
“Apa yang kau lakukan disini?” Indi menatap Lisa nanar. Ia jelas tak bisa berpikir dengan jernih sekarang.
“Apa yang kau lakukan pada ayahku?” kali ini amarah jelas terdengar dari suaranya.
“Dari awal aku selalu disini Indi, menunggumu untuk datang,”kata gadis berambut putih itu.
“Menungguku? Apa maksudmu? Apa yang kau rencanakan?”
“Semua ini tak akan terjadi kalau kau bersikap baik malam itu. Tapi sudahlah, setidaknya semua berjalan sesuai dengan rencana. Dan kali ini kau tak bisa pergi lagi,”
“Rencana?” benak Indi berpacu dengan kencang saat ini. Jantungnya berdegub lebih cepat dari biasanya.
“Ya. Hantu cilik itu kali ini berhasil membuktikan perkataannya,”
Kali ini jantung Indi berpacu lebih cepat. Ia dapat merasakan aliran darahnya mengalir menuju jantungnya. Indi merasa seakan-akan hatinya dikoyak menjadi dua. Setelah semua yang dialami bersama, setelah semua kepercayaan.
__ADS_1
Kilasan-kilasan kejadian pun kembali berputar di kepala Indi, Ia ingat ketika hantu cilik itu menolongnya ketika di loteng, ia ingat ketika dia datang dengan bantuan bis berhantunya.
Ia menempuh ratusan ribu kilometer dengan cemas, dan melihat kejadian tentang seseorang yang dipercaya sebagai orang yang berkhianat, tetapi sedetik pun ia tidak pernah berpikir kalau hantu itu akan melakukan hal ini padanya. Yang Indi tahu bahwa dia hanya pernah menyelamatkan Indi. Dan kini dia muncul di depan Indi, tepat disamping Lisa.
“JEANNET,” kata Indi. Suaranya bergetar. Emosi kembali menguasai dirinya. Tanpa ia sadari, titik bening terjatuh dari matanya. Tapi kali ini ia merasakannya. Ia merasakan kesedihan.
“Apa yang kau lakukan Jeannet?”
Hantu cilik itu diam, wajahnya murung. Ia tak berani melemparkan pandangannya pada Indi.
“Tak apa. Aku akan menjelaskan semuanya padanya. Kau sudah melakukan semua tugasmu dengan baik. Dan kau tak bisa menyalahkannya Indi, karena sejak awal kaulah yang terlalu bodoh karena jatuh dalam perangkap,” kata Lisa.
Indi menatap hantu cilik itu, andai ia memiliki alat penyedot hantu yang dimiliki anggota ghost buster ia jelas sudah menyedotnya dengan alat itu sekarang.
“Apa maksudmu? Bukankah hari itu kau bilang, bahwa kalian berniat menolongku dari the sanctus?”
“Itu merupakan salah satu cara agar kau percaya, dan aku berhasil. Rencanaku selalu berhasil. Kau datang kesini dan mengkhianati teman\-temanmu. Meski aku harus turun langsung untuk mengubah sedikit alur rencana,”
Sekilas satu per satu ingatan itu muncul di benak Indi. Hari dimana kejadian bis itu terjadi, sejak awal tujuan Jeannet memanggil bis itu bukanlah untuk mempercepat perjalanan mereka, tapi untuk membawa mereka kembali ke UCI.
__ADS_1
Ia juga mengingat saat Jeannet muncul secara tiba-tiba di hutan peri. Lalu ingatan tentang Lisa. Sejenak Indi terdiam. Ia lalu merogok kantong celananya. Tangannya bergetar melihat apa yang baru saja dikeluarkannya. Secarik kertas yang berisikan sebuah alamat dan koordinat.
“Ah, kau masih menyimpan kertas itu. Walaupun pada akhirnya aku harus mengubah jalannya rencana, karena kau tidak mengikuti instruksiku,”
Indi lalu mengingat kejadian itu, saat dimana badai dan petir tiba-tiba muncul, yang membuat mereka harus masuk ke sebuah rumah, dan membuat Indi harus meninggalkan teman-temannya. Itu semua tidak terjadi karena alam, itu semua sudah menjadi rencananya.
Rahang Indi berkedutan. Amarah jelas tengah menguasainya sekarang. Ia bangkit dan menyandarkan ayahnya di pinggir sofa.
“Kalian menipuku! Sejak awal bukan aku yang kalian inginkan. Apa sebenarnya rencana kalian?”
Lisa menyelipkan rambutnya ke balik telinga dengan lembut, “Ya dan tidak,” katanya. “Otakmu yang kecil, mungkin terlalu rumit untuk memahaminya.Tetapi intinya, penderitaanmu akan segera berakhir Indi. Dan pada akhirnya kau akan mendapatkan kehidupan normal yang kau damba-dambakan selama ini,”
Indi tak tahu bagaimana Lisa bisa mengetahui keinginan terbesarnya. Oke, Indi sudah ingat sekarang, Lisa adalah seorang Indigo Cerebellum, ia dapat dengan mudah membaca pikirannya.
“Intinya, sekarang kau harus ikut denganku, dan kembali ke UCI.”
“Setelah semua yang kalian lakukan, kalian pikir aku akan menurutinya?” Indi menatap wajah tanpa ekspresi Lisa.
“Aku sudah menduganya. Aku tidak mendapat gelar sebagai seorang Indigo terbaik di UCI tanpa sebuah pembuktian. Akan ku selesaikan semuanya sekarang.”
__ADS_1
***