Indi Go!

Indi Go!
Episode 86


__ADS_3

Sambaran petir dengan cepat mengarah pada ketiga gadis itu. BUM! Kepulan asap yang diikuti api menyebar dengan cepat di hutan itu, yang dari sisi positifnya menambah pencahayaan pada malam itu.


Indi membuka kedua matanya, ajaibnya ia masih selamat pada serangan barusan. Di sampingnya Catherine memeluknya bersama Fanny. Keduanya tampak tersengal-sengal. Berkat kekuatan ajaib merek sabun milik Catherine, ia masih dapat merasakan detak jantungnya.


Entah sudah berapa lama mereka melakukan hindaran-hindaran pada setiap serangan-serangan boneka itu. Setiap boneka kayu itu memiliki satu kekuatan elemen yang sangat merepotkan.


“Sudah kuduga kalau selama ini para *elementum* tak mungkin hilang begitu saja. Kaulah dalang dibalik semua itu,” kata Fanny emosi.



“Tidak ada waktu untuk mengoceh murid kesayangan. Sudah berapa kali kuajarkan padamu. Saat berada di dalam pertempuran yang sebenarnya hanya ada dua pilihan, bertahan dan menyerang, bukan bertahan dan berkomentar,” kata Noella dengan diakhiri tawanya.



“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Indi, yang tampaknya semakin memperkeruh suasana.



“Tidakkah kau belajar dengan baik di kelas pertempuran?” tanya Fanny tampak tak percaya dengan pertanyaan Indi barusan.


WUSH!!! Kali ini bola bola kobaran api satu per satu jatuh menghujani hutan itu.


Serangan yang berhasil membuat ketiga gadis itu terpencar karena harus menghindarinya. Di sisi Fanny, ia berhasil menghindari bola-bola api itu, meskipun ia harus mengorbankan jaket parkanya yang kini telah dilalap api. Catherine tampak lebih mudah dalam menghindari serangan tanpa satu derajat panas pun yang membakar bulunya.


Sedang Indi, ia saat ini bersyukur karena mata pelajaran bertahan di UCI, walau ia sempat membencinya, namun saat ini ia baru merasakan segala manfaatnya. Walau ia tak dapat mengembalikan lagi rambut di kedua tangannya, begitu juga dengan kedua alisnya yang sepertinya terbakar karena panas.


*Indi apa kau dapat mendengarku*? Suara Fanny terdengar menggema dalam kepala Indi.


__ADS_1


*Bagaimana kau bisa ada di dalam batinku*? Tanya Indi, yang sepertinya tak dihiraukan Fanny.



*Dengar, saat ini tak banyak yang dapat kita lakukan untuk dapat mengalahkan Noella dengan semua boneka\-boneka miliknya. Namun setidaknya kita unggul dalam segi informasi. Karena ia tak dapat menyadap semua percakapan kita saat ini. Berterima kasihlah pada Catherine karena hal itu*. Jelas Fanny.



*Bisakah kau mempercepat apa yang akan kau sampaikan Fanny*? Kata Catehrine menyambung apa yang baru saja dikatakan Fanny.



*Tunggu, Catherine kau juga ada dalam batinku? Sejak kapan kau masuk*? Tanya Indi.



*Hentikan pertanyaan bodohmu untuk sekarang Indi. Saat ini yang bisa kita lakukan hanyalah bertahan sambil belajar*. Kata Fanny.




*Dengarkan baik\-baik, karena aku akan menyingkatnya. Pada dasarnya Noella sengaja membobardir kita dengan semua serangan\-serangan itu untuk memperkecil celah kita untuk mengatur siasat, dan mengharuskan kita untuk terus bertahan dan menghindar. Namun kita masih punya kesempatan untuk mengalahkannya, hanya satu*.


Indi menelan ludahnya dengan gugup. Ia tahu kalau perkataan Fanny kali ini tak memiliki celah untuk diprotes. Ia sudah berhadapan secara langsung dengan Noella yang bahkan tidak mengeluarkan serratus persen kemampuannya. Dan Indi menebak bahkan untuk saat ini ia tampak belum sepenuhnya serius dalam kemampuannya.


Jadi untuk dapat mengalahkannya, kita harus benar\-benar berfokus pada rencana ini. Jika apa yang kurencanakan ini tepat maka kesempatan kita untuk mengalahkannya akan berubah menjadi besar.


Sambil menghindar, setiap serangan beruntun dari rekahan-rekahan tanah milik boneka-boneka Noella, Indi dengan seksama mendengarkan setiap perkataan Fanny.

__ADS_1


Indi lalu mengangguk. Ia tampaknya baru saja disadarkan dengan apa yang sedang terjadi.


Aku mengerti, batinnya.


Sejauh ini mereka sama sekali belum menghancurkan satu boneka pun. Boneka-boneka itu terlalu kuat dengan kemampuan elementum. Belum lagi jumlah boneka yang melakukan serangan membuat serangan itu lebih luas jarak jangkauannya. Beberapa meter dari tempatnya berdiri, Fanny tampak mengangguk memberi isyarat pada Indi.


Diatas mereka, dua puluh lima boneka mulai mengulurkan kedua tangan kayu mereka lalu mengarahkannya pada ketiga gadis itu. Titik-titik bening tampak mulai berkumpul di udara hampa, lalu dengan cepat aliran air berkecepatan tinggi menghujani tempat itu.


Dalam beberapa detik semprotan-semprotan air itu berhasil merobohkan satu per satu pohon pinus yang ada di tempat itu. Dengan sigap Indi menghindar setiap serangan air yang diarahkan padanya. Ia menghindar dengan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya, yang membuat semakin banyak pohon yang berjatuhan di sekitarnya. Kedua matanya tampak memperhatikan setiap pohon yang berjatuhan dan dengan sengaja terus berpindah ke arah pohon-pohon itu.


Indi menarik nafas dalam-dalam. Aku siap batin Indi. Fanny dan Catherine mengangguk serempak mendengar perkataan Indi. Indi menengadahkan pandangannya ke atas, lalu dengan cepat berpijak pada tiap batang pohon tumbang, satu ke lainnya, yang membuat boneka-boneka itu kesusahan mengikuti gerakannya. Pada pijakan batang gundul yang lebih tinggi, Indi menguatkan pijakan kedua kakinya.


“Pilihanmu akan menjadikanmu kelinci yang mudah ditangkap sayang,” kata Noella yang berada beberapa meter dari sana.


Dengan cepat boneka-boneka itu mengarahkan tangan-tangan kayu mereka kea rah Indi, detik berikutnya volume besar aliran air bertekanan tinggi dengan cepat menuju di tempat Indi berdiri.


Indi menutup kedua matanya, menghembuskan nafasnya pelan. Indi lalu melepaskan salah satu pijakan kakinya dan melompat tepat ke arah semburan air.


WUSH!!! Serangan itu terbelah, sama sekali tidak menyentuh setitikpun bagian tubuh Indi. Di sekeliling tubuh Indi tampak pusaran angin yang berputar cepat mengelilinginya. Detik berikutnya Indi telah berada di udara tepat di tengah-tengah boneka-boneka itu, ia lalu merenggangkan kedua tangannya. Degub jantungnya semakin cepat tiap detiknya.


Jika hal yang ia lakukan kali ini gagal, maka hilanglah harapan mereka. Aku tak akan mengecewakan mereka, batin Indi.


PRAK!!! Dua puluh lima boneka kayu yang ada disekitarnya tercecah menjadi pecahan-pecahan kecil di udara.


“Bagaimana?” gumam Noella tak percaya.


“Itulah yang terjadi saat kau meremehkan seseorang yang terlihat bodoh,” kata Fanny yang kini berada di depan hantu cilik itu.


Dengan sigap Noella mengangkat salah satu tangannya namun tak ada sesuatu pun yang terjadi. Fanny lalu tersenyum. JLEB! Belati milik Fanny kini bersarang tepat di dada hantu cilik itu.

__ADS_1


“Maafkan aku guru,”


__ADS_2