
CHAPTER 7
Tempus
Para peri lalu mengajak mereka ke suatu tempat. Fanny sempat menentangnya, mengingat insiden toko souvenir, namun setelah perdebatan singkat, mereka akhirnya setuju untuk kembali mengikuti para peri.
Malam itu ketiga gadis itu memutuskan untuk tinggal, di kediaman para peri. Mereka berkemah di hutan. Indi tak tahu bahwa para peri memiliki kemampuan untuk mengobati luka. Mereka mengobati Liona dan Indi, membuat semua luka di tubuh mereka menghilang.
Setelah makan beberapa makanan dari toko souvenir dan buah-buahan yang diberikan para peri, ketiga gadis itu memutuskan untuk tidur. Namun setelah insiden, bus dan toko souvenir membuat ketiganya sepakat untuk mengambil giliran berjaga. (Para peri sebenarnya memaksa untuk mereka tidur, namun sepertinya hal yang cukup berat bagi ketiga gadis itu untuk percaya sepenuhnya pada mereka).
Indi mendapat giliran jaga pertama. Liona tertidur pulas setelah semua yang terjadi. Ia meringkuk di tanaman\-tanaman rambat, yang entah bagaimana berhasil disulap para peri menjadi tempat untuk tidur. Fanny berbaring di sebelah Liona, mencoba memejamkan matanya.
“Kau tahu, sebenarnya aku tak ingin terlibat dalam perjalanan ini,” kata Fanny.
Hal itu membuat Indi tertarik untuk duduk di sampingnya, “Apa ini semua karena aku?”
Fanny menggeleng. “Tidak, ini semua bukan karena kau. Bahkan sejak awal, kau tidak terlibat dalam rencana ini.”
“Ceritalah,” kata Indi lembut.
Fanny lalu duduk, kemudian melirik Indi dengan hati-hati, seolah tidak percaya. Namun setelah sepertinya ‘membaca pikiran Indi’ ia mulai bercerita.
“Semua ini adalah ide Catherine. Ia adalah sosok yang benar-benar baik, bahkan untuk ukuran seorang manusia,” katanya.
__ADS_1
“Kau tahu, cukup sulit bagiku untuk berbaur dengan manusia. Karena sejak aku kecil, aku tahu bahwa manusia tak lebih dari sepatah kata ‘Aku’. Namun sejak bertemu Catherine, semua pandanganku berubah. Ia menunjukkan bahwa manusia tak hanya orang yang mementingkan kehendak hidupnya, tetapi juga orang lain. Dia satu-satunya orang yang menjadi dekat denganku.”
“Lalu, apa hubungan ceritamu dengan semua yang terjadi?”
Fanny menatap Indi sedih. “Semua yang ada di UCI tampak begitu normal awalnya namun, beberapa tahun terakhir, kami mulai menemukan hal-hal yang ganjal di UCI. Dan dia, dia satu-satunya orang yang peduli akan hal itu,”
“Aku tak mengerti.”
Fanny menatap Indi nanar, “Awalnya aku juga tak mengerti, ternyata semuanya begitu rumit. Sebentar lagi kita mungkin akan berhadapan dengan sesuatu yang mungkin akan mengorbankan banyak orang. Aku tak ingin menambah bebanmu dengan menceritakan semuanya. Kau sudah terlalu menanggung beban yang cukup berat, akhir-akhir ini,”
Indi menatap langit malam itu. Ia mungkin tak memahami apa maksud perkataan Fanny, tapi ia jelas merasakan apa yang saat ini Fanny rasakan dari setiap kata yang terucap darinya. Ketakutan, kekhawatiran, dan amarah.
“Bagaimana kita bisa melalui semua hal yang kau katakan? Apakah aku memang harus terlibat, dan kenapa dari awal sepertinya semua tertuju pada ibuku. Ia notabene hanya seorang manusia biasa. Oke mungkin tidak, ia menyelamatkan banyak nyawa sebagai seorang dokter. Tapi itu semua tidak ada kaitannya kan? Maksudku, lima belas tahun terakhir hidupku baik\-baik saja,” kata Indi meluapkan perasaannya.
“Aku tak ingin menyalahkanmu tapi ada banyak hal yang belum kau ketahui Indi,” Fanny menghela nafas, “Yang pertama, ibumu bukanlah orang biasa. Ia indigo sama seperti dirimu\-“
“Tunggu sebentar,” kata Indi. “Dari mana kau mengetahui semua hal itu? Kau bahkan tidak mengenal ibuku!”
__ADS_1
“Indi, sama seperti sebuah buku. Meskipun kau sudah melihat sampulnya dan membaca ceritanya, kau belum tentu tahu maksud dan artinya. Begitu pun hidup. Selama ini kau bisa merasakan semua normalnya kehidupanmu berkat ibumu. Dan jangan pikir aku tak mengenal ibumu. Ibumu adalah seorang tempus dan cerebellum. Ia dapat melihat apa yang akan terjadi di masa depan maupun masa lalu. Pernakah kau berpikir, kenapa selama ini kalian selalu berpindah\-pindah? Pernakah kau berpikir kenapa setiap kejadian besar yang menimpa dirimu selalu melibatkan ibumu di setiap kejadiannya?"
Indi jelas ingin membantahnya, tapi semua yang dikatakan Fanny benar. Indi tak pernah merasakan yang namanya menetap di suatu tempat. Dalam satu tahun, ia dan keluarganya akan pindah sebanyak tiga sampai empat kali. Dan semua itu merupakan permintaan dari ibunya.
Ia juga teringat ketika ia sedang berada di Mall lalu dirasuki sesuatu, yang membuatnya hampir kehilangan nyawa. Semua kepingan ingatan itu, tampak saling terkait.
“Apa kau sedang membaca seluruh pikiranku?”
Fanny menggeleng, “Ibumu adalah orang yang berpengaruh dengan UCI. Nama ibumu seharusnya tercatat di pelajaran UCI, namun itu tidak terjadi. Selama ini ibumu selalu dicari oleh UCI. Itu karena ia mengetahui sesuatu yang erat kaitannya dengan masa lalu dan masa depan UCI,”
Wow, apa yang dikatakan Fanny barusan cukup membuat Indi berharap bahwa semua yang terjadi hanyalah imajinasinya. Selama ini ia tak tahu bahwa ia adalah keturunan dari seorang mutant (indigo), yang bahkan dapat merubah seluruh kehidupannya.
“Ibumu berubah sejak ia mendapat penglihatan tentang UCI kedepannya. Sejak itu ia memutuskan untuk pergi dari UCI. Pihak UCI tidak menginginkan hal itu, mereka terus mencari cara agar dapat kembali menjangkau ibumu. Dan dua puluh tahun lalu, suatu organisasi yang menyebut diri mereka dengan The Sanctus juga mulai mengincar ibumu,”
“Tunggu, apa yang dilihat ibuku? Dan kenapa hanya ibuku yang diincar? Bukankah setiap anak Indigo dengan kemampuan tempus juga dapat melihat masa lalu dan masa depan? Kenapa harus ibuku yang tetap dikejar\-kejar? Dan, bagaimana kau bisa mengetahui semua hal itu? Lalu apa kaitannya ibuku dengan The Sanctus?”
“Sepertinya kau tidak benar\-benar memperhatikan setiap pembelajaran yang ada di UCI. Indigo dengan kemampuan tempus memang bisa melihat masa lalu dan masa depan. Namun, tidak semua yang mereka lihat itu sama. Bahkan hanya sedikit anak\-anak tempus yang bisa membaca kedua\-duanya. Beberapa anak tempus bahkan terkadang tak sadar, kalau mereka sudah melihat sesuatu. Ibumu adalah indigo yang dikaruniai sesuatu yang lebih besar pada kemampuannya. Ia dapat melihat masa depan dan masa lalu sesuatu hanya dengan menyentuh, maupun melihatnya,”
Fanny menatap langit malam, tampak tak ingin beradu pandang dengan Indi. “Apa yang dilihat ibumu erat kaitannya dengan The Sanctus. Sesuatu yang besar akan terjadi diantara keduanya. Dan aku tak pernah tahu apa itu. Menurut Catherine, hanya dua orang yang tahu apa yang akan terjadi. Ibumu dan juga Jeannet. Aku akan memberitahumu lebih lanjut tentang, darimana aku mengetahui semua ini, tapi-“ Fanny menguap, “aku terlalu lelah dan mengantuk. Akan kuceritakan padamu besok dalam perjalanan kita.” Kata Fanny lalu mulai meringkuk dan tertidur.
__ADS_1