
Chapter 9
Tamu Tak Diundang?
Oke, Indi mungkin sudah sering pindah ke negara maupun kota lain menggunakan pesawat. Tapi mengendarai naga, membuatnya menjadi pusing dan mual. Padahal awalnya, ia begitu kegirangan karena ingin segera terbang di atas punggung makhluk itu.
Tampaknya ia harus menyesali keputusannya. Hewan raksasa itu terbang layaknya burung, hanya saja sepuluh kali lebih cepat. Mungkin begini rasanya para pendekar sakti yang sering menaiki burung raksasa di siaran TV negaranya yang sering ia tonton.
Hewan itu terbang, dua puluh meter diatas langit, membawa mereka. Indi duduk di tengah, mengingat ia sering mual dan pingsan. Fanny berada di punggung naga, dekat dengan kepalanya. Jeannet berada tepat di belakang Indi, dan di tempat paling belakang, Liona tampak mencoba agar tak terjatuh.
Mereka sudah terbang kurang lebih selama lima jam sebelum akhirnya memutuskan untuk turun dan beristirahat di suatu tempat. Menurut, Fanny jika rute yang mereka pilih dari dimensi makhluk alam benar, mereka dapat tiba dua hari lagi di tempat tujuan. Indi hanya berharap ia dapat segera turun dan menuangkan seluruh isi perutnya.
“Ingat, kita disini hanya untuk makan dan mengistirahatkan Vega. Kita akan melanjutkan perjalanan malam ini. Kita harus menetap pada rencana awal kita. Setidaknya kita tahu bahwa kita aman disini, di dimensi roh alam. Aku akan pergi mencari sesuatu untuk memberi Vega makan dan minum. Aku akan kembali ke sini beberapa jam lagi.”
__ADS_1
“Aku ikut denganmu. Membawa seekor naga di suatu tempat tentu saja akan menarik perhatian banyak makhluk. Dan aku tahu bahwa kekuatanmu sekarang harus kau bagi dengan mengendalikan roh naga itu. Setidaknya aku bisa menjadi penenang naga itu, jika sewaktu-waktu ia lepas kendali.” Kata Liona tegas.
Fanny mengangguk. “Kami pergi tak akan lama. Kalian harus tetap disini. Beristirahatlah selagi kalian bisa. Khususnya kau Indi!”
“Iya, iya aku mengerti,” jawab Indi singkat mencoba untuk tak muntah.
Mereka lalu berangkat. Tanpa menyia-nyiakan waktu, Indi mencari tempat yang pas, lalu menumpahkan semmua isi perutnya di semak-semak.
“Ehm, Indi. Aku melihat beberapa bunga yang cantik di padang sana. Bisakah aku kesana untuk memetik beberapa bunga? Kumohon.” Kata Jeannet memelas.
Indi lalu berbaring di rerumputan, tepat dibawah pohon rindang. Semilir angin di tempat itu benar-benar lembut. Indi merasa bahwa semua rasa mual dan pusingnya, perlahan hilang dibawa terbang angin. Sedang di langit, mentari perlahan terbenam, dengan semburat jingga dan unggu yang mulai menghiasi. Indi mencoba mengingat kapan terakhir kali ia merasa rasa nyaman yang seperti ini.
“Hai Indi. Lama tak jumpa.” Sapa suara seorang gadis, dari sampingnya.
__ADS_1
Indi membuka mata. Ia terbelalak dengan apa yang dilihatnya. Gadis berambut putih, bermata biru. Ia mengenakan gaun selutut berlengan panjang warna hijau muda. Rambutnya di kepang satu, yang dibiarkannya menjuntai di bahu kanannya.
“Lisa?”
Melihat Lisa sontak membuat Indi berdiri, dan mengambil pisau dari dalam tasnya.
“Bagaiamana kau bisa sampai disini? Apa yang kau rencanakan?” kata Indi waspada.
Lisa tersenyum. “Kau tak perlu mengeluarkan pisau daging milikmu itu. Aku tak berniat untuk menyakitimu. Aku kesini hanya ingin berbicara berdua denganmu,”
Ribuan pertanyaan seketika muncul di kepalanya. Ia memang perlu waspada dengan gadis itu. Tapi sesuatu dalam dirinya juga percaya bahwa gadis di depannya tak memiliki niat jahat.
“Kau benar, aku tak ada niatan jahat. Jika aku berniat menyerangmu, dengan mudah aku bisa melakukannya.” Kata Lisa lembut.
__ADS_1
“Berhenti membaca pikiranku! Aku tahu apa yang kau rencanakan. Kau ingin aku kembali ke UCI kan! Kalian ingin memanfaatkanku! Sejak awal kalian sudah membohongiku,”
“Kau benar, dan kau juga salah,” kata Lisa lalu dengan santai duduk di bawah pohon. Ia menyelipkan rambut dibawah telinganya.