Indi Go!

Indi Go!
Episode 42


__ADS_3

“Lalu apa yang terjadi dengan Rico dan Lisa? Kenapa malam itu mereka tampak mengincar Liona?” tanya Indi getir.


Fanny menggeleng. Kali ini dibalik cahaya api, Indi dengan jelas bisa melihat wajah Fanny. Matanya penuh dengan penyesalan. Sedangkan wajahnya, ia tampak kecewa. Indi tahu bukan saat yang tepat baginya untuk kembali melontarkan pertanyaan.


“Oh ayolah teman\-teman. Lupakan masa\-masa sedih itu. Sekarang kita sudah punya tujuan yang jelas. Tujuan kita juga baik. Kita bisa memperbaiki semuanya. Tak usalah pake menangis\-menangis dan air mata. Kalian itu sudah dewasa! Harusnya kalian malu kalau menangis di depan anak kecil sepertiku.” Celetuk Jeannet.


Hantu cilik itu berdiri. Ia menyunggingkan senyum gigi ompongnya, “Semuanya akan menjadi baik-baik saja. Kita tidak sedang berada di suatu drama kok. Sekarang kalian para manusia cengeng, beristirahatlah. Aku akan menjaga kalian.”


Indi benar-benar ingin mencubit pipi Jeannet. Tapi ia tak bisa. Ia malah tersenyum, begitu juga Fanny dan Liona. Jeannet benar.


“Aku minta maaf, aku tak seharusnya menuduhmu yang tidak\-tidak.” Kata Indi.


Liona menghela nafas, masih gemetar, “Tak apa. Itu bukan kesalahanmu.” Balas Liona tersenyum.


Malam itu, Indi memutuskan untuk melupakan apa yang dikatakan Lisa. Itu jelas-jelas hanyalah mimpi bodoh batin Indi. Nyala api kini hanya menyisahkan bara. Bunga-bunga api naik ke langit tertiup angin. Fanny dan Liona telah meringkuk tertidur.

__ADS_1


Sedang Jeannet duduk di dekat api memastikannya tak mati hingga semuanya tertidur. Indi berbaring di samping Liona. Ia terlalu takut untuk tertidur mala mini, setelah mimpi yang begitu nyata dengan Lisa.


“Tidurlah Indi! Kau memerlukan banyak tenaga besok!” kata Jeannet yang mendapati Indi masih membuka mata.


Indi terkekeh, “Ia ibu.” Katanya lalu menutup kedua matanya.


Indi kembali berada di ruangan itu. Gadis yang dirantai itu masih disana. Ia tampak begitu lemah. Sampai detik ini, Indi masih tak bisa melihat gadis itu dengan jelas. Semuanya tampak samar. Pintu ruangan itu lalu terbuka. Seseorang masuk. Ia mengenakan jubah hitam panjang yang menutupi seluruh tubuhnya. Hanya perasaan Indi, atau orang dibalik jubah itu tampak familiar dengan Indi.


Sosok di balik jubah itu mendekat ke jeruji. Walau hanya mimpi tapi Indi benar-benar bisa merasa tertekan dengan orang itu. Anehnya gadis dalam jeruji itu tampak tak terpengaruh dengan kedatangan orang itu.



“Aku tak akan merubah keputusanku. Aku sudah mempertaruhkan semuanya kepadanya. Dan kau tahu apa yang membedakan kita? Rasa percaya. Aku tidak akan merubah pikiranku dan menjadi salah satu bonekamu!”


Mimpi itu lalu mengabur. Kali ini Indi berada di rumahnya. Kalau bukan dalam mimpi ia mungkin sudah menangis. Di depannya ibunya berdiri. Dia tampak lelah dari pekerjaannya.

__ADS_1


“Kau harus segera memberitahukannya Inggrit. Dialah harapan kita,” kata seorang pria yang wajahnya tampak samar.


Pria itu mengenakan jaket kulit hitam. Celana jeansnya tampak jadul berwarna biru. Cuma tebakan Indi, sepertinya pria itu seumuran dengan ibunya. Ibunya melirik pria itu gugup. Rautnya jelas menunjukkan kesedihan.


“Aku tahu. Aku bahkan jauh lebih tahu dari siapapun. Tapi, tapi, aku tidak siap. Aku tak ingin kehilangannya.” Kata Inggrit.



“Inggrit yang kau lihat mungkin tidak benar. Tidak semua yang terlihat nyata adalah realita. Lagipula kita selalu bersamanya kan?” kata pria itu.


Inggrit mengangguk pelan. Pria itu memeluknya, yang membuat Indi begitu shock melihatnya. Ia mencoba berlari ke arah ibunya dengan amarah, tapi mimpi itu lalu mengabur. Kini Indi berada di tengah anta berantah sendirian. Satu per satu kilasan memori tampak muncul dan berputar-putar di atas kepalanya.


“Hentikan. Hentikan. Hentikan!”


Indi terbangun. Mentari tampak perlahan terbit di kaki langit. Indi mencoba mengatur nafasnya. Hari ini perjalanan utama mereka akan dimulai. Indi tidak ingin merusaknya dengan semua mimpi bodoh yang ia alami.

__ADS_1


__ADS_2