan pekat yang mengelilingi Rico.



Catherine berdiri siaga. Kedua tangannya kini menggengam belati. Tatapannya begitu waspada terhadap apa yang dilihatnya.


__ADS_1


“Kau sudah tahu tentang ramalan itu, tetapi kau masih saja bertahan pada apa yang sifatnya sementara,” kata Catherine. Indi dapat merasakan tekanan pada setiap kata yang diucapkan Catherine, walau ia masih tak mengerti dengan apa maksdunya.


Rico tersenyum ketus. Sorot matanya kini berubah. Begitu pula dengan auranya. Kebencian. Aku dapat merasakan kebencian yang begitu dalam, batin Indi, fiikuti perasaan khawatir.


“Kau tak perlu memberitahuku. Aku jauh lebih paham tentang hal itu. Karena itulah aku berdiri disini. Aku yang akan mengubahnya. Perlahan tapi pasti, tidak akan ada lagi kebencian. Kita akan hidup dalam keharmonisan, bukan penindasan. Kau tahu hal itu kan Catherine. Bukankah kau sendiri yang pernah mengatakannya kepadaku. Kau membenci mereka. Ingatkah kau siapa yang membuangmu? Ingatkah kau cita\-cita yang dengan lantang kau teriakan padaku?” kata Rico yang kini mulai berjalan mendekati Catherine.



“Hentikan semua itu Rico! Kau terlalu lama memendam semua rasa pahit. Kau seharusnya sadar kalau tidak akan ada yang diuntungkan akan keputusanmu. Aku tahu kau begitu benci dengan masa lalumu, dan aku juga tak memintamu untuk memaafkan semua hal yang terjadi kala itu, tapi,” Catherine lalu melemparkan tatapan iba pada lelaki di depannya.



“Jangan pernah membahas tentang masa laluku di depan wajahku!” seru Rico. Amarah mulai menguasainya. Di kepalanya, tampak urat\-urat nadi yang mulai menonjol. Indi bisa merasakan aura kebencian yang benar\-benar besar dari Rico.


Detik berikutnya, Indi telah terdorong dan menabrak pohon, dengan bahunya. BUK! Mata Indi masih mencoba mencari tahu apa yang terjadi, ketika dilihatnya Catherine sudah terpojokkan dengan dua bilah pisaunya yang menahan pedang perunggu Rico.


Indi merintih. Ia merasakan sakit yang amat sangat di bahu kanannya. Sepertinya bahunya terkilir. Ia sangat cepat, batin Indi. Indi mencoba untuk berdiri. Ia harus menolong Catherine. Ia menutup kedua matanya, lalu memfokuskan pikirannya pada Rico. Tidak ada yang terjadi.


Dengan cepat Rico menerjang pedangnya, pada belati Catherine, dan membuatnya terlepas dari genggaman. Rico menyeringai. Pedang Rico hendak menerjang Catherine, namun tepat pada waktunya belati Catherine menangkisnya.


Indi dapat meresakan gelombang kejut dari dari hempasan pedang Rico. Tak memberikan celah, Rico berlari kea rah Catherine. Pedang dan belati mereka bertemu lagi dan berhasil memercik cahaya di udara.


“Sudah cukup main-mainnya,” kata Rico.


Indi merasakan tekanan aura yang luar biasa dari arah Rico, lalu tepat sebelum Indi berkedip, Rico berlari menjauh lalu mendekati Catherine secepat kilat. Detik berikutnya, ia melihat patahan belati Catherine yang terhempas dan jatuh tepat di samping kakinya. Ia lalu merasakan gambaran yang dilihatnya seakan berjalan lambat, dan dengan jelas melihat ujung pedang Rico yang hendak menusuk tubuh Catherine.

__ADS_1


“RICO HENTIKAN!”


__ADS_2