
Mata birunya tampak menyala dibawah cahaya lampu. Dia membawa sebilah pisau perunggu. Seseorang lalu muncul mengikutinya. Pria jangkung, yang wajahnya tak asing lagi bagi Indi.
“Rico?” Indi mencoba mencerna apa yang ada di depan matanya.
Tampang Rico jelas berbeda. Terdapat luka bakar di salah satu tangannya. Rambut panjangnya telah dipangkas. Ia lalu tersenyum pada Indi.
“Hai Indi, aku butuh bantuanmu,” kata Rico lalu mulai mendekat.
“Apa yang kalian berdua lakukan disini? Bukankah kalian berasal dari asrama yang berbeda?”
Lisa tersenyum, “Akan terlalu cepat bagimu untuk memahami semuanya Indi.” Kata Lisa.
“Kami tahu kau bingung, tapi kami benar\-benar membutuhkan bantuanmu saat ini,” Jelas Rico, yang kini sudah berdiri tepat di depan Indi. Wajahnya memelas.
“Bukankah kau sedang dalam misi? Lalu apa yang kau lakukan disini? Apa yang terjadi dengan misimu?”
“Rico tak ada waktu lagi!” seru Lisa.
__ADS_1
“Aku minta maaf Indi,” Rico hendak menyentuh Indi, namun sesuatu menggigit tangannya. Rico berteriak kesakitan.
Lisa tampak kebingungan. Sesuatu lalu mendorongnya yang membuatnya terjatuh. Indi merasa dirinya didorong oleh sesuatu yang memaksanya untuk pergi dari tempat itu.
“Jalan bodoh! Gunakan kedua kaki manusiamu!”
“Jeannet?”
“Ayo cepat keluar dari tempat ini! Aku akan menahan mereka! PERGI!” hantu cilik itu lalu kembali menggigit Rico.
Indi tampak kebingungan, tapi ia tahu bahwa ia tak boleh berdiam diri disitu. Ia mulai berlari menuju lantai bawah. Tampak ruangan-ruangan yang berantakan dan beberapa anak terkapar di lantai.
Dua anak lalu muncul dari balik semak dan menerjang ke arah Indi. Indi lalu mundur tepat ke tepi danau, berusaha untuk menghindar, tetapi kedua anak itu lebih cepat. Salah satu pedang anak itu menggores tangan Indi. Yang satu orang lagi lalu mencoba menangkap Indi, tapi berhasil dihindarinya.
Tangan kanan Indi berdarah. Kedua anak itu tampaknya sengaja membuat tangannya terluka. Salah satu anak kembali menerjang yang membuat Indi tercebur di pinggir danau. Mereka tertawa. Mereka berdua lalu menarik Indi dengan paksa.
“Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!” teriak Indi.
Sejak awal tampaknya mereka tak mengincar penanda miliknya. Mereka mengincar Indi. Entah ini bagian dari permainan atau tidak, namun Indi mulai membencinya.
__ADS_1
“Ini bukan bagian dari permainan! Lepaskan aku!”
“Ini memang bukan bagian dari permainan,” kata salah satu anak dengan bekas luka di wajahnya.
“Apa maksudmu?”
Kedua pemuda itu tak menjawab Indi. Mereka memaksanya untuk berjalan ke arah hutan dekat danau. Indi mencoba mengingat latihannya. Fokus Fokus Fokus batinnya. Indi merasakan aura di sekelilingnya.
Sedetik kemudian kedua orang itu terhempas. Melihat kesempatan itu, Indi mulai berlari. Di belakangnya kedua pemuda itu mulai bangkit. Salah satu pemuda melempar belati kearah Indi. Indi berbalik. Tepat sebelum benda itu menyentuh Indi, belati itu terpental.
Indi tampak kebingungan. Tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Mungkin para tetua hantu yang melakukannya, pikir Indi. Kedua lelaki tadi mulai mengejar Indi. Ketika dua anak panah melesat tepat di dada mereka, yang membuat mereka pingsan.
Di belakang Indi, Catherine tampak terluka. Penanda masih terpasang di tangan kanannya.
“Indi, kita harus segera pergi dari tempat ini? Permainan ini sudah disabotase,” kata Catherine terengah\-engah.
“Apa maksudmu Cate?”
__ADS_1
“Penjelasannya nanti saja yang jelas kita harus segera pergi dari UCI!” kata Catherine tegas.