Indi Go!

Indi Go!
Episode 87


__ADS_3

Indi jelas tidak dapat menjelaskan mengapa belati itu dapat menembus tubuh hantu, yang notabene tak lagi memiliki fisik yang sama dengan manusia.


Namun, tusukan itu menembus dada hantu cilik itu. Jika manusia ditusuk oleh sebuah belati maka akan mengeluarkan darah, maka saat hantu ditusuk tampak sekumpulan tulisan-tulisan berwarna hitam yang tampak seperti segel pada anime yang sering ditonton Indi.


Tulisan-tulisan itu lama kelamaan menyebar ke seluruh tubuh hantu cilik itu hingga ke ujung jari kakinya. Detik berikutnya, boneka-boneka ventroluquist lainnya, satu per satu mulai berjatuhan. Hutan pinus itu tampak lengang pada detik itu, hanya ada sisa-sisa asap dan kobaran-kobaran api kecil yang masih menyelimuti pohon-pohon tumbang. Indi tak bisa menebak jam berapa sekarang, namun dari alarm tubuhnya ia yakin kalau saat ini sudah tengah malam.


“Kau yakin kan Jeannet akan baik\-baik saja?” tanya Indi tampak memastikan sekali lagi.


Fanny mengangguk. Wajah manisnya tampak benar-benar lelah dengan semua hal yang baru saja terjadi. Indi dapat merasakan auranya yang meredup. Indi berpikir andai Fanny tak ada disini, ia dan Catherine pasti sudah menjadi abu sekarang.


“Apa saat ini, dapat dipastikan kalau kita sudah menang?” tanya Indi.


Dibalik wajah lelahnya, Fanny menyimpulkan senyumnya, lalu mengangguk pelan. Detik berikutnya ia ambruk ke tanah, untungnya dengan cepat Indi dapat menahan gadis itu dalam pelukannya. Wajah Fanny tampak pucat saat ini, namun itu tidak lagi menjadi masalah, karena semuanya sudah berakhir.


“Beristirahatlah,” kata Indi pelan, yang diikuti anggukan pelan dari Fanny.


Catehrine yang berada beberapa meter dari mereka segera berlari menuju Indi dan Fanny. Gadis itu tampak sama lelahnya dengan Fanny, namun ia masih berusaha untuk tetap bertahan dan mencoba menyembuhkan Fanny.

__ADS_1


Semua hal yang dilakukan Indi hingga melakukan semua atraksi udara dapat terjadi berkat bantuan kemampuan Lux milik Catherine. Dia juga lah yang bertanggung jawab atas bertahannya Indi dan Fanny dari setiap serangan elemen yang diterima mereka.


“Kau juga perlu memulihkan dirimu,” kata Indi.


Catherine menggeleng pelan, senyuman dengan lesung pipi kembali menghiasi wajah manisnya, yang kalau diingat Indi, sudah lama sekali tak melihat senyuman manis itu.


“Tidak perlu, lagi pula tak ada yang perlu kita khawatirkan lagi. Kita sudah menang. Ramalan itu, ramalan itu berhasil terpenuhi,” gumam Catherine pelan, sambil berkonsentrasi menyembuhkan Fanny.



“Apa itu berarti semua sudah berakhir?” tanya Indi.



JLEB!!! Raut wajah Catherine tampak berubah, matanya perlahan memutih, begitu pula dengan seluruh kulitnya.


Di belakangnya, tangan sebuah boneka kayu tampak menghunus sebuah pisau yang sama persis dengan pisau yang tertancap pada Jeannet.

__ADS_1


“Kejutan!!!” ucap sebuah suara di balik pohon pinus di belakang mereka.


Indi merasakan kalau aliran darahnya saat ini berhenti. Ia bahkan tidak dapat bernafas dengan teratur saat melihat seseorang yang berjalan ke arahnya. Wanita bertubuh gempal, dengan pakaian dan riasan serba gothic itu masih hidup.


“Noella,” gumam Indi.



“Senang berjumpa denganmu lagi sayang,” kata Noella yang kini telah berada di tubuhnya kembali.



“Bagaimana bisa? Kau sudah ditusuk oleh Fanny,” kata Indi.



“Oh, harus kuakui kalau apa yang kalian lakukan sangatlah matang dan terstruktur. Andai aku tak secepatnya berpindah kita mungkin tak akan bertemu saat ini, melihat selain tajam, belati yang sudah dimantrai miliknya dapat membunuh satu jiwa dengan cepat, sama seperti yang saat ini terjadi pada temanmu,” jelas Noella lalu mengyunggingkan senyuman lebarnya.

__ADS_1



“Saat ini ramalan itu tak akan pernah menggangguku lagi, karena anak dalam ramalan kini sudah ku habiskan,”


__ADS_2