Indi Go!

Indi Go!
Episode 29


__ADS_3

“Kau tahu, sepertinya jemputan kami sudah datang.” Kata Fanny.


“Apa maksudmu?”



“Ya, ternyata salah satu ponsel kami kembali berfungsi, dan kami berhasil menghubungi keluarga kami. Mereka akan tiba sebentar lagi.” Sambung Liona yang tampaknya mulai paham dengan apa yang dipikirkan Fanny.



“Hei, ini sudah terlalu malam bagi kalian untuk keluar. Terlalu berbahaya bagi seorang gadis untuk bepergian, menginaplah disini malam ini. Besok pagi kalian dapat melanjutkan perjalanan.” Pria itu memohon.



“Ya ini sudah terlalu malam.” Keluh Indi yang tampak sepakat dengan pria itu.


Indi sepertinya tampak kesal pada kedua temannya, yang tak tahu caranya menghargai kebaikan seseorang. Apalagi yang sudah menolong mereka dan memberikan makanan secara gratis.


“Temanmu betul Fanny, kalian harus menginap untuk mala mini.” Dengkur pria itu diikuti oleh anggukan dari Indi.



Kelihatan bahwa Fanny dan Liona tak menyukai hal ini. Tunggu, bagaimana dia bisa tahu nama Fanny? Mereka bahkan belum memperkenalkan nama. Butuh sekian detik bagi Indi untuk berpikir, ketika Liona sudah berdiri dengan nyala api di sekujur tangannya. Semburan api lalu mengenai pria itu, membakar kaos dan topinya. Anehnya, pria itu tampak baik\-baik saja.


Ketika api Liona mulai padam, mata Indi naik melihat sesuatu yang tak dapat dilihat oleh kedua temannya. Kulit dari pria itu berubah menjadi bertonjol-tonjol, licin dan berminyak. Kukunya berubah menjadi kasar dan rusak. Badannya membesar, hingga menyentuh langit-langit ruangan itu. Dan wajahnya, benar-benar wajah terjelek untuk tolak ukur seorang manusia. Tidak, pria itu sekarang bukan lagi manusia.


“Indi, apa yang kau lihat?” Tanya Fanny yang membuat Indi kebingungan.



“Kalian tidak melihatnya?”

__ADS_1


Kedua gadis itu menggeleng. Pria, maksudnya monster itu lalu mengaum. Aumannya membuat Indi tak bisa bergerak. Ia menatap wajah monster itu, dan berusaha melawan rasa mual dari baunya.


“Sayang sekali, kalian tak bisa kemana\-mana,” kata monster itu pada Indi. “Kau khususnya, akan menjadi modal berhargaku. Kedua pihak menginginkanmu, dan menawarmu dengan harga yang begitu mahal. Betapa beruntungnya aku yang tak perlu bersusah payah untuk mencarimu.”



Indi masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi, tidak lupa dengan mengumpat pada dirinya sendiri karena terlalu bodoh. Tak lupa juga mengumpat pada para peri, yang telah membuat mereka terjebak disini.



“Kalian tidak memberiku pilihan lain. Aku sudah menawarkan kebaikan hati untuk menangkap kalian secara baik\-baik. Tapi sepertinya kalian harus kubawa dengan keadaan tidak sadarkan diri.”



“Indi kita harus pergi dari sini!” seru Fanny.




“Menunduk!” teriak Liona.


Indi berbalik, dan semburan api sudah keluar dari kedua tangan Liona, yang tepat mengenai monster itu.


“Lari!” seru Liona.


Tanpa berpikir panjang kedua gadis itu lari, keluar dari tempat itu diikuti oleh Liona.


“Bagaimana kau bisa melihatnya? Kupikir kalian tak bisa?” Tanya Indi sembari berlari.


__ADS_1


“Kami memang tak bisa melihatnya, tapi asap bekas bakaran pertama jelas masih mengepul darinya,” jelas Liona.


Dari belakang monster itu tampak mengaum murka, lalu mulai mengejar mereka. Indi tampaknya heran, monster itu bahkan sudah dibakar sebanyak dua kali tapi masih bisa kembali berdiri.


“Sepertinya dia bangsa Troll!” jelas Fanny yang sepertinya sudah membaca pikiran Indi.



“Beberapa bangsa troll memiliki kulit yang kebal terhadap api!”



“Lalu bagaimana cara kita mengalahkannya?”


Sebuah lemari lalu mendarat tepat di depan mereka. Dengan sigap Liona membakar lemari itu, hingga menyisahkan puing-puing abu. Ketiga gadis itu lalu melewatinya. Tapi lemari itu berhasil membuat monster itu semakin dekat dengan mereka.


“Dari kebanyakan kisah yang kubaca, mereka dapat dibunuh dengan dipenggal. Kulit mereka tebal dan berminyak, yang membuat senjata tajam sulit untuk melukai mereka.”



“Lalu bagaimana kita bisa mengalahkannya, kalian berdua bahkan tak bisa melihatnya, dan saat ini kita sedang tidak bersenjata!” keluh Indi panik.



“Hei kita punya seorang avatar indigo disini, kau bisa mengalahkannya dengan kemampuanmu. Peluang kita menang disini besar.” jelas Fanny yang dari raut wajahnya tampak tak yakin.



“Apa? Kau tahu kan aku tidak tahu mengontrol kemampuanku, lagipula kau adalah salah satu anak indigo yang cukup terlatih di UCI kan\-“


__ADS_1


“Teman\-teman, aku tidak ingin mengganggu perdebatan kalian, tapi kita memiliki masalah yang sangat serius di depan sini!” teriak Liona, yang berdiri tanpa arah di depan pintu keluar.


__ADS_2