
Indi berbalik dan menghadap Liona. Gadis mungil itu tak lagi memakai hoodie hitam ukuran besar. Ia kini mengenakan jaket tanpa hoodie berwarna putih yang baru ritsletingnya baru saja diturunkan hingga sedada. Warna matanya yang sewarna api, tampak menyala di ruangan gelap itu.
“Bagaimana bisa?” tanya Indi, kebingungan.
Indi jelas tampak kehabisan akal, melihat keberadaan Liona di ruangan itu. Bagaimana tidak? Terakhir kali ia meninggalkan Liona bersama Fanny di rumah tak berpenghuni yang lokasinya di pulau antah berantah.
Belum lagi satu-satunya alat transportasi mereka, dipinjamnya, tidak, lebih tepatnya dicurinya sudah sampai di negara sang Garuda.
Liona menatap Indi lalu menyunggingkan senyuman khasnya. Hal itu membuat Indi benar-benar merasa bersalah. Mengingat ia sudah berpikiran dangkal tentang Liona. Indi meninggalkannya karena ia adalah salah satu anggota the sanctus. Namun, ia sudah mengetahuinya dari Catherine kalau the sanctus bukanlah tokoh jahat.
“Aku senang kau baik-baik saja,” kata Liona.
Perkataan Liona tampaknya membuat Indi terdiam seribu bahasa. “A-aku minta maaf,” kata Indi pelan. Wajahnya tertunduk tak berani menatap Liona.
“Tidak apa\-apa, dari awal semua yang kau lakukan bukanlah karena kesalahanmu,”
Mata Indi mulai berkaca-kaca. Ia hendak memeluk Liona, namun sebuah ledakan dahsyat menghentikannya. Langit-langit ruangan itu tampak menjatuhkan serbuk-serbuk kayu. Retakan-retakan mulai muncul di dinding-dinding ruangan.
“Sudah dimulai. Kita harus bergegas!” seru Liona, “Indi tolong bantu aku, kita harus mengeluarkan Catherine,”
Indi mengangguk. Ia tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi diluar sana, tapi ia dapat merasakan energi yang luar biasa. Liona menggeledah Joe dan John, yang menurut Indi sedikit aneh, lalu melemparkan sebuah kunci pada Indi. Tampak mengerti dengan maksud Liona, Indi segera melepaskan rantai yang terpasang di tangan dan kaki Catherine.
Indi membantu gadis manis itu berdiri. Seluruh badannya begitu lemah. Kakinya bahkan bergetar ketika ia mencoba berjalan. BUM! Bunyi ledakan kembali terdengar, kali ini ledakan yang terjadi begitu kuat. Ledakan tadi membuat retakan di ruangan itu melebar.
__ADS_1
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Indi, dengan sedikit berteriak.
“Tidak ada waktu untuk menjelaskan! Kita harus segera keluar dari ruangan ini, atau kita akan terkubur hidup\-hidup!” seru Liona, yang kini membantu Indi untuk membopong Catherine.
Ketiga gadis itu, keluar dari ruangan itu. Hanya saja sepertinya perjalanan mereka tak akan mudah. Di luar ruangan, terhempar lorong panjang tak berujung, yang tampak sudah tua dan usang. Dinding-dindingnya, disusun dari batu bata yang kini tampak berlumut. Tak ada pencahayaan di lorong itu. Getaran dari ledakan kembali terjadi, dan kali ini hal itu memicu retakan dari dinding-dinding lorong, yang mulai menjalar dengan cepat.
“Bagaimana caranya kita keluar?” tanya Indi panik.
“Lorong ini merupakan satu\-satunya jalan keluar kita,”
“Itu dia!” seru Indi yang tampaknya baru saja terpikirkan sesuatu.
“Kita bisa\-“
__ADS_1
“Tidak bisa! Aku tahu yang kau pikirkan, tapi kita tidak bisa, tidak ada jalan lain Indi. Saat ini kita berada di bawah tanah!” potong Liona yang telah menebak ide Indi.
Indi hendak memprotes Liona, namun Catherine menatapnya lalu menggeleng pelan. Raut wajah Indi mulai diselimuti kepanikan. Mereka jelas tidak bisa keluar dari situ dengan kondisi lorong, dan ledakan-ledakan yang terjadi. Ketiga gadis itu terus berjalan tertatih, karena harus membopong Catherine.
“Tinggalkan saja aku disini,” ucap Catherine yang menghentikan langkah mereka.
“Apa maksudmu?” protes Indi.
“Kalian masih sempat keluar dari sini jika tidak membawaku. Aku hanya akan memberatkan kalian,” kata Catherine lemah.
“Hentikan Catherine! Aku pernah melakukan kesalahan dengan meninggalkan teman, dan aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk dua kali,” kata Indi.
Tidak ada cahaya disitu, tapi senyuman Liona tampak samar tersimpul di wajahnya. Sedetik kemudian ledakan kembali terjadi. Bunyi retakan yang menjalar cepat terdengar begitu keras. Dinding dan langit-langit lorong mulai bergetar hebat. Detik berikutnya langit-langit lorong ambruk dengan cepat.
***
__ADS_1