
Udara malam itu semakin dingin seiring bertambah naiknya bulan di langit. Daun-daun pinus beterbangan dengan berhamburan di langit. Beberapa pohon pinus tampak tergeletak berhamburan di tanah. Kepulan asap yang entah darimana, membumbung pada pepohonan yang terjatuh.
BOOM! Beberapa pohon kembali terjatuh. Di antara pepohonan itu, Noella sama sekali tampak tak kewalahan. Di depannya, Indi yang sedari tadi masih kehilangan kesadarannya, tampak mulai kelelahan setelah semua serangan bombardir yang dilancarkannya.
“Sepertinya aku tak perlu mengotori tanganku untuk mengalahkanmu. Kau lebih ahli dalam menyakiti dirimu sendiri. Tubuh lemahmu masih belum terbiasa dengan energi yang diperlukan seorang *elementum*,” kata Noella, yang bahkan sama sekali tidak bergeming dengan serangan yang Indi lancarkan barusan.
Di depan Noella Indi tampak terengah-engah. Perlahan ia dapat merasakan kesadarannya kembali. Diedarkan pandangannya. Apa yang sebenarnya terjadi disini? Batin Indi.
Indi jelas tak dapat mengingat segala kekacauan yang telah diperbuatnya. Namun, ia yakin kalau semua ini disebabkan oleh dirinya, melihat bagaimana lelahnya ia sekarang.
Di depan Indi, boneka kayu Noella melayang dan mengeluarkan bunyi kretekan dari setiap sendinya. “Sepertinya kau sudah sadar. Namun sayang, karena semuanya sudah akan berakhir disini,” ucap Noella.
__ADS_1
Indi dapat merasakan, kumpulan energi yang besar tengah menuju ke tempat mereka. Sedang di depannya ia juga dapat merasakan aura yang gelap dari Noella. Ia benar-benar akan berakhir disini.
“Apa yang sebenarnya kau rencanakan? Kenapa kau begitu terobsesi pada ramalan itu!” Indi jelas menumpahkan emosinya kedalam setiap kata\-kata yang barusan dilontarkannya.
Noella tersenyum sinis. Detik berikutnya pandangannya, berubah iba pada Indi, “Kau tak perlu menggunakan kemampuan interiorem padaku sayang. Karena aku bukan lagi manusia yang dapat dikendalikan oleh emosi,”
Ia kemudian berjalan mendekati Indi. Namun, Indi dapat merasakan kalau niat membununhnya sudah mulai meredam, “Akan kuceritakan semuanya padamu, sebagai hadiah terakhirmu,” sambung Noella sambil menyentuh pipi Indi dengan lembut.
“Ini bukan sekedar ramalan sayang. Ini adalah sesuatu yang pasti terjadi. Ku yakin kau pasti sudah tahu, bahwa sebelum ia mati, Jeannet adalah seorang Indigo sama seperti dirimu. Ia adalah seorang tempus dengan kemampuan unik. Ramalan,” jelasnya.
__ADS_1
“Oke jelas keras kepala dan sifat terburu\-burumu itu berasal dari ayahmu. Pelan\-pelan saja sayang, akan kujelaskan dengan lebih detail,”
Indi kembali ingin memprotes pada apa yang barusan di katakan Noella. Ia mengatakan hal-hal itu, seolah-olah dia sangat mengenal kedua orang tuanya.
“Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi kita akan menuju ke hal itu nanti. Kembali ke topik. Jeannet datang ke UCI lima belas tahun lalu, dan tidak ada yang salah dengannya, kecuali hal yang berkaitan dengan kemampuannya. Anak itu, ia tak dapat mengendalikan kemampuannya. Tak seperti indigo tempus pada umumnya, ia tak melihat penglihatan, melainkan mengucapkan setiap hal yang akan terjadi di masa depan. Setiap kali ia mengucapkan sesatu yang berkaitan dengan penglihatannya, ia akan menjadi seperti orang yang sedang dirasuki, lalu mengucapkan hal\-hal yang terkadang harus kami pecahkan,” kata Noella sambil memandang hantu cilik itu, yang masih saja menggumamkan hal\-hal aneh.
Indi menautkan kedua alisnya. Ia sama sekali tak dapat menemukan, hal masuk akal dari semua penjelasan Noella. Lalu apa kaitan semua hal itu dengan ramalan bodoh itu, batin Indi.
“Aku tahu, aku akan mempersingkatnya agar kau paham. Ia baik\-baik saja, hingga hari itu, ia mengucapkan ramalannya yang benar\-benar mengacaukan segalanya,” pandangan Noella menggelap saat kata terakhir terlontar dari mulutnya.
__ADS_1
Noella lalu memandang Indi, lalu melebarkan senyumannya dan memicingkan kedua matanya, “Hal itu terjadi sebelum aku membunuhnya.”
Terima kasih yang masih setia membaca Indi Go! maaf atas keterlambatannya. Jangan lupa baca Indi Go! besok oke. GBu ✨