Indi Go!

Indi Go!
Episode 72


__ADS_3

***


Rico merintih kesakitan, lalu menjatuhkan pedangnya. Sementara Catherine, kini duduk tersandar di pohon. Entah apa yang barusan terjadi. Indi mengerjapkan kedua matanya, masih mencoba mencari tahu, apa yang barusan saja terjadi.


Pandangannya lalu menangkap Jeannet yang kini tengah menggigit tangan Rico. Rico mengerang begitu kesakitan. Ia menyerang membabi buta kesegala arah, tampaknya tak dapat melihat ataupun menyentuh Jeannet saat ini.


Indi berlari menghampiri Catherine. Ia menghela nafas lega, melihat gadis itu baik-baik saja.


“Bagaimana hantu cilik itu bisa ada disini?” tanya Indi.


Catherine menggeleng, menunjukkan kalau ia sama tak mengertinya dengan Indi. “Sepertinya sedari tadi ia ada disini, hanya saja ia sengaja menurunkan intensitas auranya, sehingga kita tak bisa merasakannya."


Di depan mereka, Rico mulai kesal dengan apa yang terjadi. Ia menutup kedua matanya, lalu menyentuh keningnya menggunakan tiga jari. Mulutnya lalu mengucapkan sesuatu, yang dibaca Indi dengan Urbe Regnoque Tarquinios: combustione!


Seketika, Jeannet yang sedari tadi menempelkan gigitannya pada tangan Rico mulai meronta. Ia berteriak histeris, sambil berlarian. Wajahnya menunjukkan kesakitan yang amat sangat.


“Hantu sialan! Berani\-beraninya kau membantu mereka. Tak ingatkah kau apa yang telah kau lakukan padaku di masa lalu. Sekarang kau mendapatkan imbalanmu,”



“Apa yang kau lakukan pada Jeannet?”

__ADS_1


Rico tersenyum sinis, “Dia akan merasakan apa yang pantas dia terima,”


“Hentikan yang kau lakukan, dia hanyalah seorang anak kecil!” seru Indi, yang tak tahan dengan rintihan dan teriakan dari Jeannet.



“Kutukan,” ujar Catherine, yang kini berdiri di belakang Indi, sambil memeluk Jeannet dengan erat.



“Aku anak yang baik! Aku anak yang baik! Peperangan! Darah Ungu! Jangan bunuh aku!” jerit Jeannet meronta di balik pelukan Catherine.


“Untuk apa kau peduli padanya? Ia hanyalah hantu. Ia merupakan bagian entitas kelabu di dunia ini. Mereka hanyalah mahkluk yang tak dapat mencapai kehidupan kedua lalu menjadi mahkluk yang menetap di dunia manusia, tanpa tau tujuan mereka,”



“Setidaknya ia lebih manusiawi daripada kau,” kata Indi, lalu melirik bilah pedang Rico, yang tadi hampir saja merenggut nyawa Catherine.



“Kau tidak tahu apa yang pernah dia lakukan\- Sudahlah, tak ada gunanya aku menceritakannya padamu. Lagi pula kalian akan kuhentikan sekarang,” kata Rico, yang kini sudah berjalan menuju pedangnya.

__ADS_1


Tak akan kubiarkan, batin Indi. Hal yang Indi lakukan berikutnya begitu impulsive, dan juga bodoh. Ia berlari ke arah Rico. Salah satu tangannya mengepal siap dilayangkannya ke wajah lelaki berlesung pipi itu. Indi sudah begitu dekat dengan Rico. Namun langkahnya terhenti. Ia merasakan kesedihan yang luar biasa.


“Tolong aku,” kata Rico lembut.


Indi terdiam. Matanya berkaca-kaca, “Indi! Jangan tenggelam dalam permainan emosinya!” teriak Catherine, yang menyadarkan Indi.


“Terlambat,” kata Rico tersenyum.


Salah satu tangannya lalu menangkap leher Indi, yang membuatnya tubuhnya mulai terangkat beberapa senti dari tanah. Indi meronta mencoba melawan, namun tak ada yang bisa ia lakukan. Tubuhnya merasakan keputusasaan untuk menerima kematian.


Nafasnya tercekat lalu pandangannya mulai mengabur.


“Aku benar\-benar merasakannya Mama! Aku bahkan bisa mendengar suaranya semalam,” ucap seorang anak laki\-laki kecil, yang tebak Indi berumur tujuh atau delapan tahun.


Anak lelaki itu, mengenakan kaos tanpa lengan berwarna putih yang tampak longgar di tubuhnya. Sedang celananya berwarna hitam dan terlihat terlalu ketat. Badannya begitu kurus, rambutnya acak-acakan tak terawatt, dan wajahnya tampak kumal penuh dengan debu.


Di depannya, tampak seorang wanita paruh baya, yang tengah mengenakan celemek bermotif grain abu-abu yang tampak tua dan kumal. Ia mengenakan kemeja kusut berwarna putih kekuning-kuningan. Rambutnya pendek bergelombang, dan dibiarkannya tertata dengan bandana berwarna coklat dengan motif bunga. Dibalik celemeknya wanita itu mengenakan rok sepan yang mencapai lutut, berwarna hitam. Di belakangnya wanita itu menggendong seorang anak perempuan yang umurnya sekitar 2 atau 3 tahun.


“Richardo hentikan semua khayalanmu itu!”


***

__ADS_1


__ADS_2