
CHAPTER 19
Kata Perpisahan
Apa yang dilihat Indi berikutnya sama seperti adegan-adegan film horror pada umumnya. Tubuh pria itu tampak dirasuki oleh sesuatu, sekujur tubuhnya gemetar, kedua matanya mulai memutih. Sedang Noella, ia jelas sama sekali tidak tertarik dengan apa yang terjadi di depan matanya. Beberapa detik berikutnya pria itu ambruk di lantai.
Tubuhnya kini berhenti gemetar, kedua pupil matanya mulai Nampak. Indi dapat melihat pria itu kini mulai berdiri, namun ia jelas merasakan kalau itu bukan lagi manusia. Pria itu lalu meregangkan setiap sendi pada tubuhnya yang kemudian menghasilkan bunyi kretek kretek, hal itu berhasil membuat bulu kuduk Indi berdiri. Pria itu tersenyum. Dari kedua matanya Indi dapat melihat aura yang tak sama dengan manusia.
“Sudah lama rasanya,” ucap suara dari pria itu, yang kini berbeda. Suara yang Indi dengar barusan, terdengar begitu dalam dan berat.
“Apa kau yakin dengan apa yang baru saja kau lakukan?” tanya Noella, dengan sarkas lalu melipat kedua tangannya.
__ADS_1
“Apa kau meragukanku?” ucap pria itu.
Noella mengangkat salah satu alisnya, “Oh tentu tidak, karena aku yakin kau sudah mengatakan kalau Arthur dan Eric tak akan pernah curiga pada apa yang suah kita lakukan, namun kini kau harus memasuki tubuhnya dengan cara paksa, dan akan terus membakar rohnya hingga ia mati!” Indi dapat merasakan ketegangan dari keadaan itu, namun apa yang terjadi berikutnya benar-benar tak pernah dipikirkannya.
Pria yang kini dirasuk itu berjalan mendekati Noella secara perlahan. Ia mendekatkan kepalanya pada salah satu telinga Noella, lalu mulai membisikan sesuatu padanya. Apapun itu, namun Indi jelas mengerti kalau hal yang dikatakan pria kerasukan itu adalah hal yang buruk, sangat amat buruk yang bahkan dapat merubah raut meh! Mix emo milik Noella berubah menjadi wajah yang penuh dengan ketakutan.
Tampak puas dengan perkataannya, pria itu menarik kepalanya menjauh dari telinga Noella, menatapnya sekilas sambil tersenyum, lalu mulai berjalan kearah pintu ruangan itu. Tepat sebelum bayangan pria itu hilang dari bingkai pintu, ia berhenti sejenak,
“Saat ini sudah terlambat bagi kita untuk khawatir dengan hal-hal yang ada dalam benakmu, kita sudah jauh melangkah dan aku tak ingin semua hal yang sudah kubangun sejak awal gagal karena manusia-manusia bodoh,” kata pria itu lalu berlalu dari tempat itu, meninggalkan Noella dan keheningan.
Saat ini apa yang terjadi pada Catherine dan Fanny, bagaimana dengan Mama, apa mereka baik-baik saja? Apa hal yang kulakukan berpengaruh pada mereka?batin Indi benar-benar bergejolak saat ini. Tunggu bagaimana ia masih dapat membatin jika ia berada dalam memori orang lain. Oke, hal itu mungkin bukan menjadi hal urgent yang harus dipikirkannya.
__ADS_1
“Bagaimana aku dapat keluar dari sini?” Indi berbicara pada dirinya sendiri.
“Kau tidak bisa,” ucap sebuah suara.
Indi menoleh kesana kemari mencoba mencari sumber suara itu. Ia berpikir kalau hanya dia yang terjebak pada pertunjukan memori tanpa batas.
“Kau terjebak disini bersama-sama denganku, sampai salah satu dari jiwa kita mati,” suara yang didengarnya kini menjadi lebih jelas terdengar. Indi tidak ingin menebak, tapi ia jelas mengenal dengan amat jelas.
“Noella.”
__ADS_1