
***
“Sudah kuduga, kau akan membaca rencanaku. Tapi tidak masalah, selama kalian sudah masuk dalam jebakanku,” ucap suara dari balik pohon.
Terdengar suara langkah kaki, pada daun-daun kering. Gadis berambut putih itu, lalu keluar dari balik pohon. Ia masih sama dengan yang ada di ingatan Indi. Wajah Indi berubah merah padam melihatnya. Mengingat apa yang telah ia lakukan pada ayahnya.
“Kau. Dimana ayahku?” teriak Indi, yang tenggelam dalam emosi.
Wajah tanpa ekspresi Lisa, semakin membuat Indi geram. Ia mengepalkan kedua tangannya. Seakan dikendalikan emosinya, Indi berlari ke arah Lisa, kepalan tangannya siap di daratkan di wajah tanpa ekspresi itu. Lisa yang tampaknya sudah menduga serangan Indi, memilih tetap diam.
“Indi berhenti, kau tidak bisa menyerangnya saat ini!” teriak Catherine.
Terlambat. Tepat ketika tangan Indi hendak menyentuh pipi Lisa, ia terhempas beberapa meter, dan menabrak sebuah pohon. Indi merintih. Bagaimana bisa? Apa yang dia lakukan? Batin Indi.
“Indi, dengarkan aku. Kita tak bisa mengalahkannya saat ini. Karena yang kita lihat saat ini, hanyalah bagian dari ilusi yang ia ciptakan. Sejak, awal kita sudah masuk ke dalam ilusi yang ia ciptakan,” kata Catherine.
“Ilusi?”
Catherine mengangguk, “Kemampuan berbahaya Lisa. Ilusi. Saat ini, sepertinya pikiran kita telah dikuasainya,”
__ADS_1
“Bagaimana bisa? Kita bahkan belum melihatnya?”
Catherine melemparkan pandangannya pada dua bilah pisau yang tadi dilihatnya, “Kedua bilah pisau itu. Dia pasti memancing kita dengan itu. Intinya, kita harus berhati-hati. Saat ini, dialah yang menguasai pertarungan ini.”
Semilir angin lalu membawa terbang daun-daun pinus. Walaupun ilusi, sakit yang Indi rasakan benar-benar terasa nyata. Ia mencoba berdiri. Kakinya gemetar. Ia hendak beranjak ke arah Catherine, namun sesuatu menahannya. Akar-akar pohon mulai merambat ke atas permukaan tanah, dan mulai membelitnya. Indi mencoba melawan, dan melepaskan diri, namun semakin ia melawan, semakin kuat akar itu membelit.
“Hei Catherine, karena ini hanya ilusi artinya tubuh kita yang asli baik\-baik saja kan?”
Akar-akar itu juga mulai membelit Catherine. “Kau benar. Tapi jika kita terlalu lama tenggelam dalam ilusinya, artinya tubuh kita akan menjadi lebih mudah untuk diserang!”
Akar-akar itu mulai membelit dada Indi, dan membuatnya sesak. “Apakah tidak ada cara untuk mengehentikan ilusi ini?” tanya Indi , yang kini mulai kesusahan untuk bernafas.
Catherine menggeleng dengan terpaksa. “Tapi, aku tahu satu hal. Saat ini kita berada dalam kendali Lisa, itu berarti pikirannya masih terhubung dengan ilusi yang dibuatnya. Begitulah dasar kemampuan dari seorang cerebellum!”
“I\-indi, kalau kau sedang merencanakan sesuatu, sebaiknya lakukanlah dengan cepat,” kata Catherine, dengan kesusahan, dengan belitan akar di lehernya.
“Aku dari tadi sudah mencobanya. Tapi sepertinya tidak berhasil,”
Suara tawa, lalu menggema di sepenjuru hutan. “Sepertinya, disinilah kalian akan berakhir. Tak perlu lagi melawan. Dari awal kalian sudah kalah,”
__ADS_1
Suara itu adalah suara Lisa. Namun tampaknya sudah terlambat. Akar-akar itu sudah membelit seluruh tubuh Indi dan Catherine. Keduanya terlihat meronta, lalu terdiam, karena kehabisan nafas.
Pandangan itu lalu mengabur. Dari balik pohon, Lisa keluar kemudian, berjalan mendekati tubuh Lisa dan Catherine, yang masih terkurung dalam ilusi. Wajah keduanya, tampak kesakitan. Lisa sudah siap dengan tali yang dibawanya. Ia hendak mengikat tangan Indi, ketika ia merasakan sentuhan di pundaknya.
“Nampaknya kau yang sudah kalah dari awal, karena meremehkan kami, Lisa.”
BUK! Pukulan barusan berhasil membuat Lisa, jatuh dan pingsan.
“Kau benar\-benar hebat Catherine! Aku tak pernah tahu kalau aku dapat melakukan hal seperti ilusi. Ku kira hal itu hanya dapat ku temui di anime,” ucap Indi lalu terkekeh.
“Ini semua berkat kemampuanmu dan juga keberanianmu. Sejak, pertama kali Lisa melempar, kedua belati itu aku sudah tahu kalau dia akan melakukan kemampuan ilusi bodoh itu lagi. Sejak kau berlari ke arahnya, ilusi itu sudah berbalik pada dirinya sendiri. Semua hal yang ia lihat adalah bagian dari ilusi yang dibuat olehmu. Beruntungnya aku memilikimu,” kata Catherine, dengan senyumannya.
Indi jelas masih tak paham dengan apa yang dijelaskan oleh Catherine. Ia bahkan tak pernah tahu kalau ia bisa menggunakan kemampuan ilusi itu, tapi ia bersyukur dapat terhindari dari gadis berambut putih itu. Indi mengangkat kedua bahunya.
“Oke, sekarang yang terpenting, kita harus pergi menemui Fanny kan?”
“Aku sudah memikirkannya sejak tadi. Tapi kita akan menyusuri arah hutan ini. Aku merasakan sesuatu yang tidak beres dari arah sana.”
__ADS_1
***
Gimana Episode kali ini guys? Jangan lupa untuk vote comment and share ya.