Indi Go!

Indi Go!
Episode 78


__ADS_3

Hi guys! how are you? terima kasih buat para pembaca yang masih setia membaca Indi Go! Selamat Hari Lebaran ya, lewat ini author juga mau minta maaf atas segala kesalahan dari tokoh-tokoh Indi Go! maupun author pribadi. oh iya untuk kedepannya, Indi Go! akan rutin update setiap hari Sabtu dan Minggu pukul 22:00 WITA. Jadi nantikan terus ya. GBu ✨


\*\*


Pekat. Aura yang dipancarkan Noella tampak begitu hitam dan pekat. Indi jelas dapat merasakan aura keseriusian dari apa yang dikatakan Maddam Noella.


Ia tau betul kalau saat ini, ia tak bisa pergi maupun lari dari situ. Ia kini berada di antara hidup dan mati. Indi menelan ludah.


Di belakangnya, Catherine terbaring begitu lemah dan tak berdaya, sedangkan Jeannet, ia masih terus menggumamkan kalimat-kalimat itu. Kali ini tak ada lagi yang dapat ia andalkan, selain dirinya sendiri.


“Wajahmu saat takut. Sama persis seperti wajah Inggrit. Kau memang mirip dengan ibumu,” kata Noella, dengan senyumannya.



“Apa maksudmu?”


Indi menatap Noella penuh dengan kebencian, ketika Noella menyinggung tentang Ibunya.


“Kau tahu, karena semuanya akan segera berakhir, begitu pula dengan hidupmu. Aku rasa akan baik\-baik saja jika kau mengetahui semuanya. Lagi pula sudah tak ada orang yang dapat datang kemari, untuk dapat menolongmu,”


Senyum Noella kembali merekah. Ia menatap kedua mata Indi, lalu sebuah kilasan tampak muncul di depan matanya. Kini di depan Indi, ia dapat melihat apa yang dimaksud Noella. Ia melihat UCI.


Tempat itu, kini tampak lebih tenang. Meskipun dari beberapa gedung terdapat beberapa bumbungan asap bekas pertempuran. Beberapa gedung bahkan tampak hancur, dan rata dengan tanah. Indi lalu menangkap penglihatan yang membuatnya gemetar.


“Bisakah kau melihatnya?” suara Noella menggema di dalam kepala Indi.

__ADS_1


Di depan mata Indi, ia dapat melihat beberapa orang bertopeng yang sebelumnya dilihatnya kini terkapar kalah, dan yang lainnya berhasil ditangkap oleh murid-murid UCI. Arah penglihatan Indi kemudian berubah, kini ia melihat tempat terakhir kali ia bertemu dengan ibunya.


Padang rumput yang sebelumnya dilihat Indi, kini menyisahkan bongkahan-bongkahan tanah yang merekah. Indi mengedarkan pandangannya, dan melihat badan-badan boneka kayu yang kini berserakan, di sekitar situ.


Di situ juga terdapat beberapa anak UCI, yang terkapar dan terluka, yang kini tengah dibantu oleh beberapa anak UCI lainnya, dari tim medis. *Dimana Mama*? Batin Indi.



“Oh tenanglah, kau akan segera menemukannya,” suara Noella kembali bergema di dalam kepala Indi.


Tak jauh dari situ pandangan Indi menangkap, beberapa anak yang tengah membawa tandu. Jantungnya berdegub kencang, saat melihat siapa yang mereka angkat dengan tandu.


Pandangan itu semakin mendekat, lalu Indi mendapati hal yang tak ingin dilihatnya. Diatas tandu yang diangkat seseorang yang dikenalnya kini tengah terbaring tak berdaya. Tubuhnya dipenuhi luka-luka lebam, serta beberapa luka yang tampaknya masih baru. Indi dapat merasakan titik-titik bening bergelinang di kedua matanya. Liona.



“Sudahkah kau melihatnya?” tanya Noella, dengan nada mengejek.



“Keluar dari kepalaku!” teriak Indi.


Pandangan itu lalu mengabur, dan membawanya kembali berhadapan pada Noella. Langit malam semakin gelap. Dari jauh Indi dapat merasakan beberapa energi, yang mendekat.


“Sudahkah kau melihatnya? Dan kutebak kau pasti juga sudah sadar dengan beberapa energi yang tengah menuju kemari. Kalian sudah kalah telak, dan aku menyarankan lebih baik kau menyerahkan dirimu dengan baik\-baik. Dan aku berjanji bahwa kedepannya tak ada lagi kepahitan yang akan kau rasakan,” jelas Noella yang kini sudah berada tepat di depan Indi.

__ADS_1


Indi merasakan aliran darahnya mengalir lebih cepat. Ia dapat merasakan degub jantungnya pada setiap detik. Ia dapat merasakan semilir angin yang menyentuh kulitnya. Emosi membuncah dalam benaknya, dan pikirannya kini dikuasai oleh beragam penglihatan yang selama ini pernah dilihatnya.


SWUSH! Indi kini berada di belakang Noella lalu melayangkan pukulannya. PLANK! Indi terpental dengan cepat. Pukulan Indi sama sekali tidak menyentuhnya. Di sekitar Noella, tampak medan gelombang magnetis yang mengelilinginya.


“Luar biasa. Aku tidak pernah tahu kalau kau bisa melakukan hal yang sama seperti Rico. *Emotionless*. Anak dalam ramalan memang tak pernah mengecewakan. Seorang indigo murni. Kau akan menjadi koleksiku yang paling berharga,” tutur Noella.


Ia lalu menanggalkan jubah hitam yang dikenakannya. Noella memakai jaket kulit hitam, beserta celana panjang kulit bewarna hitam. Di balik jubahnya sebuah boneka ventriloquist bersanding pada belakangnya.


BOOM! Noella melompat beberapa meter ke belakang, menghindari sebuah pohon pinus yang baru saja terjatuh tepat di tempat ia berdiri tadi. Daun-daun pinus kering beterbangan di langit malam, akibat jatuhnya pohon itu.


“Aku tahu kau memiliki kemampuan telekinesis anugrah dari ibumu. Tapi yang kau lakukan barusan bahkan sangat sulit dilakukan oleh Inggrit ketika aku bertarung dengannya dulu,” jelas Noella sambil terkekeh.



“Oh, bodohnya aku. Untuk seseorang yang belum dapat mengontrol emosinya, kau sama saja dengan manusia tak berakal saat ini,” sambungnya.


Dari belakangnya, boneka ventriloquist itu mulai melayang. Detik berikutnya, boneka itu dengan cepat berada tepat di depan Noella, dengan dua tangannya yang terentang ke depan.


BANG! dua pohon di belakang Noella kembali tumbang. Namun kali ini kedua pohon itu tampak tumbang karena terpotong oleh sesuatu. Hal itu membuat pupil mata Noella melebar karena melihatnya.


“*Elementum*,” gumamnya.



\*\*

__ADS_1


__ADS_2