
Indi tak ingin mematahkan kepercayaan diri Jeannet, tapi setelah kejadian bus dan naga sepertinya merupakan hal yang lumrah untuk ragu. Indi menatap Fanny, berharap ia membaca pikirannya sekarang. Fanny mengangguk. Tenang saja, katanya tebak Indi dari gerak bibirnya.
“Baiklah Jeannet, kami percaya padamu. Tolong jaga Vega selama kami di dalam. Panggil kami kalau kau membutuhkan sesuatu.” Kata Fanny diikuti anggukan paham dari Jeannet.
Setelah mengobati Vega. Mereka memutuskan untuk masuk ke rumah itu. Rumah itu berdiri dengan batu bata sebagai penyusunnya. Pintu masuknya sama seperti pintu zaman dulu yang terbuat dari kayu, dengan sebuah pengetuk di tengah pintu.
Rasa curiga kembali menjalari Indi. Untuk sebuah rumah yang besar, tampaknya tempat itu terlalu sepi. Atau mungkin rumah ini tak berpenghuni batin Indi.
Fanny mengetuk rumah itu. Tidak ada jawaban. Atau mungkin mereka tidak mendengarnya karena hujan lebat. Oke tindakan berikutnya jangan sampai ditiru. Dengan piawainya Fanny mendobrak pintu rumah itu.
Pintu itu terbuka, menumpahkan udara dingin disertai kabut, mungkin. Indi belum pernah melihat kabut sebelumnya, karena itu ia tidak yakin dengan apa yang dilihatnya.
“Oke, apakah cuma perasaanku atau memang rumah ini tak berpenghuni?” tanya Indi.
Indi sudah belajar bercuriga dalam perjalanan ini. Indi menyimpulkan siapapun yang terlihat normal maupun wajar bahkan indah rupawan bisa jadi suatu malapetaka.
Sulit membedakannya. Liona masuk setelah Indi dan mengedarkan pandangannya. Setidaknya Indi tahu Liona bisa langsung menghanguskan sesuatu yang dilihatnya.
“Rumah ini begitu besar.” Kata Liona terkagum.
__ADS_1
Ruangan itu begitu besar dan luas. Hanya saja dekorasi dan tatanan dalam ruangan itu tampak begitu tua dan ketinggalan zaman. Di lantai tampak sebuah karpet yang terbuat dari beruang coklat, yang sedikit membuat Indi merinding karena mulutnya yang terus terbuka.
Di dinding terpajang kepala-kepala hewan hasil buruan, juga beberapa senjata seperti kapak, panah, maupun pedang. Sedangkan di langit-langit, lampu gantung khas zaman dulu masih dilengkapi dengan lilin-lilin yang menyala.
Di ujung ruangan tampak sebuah tangga yang menghubungkan ruangan itu ke lantai dua. Indi masih terkagum dengan semua interior dalam ruangan itu ketika sebuah suara menyapanya.
“Kau baik-baik saja?” kata seorang pria yang tampak tak asing bagi Indi. Indi yakin kalau ia pernah melihatnya di suatu tempat, tapi ia tak bisa mengingatnya. Dia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih yang bercorak bunga, celana jeans biru yang tampak begitu kuno, dan sepatu coklat. Benar-benar dandanan yang begitu outfashioned batin Indi.
Indi terbata-bata, “Eh, kami minta maaf tapi…”
“Tenang, tenang, kau tak usah takut. Aku tak akan menyakitimu. Kau tampaknya membutuhkan pertolongan.”
“Eh?” Indi bingung.
“Aku dimana?” tanya Indi pada pria itu.
“Kau mengingatkanku pada putriku. Saat ini ia seumuran denganmu. Ayo ikut denganku. Kau tak perlu takut padaku. Ku izinkan kau untuk menyerangku jika aku berbuat yang macam-macam.” Kata pria itu yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Indi, yang membuat Indi mulai khawatir.
“Eh, aku minta maaf telah masuk ke rumahmu dengan lancing, tapi aku harus pergi, aku meninggalkan anjing dan adikku diluar rumah. Tadinya aku singgah disini hanya untuk menyapamu. Aku anak dari tetangga yang baru.” Kata Indi sambil terkekeh basa-basi.
__ADS_1
Benar-benar alasan yang bagus Indi, batinnya. Mana ada gadis bodoh yang memaksa masuk ke rumah seseorang dengan keadaan basah kuyup, dan meninggalkan seekor anjing dan anak kecil diluar dibawah hujan. Dan satu hal lagi, rumah itu merupakan satu-satunya rumah yang berdiri disitu sejauh mata memandang.
Pria itu lalu menggenggam tangan Indi, “Ah aku lupa. Namaku Arthur. Aku akan memperkenalkanmu dengan teman-temanku.”
Hal itu benar-benar membuat Indi panik, “Pak aku sudah minta maaf, dan aku benar-benar harus pergi seka-“
Perkataan Indi lalu terinterupsi oleh sesuatu. Kali ini Indi berada di suatu ruangan yang tampaknya merupakan sebuah kamar. Oke, aku pasti sedang kesurupan sekarang, batin Indi. Di ruangan itu tampak seorang anak perempuan yang seumuran dengannya, tengah duduk di kasur.
Anak itu berambut hitam bergelombang. Ia memakai baju tidur terusan berwarna putih. Ia tersenyum pada Indi.
“Tenanglah, kau tidak perlu khawatir. Setidaknya disini kau memiliki aku sebagai teman.” Kata anak itu.
“Dimana aku sebenarnya? Apa aku sedang dihipnotis atau semacamnya?” tanya Indi.
“Jika keadaanmu mulai membaik kita dapat keluar dari sini dan menjalankan misi.” Balas anak itu yang sama sekali tidak nyambung.
Sepertinya Indi tak berada di dunia nyata saat ini. Entah dia tengah dihipnotis oleh seseorang, atau ia sedang ada di dimensi lain. Mengingat sejak minggu lalu ia tahu kalau ada beberapa dimensi di dunia.
“Oh ya, siapa namamu?” tanya anak itu.
__ADS_1
Indi tahu bahwa percuma saja untuk menjawabnya, jadi ia memilih untuk diam. Anak itu lalu tersenyum. Wajahnya manis dengan dua lesung pipi.
“Liona. Nama yang indah.” Katanya.