Indi Go!

Indi Go!
Episode 45


__ADS_3

Perkataan barusan membuat mata Indi membelalak. Saat ini ia tidak sedang dihipnotis maupun berada di dimensi lain. Ia berada di memori Liona. Semua yang ia lihat adalah bagian dari kehidupannya. Ruangan itu lalu mulai mengabur.


Kali ini Indi berada di jalanan. Di depan jalan itu sebuah rumah berdiri. Rumah yang tak asing lagi baginya. Seorang anak perempuan lalu keluar dari rumah itu, diikuti dengan seorang wanita dengan jas dokter. Ibu? Batin Indi. Jika ingatan Indi benar, saat ini adalah lima tahun yang lalu.


“Kau sudah melihatnya kan?” ucap suara lelaki di sampingnya.


Itu lelaki yang sama, Arthur. Hanya saja kali ini, ia mengenakan setelan serba putih. Indi berpikir kalau-kalau ia berpakaian seperti itu karena ingin mendatangi acara duka. Tetapi, sejauh mata memandang, tak ada rumah duka yang dilihat Indi disitu.


“Dia akan jadi misi pertamamu. Kau harus menjaganya baik\-baik. Jangan sampai ia lolos dari kita.” Kata Arthur.


Indi tak mengerti. Kenapa Liona memiliki misi untuk menjaga Indi. Pandangan itu lalu mengabur. Kali ini Indi berada di halte, di depan sekolahnya. Hujan gerimis mengguyur hari itu.


Indi melihat beberapa murid yang lari berhamburan ketika bunyi bel masuk bergema. Indi ingat sekarang. Ia benar-benar ingat bahkan setiap detailnya. Ia berada di hari dimana kehidupan normalnya direnggut. Ingin rasanya ia beranjak dari halte itu, namun tak bisa. Sepertinya ia benar-benar terkurung dalam memori Liona.


Hujan mengguyur semakin lebat. Entah apa yang ditunggu Liona di tempat ini. Tapi sepertinya ia tengah menunggu seseorang. Beberapa menit berselang, seseorang tampak mendekat ke halte. Ia menggunakan mantel hujan hitam.


“Maafkan aku Liona. Hujan pagi ini membuatku terlambat bangun. Sekali lagi aku minta maaf,” katanya dari balik mantel hitamnya. Seorang gadis batin Indi. Suaranya jelas tak asing di telinga Indi.



“Aku tahu, mereka sudah bergerak. Kita tidak boleh membiarkannya pergi,” kata gadis itu.



“Erik dan Linda juga sudah siap. Kita tak boleh mengecewakan Arthur.” Sambungnya.

__ADS_1


Gadis itu lalu membuka tudung mantelnya. Kali ini Indi melihatnya dengan jelas. Satu-satunya orang yang dianggapnya sebagai teman dekatnya. Satu-satunya anak yang mengerti dan menerima keadaannya. Satu-satunya gadis yang tak akan meninggalkan Indi setiap kali ia terlibat masalah di sekolah. Via.


Apa yang dilakukannya disini? Kenapa ia mengenal Liona? Indi benar-benar tak mengerti. Tanpa disadarinya, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Barulah Indi sadar, kalau sedari awal kata “Normal” itu memang tidak ada di kehidupannya. Selama ini kehidupannya selalu diawasi.


Memori itu lalu kembali mengabur. Indi sudak muak dengan semua yang dilihatnya. Ia tak ingin melihat hal lain lagi. Namun ia tak bisa. Kali ini ia berada disebuah tempat yang tak dikenalinya.


Di sebuah ruangan kosong, berdinding putih bersih. Disana Indi melihat Via, masih lengkap dengan seragam sekolahnya. Ia berdiri dengan raut panik.


“Mereka mulai bergerak. Kita tak bisa membiarkannya,” katanya.


Pintu di ruangan itu lalu terbuka. Indi begitu terkejut melihat siapa yang masuk. Lelaki dengan perawakan tionghoa, dengan setelan serba putih. Dia pria yang sama, yang ada di perpustakaan. Pria yang sama juga yang mengejar ia dan ibunya.


“Tenanglah. Aku akan menanganinya,” katanya.




“Tenanglah, aku akan membawanya dengan selamat, tanpa intervensi mereka,” kata Erik.


Memori itu kembali mengabur, namun sesuatu mengguncang Indi. Guncangan itu cukup kuat untuk membatalkan kilasan memori berikutnya.


“Indi!”


Mata Indi lalu seakan terbuka. Di depannya Fanny tengah mengguncangnya. Wajahnya tampak pucat.

__ADS_1


“Apa yang terjadi padamu?” tanya Indi.


Fanny menggeleng. “Kita harus mencari Liona lalu pergi dari tempat ini! Tempat ini adalah jebakan!”


“Apa?”



“Tak ada waktu untuk menjelaskannya, yang jelas kita harus pergi dari sini.” Katanya lalu mencengkeram pergelangan tangan Indi. Indi lalu menarik tangannya.



“Tidak. Kita tak perlu mencari Liona,” kata Indi.


Fanny menatap Indi heran, “Apa yang terjadi denganmu? Tempat ini pasti sudah menghipnotismu,”


“Tidak. Tempat ini memperlihatkanku siapa Liona sebenarnya! Kita tak bisa mempercayainya Fanny. Dia salah satu dari mereka!” kata Indi meyakinkan.



“Mereka siapa?”



“The Sanctus!”

__ADS_1


Gimana episode kali ini? Bikin greget? Heheheh... Btw author udah ganti cover Indi Go! Nih, komen dibawah tentang covernya ya. Jangan lupa vote, comment, and share ya.


Thank you


__ADS_2