
***
Raut Indi jelas berubah seketika mendengar perkataan Catherine. Di tangan Indi, sebilah pisau telah diserahkan dari Catherine. Bilah pisau yang sama yang dilempar Lisa saat itu. Mata Catherine masih lekat menatap Indi.
“Catherine, aku tahu kalau kau membenciku karena perkataanku tadi. Tapi aku tak bermaksud untuk melukaimu hingga begini. Saat ini kau hanya tak bisa berpikir dengan jernih,”
Tatapan gadis berambut cokelat itu mulai berubah. Ia mulai menautkan alisnya. Rautnya berubah penuh dengan kebencian. Apa yang terjadi dengannya? Tidak mungkin hanya karena perkataanku ia bisa seperti ini. Mungkin ia memang memiliki gangguan kejiwaan, batin Indi bergejolak.
Dalam sekejap, pisau di tangan Indi direbut Catherine. Hasrat membunuh begitu terasa darinya.
“Jika kau tak ingin membunuhku, maka aku akan membunuhmu untuk mengakhiri semua ini,” kata Catherine dengan begitu serius.
SLASH! Cipratan darah terpancar dari pipi Indi. Kini goresan pisau sepanjang 5 CM menganga di pipinya. Batinnya masih terlalu terguncang dengan apa yang barusan saja terjadi. Catherine yang berada di depannya kini kembali menerjangnya. Pisaunya membelah udara, ketika Indi berhasil menghindari sabetannya.
“Catherine apa yang kau lakukan?”
__ADS_1
“Jika kau mati, semuanya akan selesai sampai disini!” teriak Catherine, sambal menyabet pisau kea rah Indi.
“Hentikan Catherine, kau hanya tak bisa berpikir jernih sekarang ini!”
“Aku benar\-benar berpikir jernih kali ini!” sahut Catherine lalu menerjang Indi.
Kemampuan Catherine jelas bukan tandingan Indi. Hampir setiap gerakan Indi mampu dibacanya. Indi mencoba mengatur nafasnya. Ia mencoba berpikir jernih tentang apa yang sebenarnya terjadi. Walau tentu saja sangat sulit, untuk berpikir sambal menghindari serangan Catherine.
Sayatan pisau kembali menerjang Indi, dan melukai telaak tangannya. Namun kali ini, tampaknya ia sengaja melakukan hal itu. Melihat celah, Catherine lalu menggengam pergelangan tangan Indi. Salah satu tangannya lalu melingkar di leher Indi dengan bilah pisau yang menyentuhnya.
“Sekarang kau tak bisa lagi lari,”
Indi menelan ludahnya. Jika apa yang ia rencanakan salah, maka hidupnya akan berakhir disini. Ia membiarkan emosinya mengambil alih dirinya.
“Catherine, aku bisa merasakanmu. Aku tahu beban yang kau pikul selama ini. Kau bisa melepaskannya padaku. Aku tak akan membencimu. Karena aku tahu, semua ini kau lakukan bukan hanya untuk dirimu,”
__ADS_1
Sedetik keheningan terjadi. Indi masih bisa merasakan dingin dari bilah pisau di lehernya. Perlahan ia, memindahkan tangan Catherine dari lehernya.
“Kau tak perlu lagi menanggung semuanya sendiri, mulai saat ini.”
Indi melingkarkan kedua tangannya, lalu memeluk Catherine yang tengah membeku. Perlahan genggaman pisau Catherine melonggar. Tatapannya yang tadinya kosong kembali. Matanya mulai berair. Tapi kali ini, air mata itu karena emosi miliknya. Dia menjatuhkan pisau itu, lalu membalas pelukan Indi.
“Terima kasih. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu.”
Indi melonggarkan pelukannya. Ia menghembuskan nafas,bersyukur karena apa yang ia lakukan barusan berhasil. Dugaannya ternyata benar.
“Sekarang aku tahu kenapa, semua ini bisa terjadi. Hanya ada satu orang yang bertanggung jawab akan hal ini,” kata Indi geram. “Emosi manusia bukanlah sesuatu yang bisa dipermainkan.”
Sejak awal Indi sudah memikirkannya. Ia bukanlah tipe orang yang emosinya dapat berubah sewaktu-waktu. Dan ia paham betul kalau Catherine juga begitu. Perkataan Catherine ternyata benar.
“Kita masih berada di perangkap mereka,” kata Catherine.
Indi mengangguk. “Tampaknya sejak awal mereka sengaja membuat kita terjebak disini. Apapun jebakan itu. Aku belum akan puas sebelum aku melayangkan tanganku pada orang itu.”
***
__ADS_1