Indi Go!

Indi Go!
Episode 11


__ADS_3

Asrama elementum adalah satu-satunya yang benar-benar menggambarkan suasana rumah. Semuanya terasa normal. Bagian dalam asrama dihiasi oleh lukisan-lukisan di dinding.


Di tengah ruangan utama, terdapat sofa berbulu warna abu-abu. Di langit-langit terdapat lampu gantung. Di pojok ruangan berdiri tiang gantung untuk jaket maupun topi, yang semuanya terisi.


Lantai ruangan dihiasi karpet bundar besar dengan motif yang aneh. Beberapa anak tampak sedang melukis, dan yang lainnya belajar di atas sofa.


“Selamat datang di asrama Elementum, aku Catherine kepala asrama disini. Kalau kedepannya kau mendapatkan masalah ataupun membutuhkanku kau bisa memanggilku kapan saja,” kata gadis berkulit cokelat itu.


Indi memerhatikan anak-anak di ruangan itu. Dari dulu beradaptasi dengan manusia adalah hal yang paling sulit baginya. Beberapa anak melemparkan senyum dan melambai padanya. Yang lainnya tampak tak peduli.


“Ayo, biar kuperlihatkan kamarmu.” Kata Catherine.


Mereka lalu menaiki anak tangga menuju lantai dua. Kata Catherine setiap asrama dibangun dengan tiga lantai. Lantai satu merupakan ruang berkumpul, maupun beraktiftas, sedangkan di lantai dua dan tiga adalah ruangan kamar.


“Kenapa aku ditempatkan disini? Aku bahkan tidak tahu kemampuanku,” tanya Indi.



“Kau sudah menjawab pertanyaanmu. Asrama Elementum menampung mereka yang memiliki kemampuan lebih dari satu, juga mereka yang belum tahu kemampuan mereka. Sama sepertimu. Di karenakan tidak adanya anak indigo Elementum  di UCI.” Kata Catherine.



“Lalu sampai kapan aku harus berada disini?”



“Sampai kau tahu kemampuanmu\-“



“Tidak, maksudku sampai kapan kita harus menetap di tempat ini? Kapan kita bisa kembali ke tempat asal kita?” potong Indi.


Ekspresi Catherine berubah. Ia menatap Indi tajam, lalu mengambil nafas panjang. Ekspresinya lalu melembut.


“The Sanctus masih diluar sana. Kau akan tersus disini sampai dianggap mampu untuk bertahan sendiri di luar sana.” Jelas Catherine.



“Kenapa kita tidak keluar sana, mencari The Sanctus lalu memberantas mereka?” kali Ini nada Indi menggebu.



“Tidak semudah itu aku\-,” Catherine menghentikan perkataannya, ia lalu memerhatikan sekeliling dengan gugup.

__ADS_1


“Mari kita sudahi topik ini, dan menuju ke kamarmu.” kata Catherine yang bahkan membuat Indi semakin bertanya-tanya.


Mereka lalu menaiki tangga berikutnya menuju lantai tiga, menuju asrama perempuan. Indi berpikir keras untuk mencari bahan pembicaraan selama mereka berjalan. Sejak pertanyaan terakhir, Catherine sepertinya tampak memikirkan sesuatu.


“Hmmm, jadi kau sudah berapa lama disini?” Indi membuka pembicaraan.


“Sepuluh tahun,”



“Bagaimana dengan orang tuamu?”



“Mereka mati.” Jawab Catherine seolah ingin menghentikan pertanyaan Indi yang berikutnya.


Indi dikitari begitu banyak pertanyaan, dia bahkan tak tahu bagaimana harus memulai. Ia tampak begitu pandai merangkai pertanyaan yang membuat orang lain kesal. Sebuah suara lalu berseru.


“Hai anak baru!”


Indi melihat anak itu. Seorang gadis berambut pendek sebahu, sedang berjalan kearah mereka. Tampaknya ia berjalan dengan beberapa orang, Indi bisa merasakannya, hanya saja tak ada siapapun dibelakangnya selain gadis itu.


“Fanny,” Catherine memutar bola matanya.



Indi tahu tipe anak seperti Fanny, bahkan ia sangat tahu. Setiap kali ia pindah sekolah ia pasti menemukan siswa maupun siswi yang sama sepertinya.


“Siapa nama gadis bermata satu ini?”



“Indi Elisa Widjaja” kata Catherine,


“perkenalkan Tiffany Louise.”


“Hmmm... aku harap kau sudah bersiap untuk penerimaan anggota baru asrama.” Kata Fanny lalu tersenyum.



“Fanny tidak sebaiknya kau\-“ belum sempat Catherine menyelesaikan, ia sudah melayang lalu terseret masuk ke dalam ruangan.


__ADS_1


“Maaf, tapi inisiasi penerimaan bersifat tertutup,”  kata Fanny, lalu menginstruksikan sesuatu dengan tangannya kearah Indi.


Sedetik kemudian Indi melayang. Tidak, sesuatu membuatnya melayang. Ada yang mengangkatnnya.


“Lepaskan aku!” Kata Indi meronta.


Sesuatu yang mengangkat Indi lalu membalik badannya, membuat kepala Indi menyentuh lantai.


Kilasan-kilasan setiap kali ia dibully kembali menghantui kepalanya. Aku tak boleh seperti ini, tidak disini dengan orang-orang yang sama sepertiku batin Indi. Ia mertonta-ronta meminta untuk dilepaskan, akan tetapi tak ada hasilnya.


Indi merasakan beberapa tangan menyentuh tubuhnya. Di dahi Indi sebuah tulisan mulai muncul satu per satu, B- O-. Fanny lalu tertawa.


“Lepaskan aku!!!”


Indi terhempas, jatuh di lantai. Anehnya, Fanny juga ikut terhempas. Rambutnya berantakan menutupi wajahnya.


“Kurang ajar! Berani\-beraninya kau melakukan hal itu padaku! Akan ku buat kau menyesal!” seru Fanny.


Indi lalu melihat Fanny mulai terangkat. Ia melayang. Salah satu tangannya diarahkan ke Indi, yang membuat Indi terdorong. Ia merasakan hempasan yang luar biasa dari arah Fanny.


Tak bisa. Ia tak bisa bertahan. Sedetik kemudian Indi terlempar menuju jendela di ujung ruangan. Tolong! batin Indi berteriak. Tepat sebelum tubuhnya menghantam jendela, hempasan itu berhenti.


Hal itu membuat Fanny melongo. Lalu Indi melihat sesuatu menghempas Fanny begitu kuat, yang membuatnya terguling-guling di anak tangga.


Indi terdiam.


Ia tampak bingung mencerna apa yang terjadi. Catherine lalu berhasil keluar dari pintu kamar diikuti oleh seorang gadis kecil berambut pirang. Indi merasa lemas.


“kau...” kata Catherine.



“Jangan tanya, aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi.” jelas Indi.



Catherine bergegas turun di lantai bawah. Di dapatinya Fanny dan beberapa gadis yang tak dikenali Indi terkapar di lantai, dengan rambut yang berantakan. Mereka tampak tak sadarkan diri.


Beberapa anak di asrama itu mulai berdatangan dan berkerumun mencari tahu apa yang terjadi.


Catherine lalu menatap Indi. Ia melihat Indi dengan tatapan antara kagum atau takut padanya.


“Kaulah jawabannya!” seru Catherine.

__ADS_1


__ADS_2