Indi Go!

Indi Go!
Episode 75


__ADS_3

Gadis yang dilihat Indi, benar\-benar Ibunya. Hanya saja ia tampak sepuluh? Tidak, tapi dua puluh tahun lebih muda dari ibunya yang ia kenal.


Tidak salah lagi, Indi jelas masih mengingat foto-foto yang sering diperlihatkan ibunya saat ia muda. Dan gadis, yang dilihatnya sekarang, jelas adalah ibunya.


Apa yang sebenarnya terjadi, batin Indi. Ini jelas bukan pemandangan yang ia ingin lihat ketika kematiannya.


“Apa yang ingin kau sampaikan?” tanya lelaki itu, dengan kedua alisnya yang bertautan.



“Anak itu. Aku melihat anak itu akan terbunuh,” jawab ibu Indi \(yang lebih muda\), rautnya penuh dengan ketakutan. Tubuhnya sedari tadi, bahkan tak berhenti gemetar.


Lelaki itu lalu memegang kedua bahu Inggrit. Tatapannya lekat menatap kedua mata Inggrit. Inggrit menggigit bibirnya. Titik-titik bening tampak di ujung kedua matanya.


“Kita jelas tidak akan membiarkannya. Kemampuannya dapat membantu kita di masa depan nanti, dan membuktikan bahwa penglihatanmu itu salah!” kata lelaki itu, nadanya kini meninggi.


Inggrit menggeleng. Air mata kini membasahi pipinya. Rautnya jelas menunjukkan kesedihan dan penyesalan.


“Tidak. Semua ini tidak akan berhasil. Aku sudah melihatnya. Dan apa yang kulihat adalah sesuatu yang pasti datangnya. Takdir. Dan anak itu, akan dibunuh oleh seseorang, dan kita tak akan pernah tahu tentang apa yang berikutnya terjadi,” kini emosinya pecah bersama tangisan.



“Kita berdua tak bisa terus bersama!”



“Tidak!” bentak lelaki itu. “Apa yang kau lihat hanyalah penglihatan biasa. Dan tak pernah ada yang namanya takdir yang telah ditentukan. Kitalah yang menentukan takdir kita sendiri! Apapun yang kau lihat. Kita bisa mengehentikannya sebelum semua hal itu terjadi.”


Apa yang dilihat Indi perlahan mengabur. Ia lalu berada di sebuah tanah lapang yang ditutupi rerumputan. Hujan lebat menutupi semuanya.


Ini bukanlah alam baka. Apa yang dilihat Indi adalah masa lalu. Masa lalu yang benar-benar pernah terjadi. Di tengah hujan, Indi dapat melihat Ibunya bersama lelaki itu. Inggrit tengah duduk dengan lututnya, tampak menggendong seseorang.


Sementara lelaki itu berdiri dengan kedua tangannya yang memegang sebilah pedang emas.


Walaupun di tengah hujan namun Indi dapat dengan jelas melihat lelaki itu yang terluka, dan terengah-engah. Di depan mereka, tampak dua orang bertopeng yang mengenakan jubah bewarna putih.


Salah satu dari mereka yang lebih tinggi memakai topeng bewarna hitam, dengan wajah orang,. Sedangkan yang satu lagi, topeng berwarna merah, dengan wajah iblis bertanduk.

__ADS_1


Salah satu orang berjubah itu, tampak seperti menggengam sesuatu, namun tak bisa dilihatnya. Sama seperti yang pernah Lisa lakukan.


“Siapa kalian? Apa yang kalian rencanakan dengan anak ini?” tanya lelaki itu dengan berteriak. Kemeja merah padamnya tampak koyak, dan penuh dengan bekas sabetan. Celana jeans birunya, tampak robek menganga di bagian lutut.


Tak ada sama sekali respon dari kedua orang berjubah itu. Salah seorang dari mereka, yang memakai topeng putih lalu mengangkat salah stau tangannya, lalu mengarahkannya pada Inggrit, ibu Indi.


Detik berikutnya, Indi melihat apa yang ada di pelukan Inggrit mulai terangkat dan melayang. Apa yang dilihatnya jelas membuatnya terbelalak. Orang yang dipeluk Inggrit, seorang anak kecil, berambut pirang dan berambut pirang. Jeannet.


“Tidak akan kubiarkan!” ungkap Inggrit.


Dia mengangkat salah satu tangannya, mengarahkannya pada Jeannet, sedangakan tangan yang satu lagi diarahkannya pada orang-orang bertopeng itu.


Indi kini melihat Jeannet beberapa meter dari atas tanah. Tampaknya Inggrit dan orang bertopeng itu memiliki kemampuan yang sama, untuk menggerakkan sesuatu hanya dengan pikiran mereka.


BUM! Orang bertopeng putih, terhempas satu meter di udara, sedangkan yang bertopeng merah berusaha untuk mempertahankan pijakannya agar tak terpengaruh pada daya yang mendorongnya.


“Arthur, ini saatnya!” teriak Inggrit.


Arthur, nama itu terdengar tak asing. Indi sepertinya pernah mendengar sesuatu tentang pria bernama Arthur. Tapi ia tak bisa mengingatnya dengan begitu jelas. Lelaki itu mengangguk, kemudian berlari ke arah orang bertopeng merah, dengan siap menebas.


“Pilihan yang ceroboh,” ucap seseorang di belakang Inggrit.


Kaos hitamnya kini tampak lusuh dan koyak akibat beberapa sabetan. Bagian lengan serta kakinya ditutupi beberapa luka, yang masih baru.


“Inggrit!” teriak Arthur yang kini dengan cepat berbalik ke arah Inggrit.



“Jangan pernah membelakangi musuhmu,” ucap orang bertopeng merah , lalu dengan cepat menyentakkan tangannya pada Arthur.


SWUSH! Arthur terlempar sejauh beberapa meter. Orang bertopeng putih itu lalu dengan cepat mengambil Jeannet yang berada beberapa meter dari atas tanah.


“Kami minta maaf, tetapi anak ini sekarang menjadi milik kami. Selamat tinggal.” Kata orang bertopeng putih.


Kedua orang itu kemudian, berlari ke arah utara, lalu Indi melihat sesuatu yang aneh. Indi dapat melihat jelas kalau kedua orang itu berlari menuju padang rumput yang tampak tak ada ujungnya, namun entah bagaimana mereka bisa langsung menghilang.


Tidak. Mereka tampak seperti tersedot ke dalam sesuatu. Terlihat seperti sebuah portal yang tak kasat mata.

__ADS_1


Hujan turun semakin deras di tempat itu. Inggrit dan Arthur terkapar tak berdaya setelah serangan yang mereka terima tadi. Indi tak pernah tahu, siapa orang-orang itu, atau pun tujuan mereka menangkap Jeannet.


Seingat Indi, Jeannet pernah berkata padanya kalau ia mati, tidak. The Sanctus. Jeannet mati dibunuh oleh the sanctus.


Pandangan yang dilihat Indi lalu kembali mengabur.


Lalu Indi berada, di ruangan yang sama dengan penglihatan pertama yang ia lihat. Namun saat ini, Ibunya dan Arthur sudah berada di dalam. Inggrit tampak membelakangi Arthur.


Rautnya penuh dengan kesedihan dan ketakutan. Di belakangnya Arthur, mendekatinya lalu memeluknya. Melihat pemandangan itu, membuat Indi sangat amat terbelalak, dan sedikit mual.


“Jangan menyalahkan dirimu. Kau tidak perlu terbeban dengan semua ini,” kata Arthur pelan.


Andai Indi berada di tempat itu, ia sudah pasti akan menghajar pria itu karena dengan seenaknya memeluk Ibunya. Hanya saja ia tak dapat melakukan apa-apa.


Saat ini ia sama seperti seseorang yang sedang menonton TV. Hanya saja ia tak memiliki pilihan untuk mematikan maupun mengganti channel yang ia nonton.


Inggrit, meringis kemudian melepaskan tangan Arthur darinya. Ia menatap Arthur dengan penuh kekecewaan.


“Sudah ku katakan padamu! Semuanya sudah kulihat. Aku melihat Jeannet pasti mati. Kau tidak mempercayainya!” ucapnya terisak.


Arthur memandang Inggrit dengan iba dan perasaan bersalah. Lelaki itu sepertinya paham betul kalau ia adalah orang yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi.


“Aku. Aku minta maaf karena meragukanmu. Aku berjanji kedepannya aku akan terus mempercayaimu.” katanya. Lengannya kini dilingkarkannya kembali pada pinggang Inggrit, dan wajahnya disandarkannya pada pundak gadis itu.


Inggrit lalu berbalik menghadap Arthur. Ia menatap mata lelaki yang lebih tinggi darinya itu, kemudian menaruh kedua tangannya pada pipi Arthur. Hal itu membuatnya harus sedikit berjinjit.


“Kau percaya padaku?” tanya Inggrit, nadanya kali ini berubah serius.


Arthur menjawabnya dengan anggukan, “aku percaya padamu,” katanya.


“Apa kau mencintaiku?” tanya Inggrit lagi.



“Tentu saja aku mencintaimu,” jawab Arthur dengan cepat.


__ADS_1


“Kalau begitu kita harus pergi, dan meninggalkan tempat ini.”


__ADS_2