Indi Go!

Indi Go!
Episode 83


__ADS_3

Di depan Indi Noella masih tampak mematung dengan pose yang sama. Dan tempat dimana Fanny tadi terbaring lemah, hanya menyisahkan sebuah boneka kayu yang sama persis seperti boneka-boneka yang dimiliki Noella. Sedangkan Fanny, Ia berdiri tepat di samping Noella, dan ia sangat amat baik-baik saja, dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya.


“Rencanamu akan berakhir disini Noella. Kau tak dapat lagi melanjutkannya. Kami sudah membaca semuanya. Ramalan itu. Kau salah tentang ramalan itu,” kata Fanny dengan berbisik di telinga Noella. Sementara Noella sama sekali tak meresponnya, bahkan dengan kedipan sekalipun.


Indi dengan jelas mengingat mengapa Noella bisa seperti itu. Doll Viventem, Noella tengah berada dibawah kendali roh dari Fanny. Tanpa roh tubuh hanyalah sebuah wadah. Indi pernah berada di posisi itu. Walau begitu, Indi masih sepenuhnya sadar dengan apa yang dilihatnya beberapa waktu lalu, dan ia dengan jelas melihat kalau Fanny telah terbujur kaku ketika dijatuhkan Noella.


“Kau sudah bisa berhenti untuk berpura\-pura terluka parah!” bentak Fanny, yang entah bagaimana sangat tidak berpengaruh jika ditujukkan pada Noella ataupun Indi.


Indi hendak memprotes apa yang baru saja dikatakan oleh Fanny, ketika dari belakang Ia mendengar suara tapak kaki diantara daun-daun kering pinus, yang tengah melangkah ke arahnya.


“Sepertinya aku benar\-benar mempunyai bakat menjadi seorang artis, benarkan Fanny?” ucap seorang gadis dari belakang Indi, yang suaranya terdengar begitu familiar di telinga Indi.


Sumber suara langkah itu kian lama kian dekat, hingga kini telah berhenti tepat disamping Indi. Indi perlahan memalingkan pandangannya untuk melihat sumber suara itu.


Detik berikutnya, Indi terdiam. Melihat yang ada disebelahnya membuat otak Indi semakin tak bisa mencerna dengan apa yang sebenarnya terjadi.


“Aku minta maaf kalau harus membuatmu menunggumu lama Indi. Setidaknya rencana kita berjalan dengan baik,” kata suara gadis yang ada disamping Indi.



“Kau terlalu mendramatisir Catherine, sama seperti pemeran drama romansa yang sering kutonton. Sekarang sudahi segala basa\-basi ini, karena Indi sangat membutuhkan kemampuanmu,” protes Fanny sambil mencoba mengeluarkan sesuatu dari salah satu kantong jaket parkanya.


Wajah Catherine jelas tampak tak senang dengan apa yang baru saja dikatakan oleh gadis keturunan Jepang itu. Ia mendekati Indi dan mulai berdiri dengan kedua lututnya untuk menyejarkan tubuhnya dengan Indi.


Gadis berambut cokelat tua itu memang tak tampak sebaik keadaan Fanny. Rambutnya yang biasa terkepang rapih, jatuh menyentuh kedua bahunya, pakaiannya tampak koyak karena bekas pertarungannya dengan Rico. Namun kali terakhir yang diingatnya, Catherine tampak benar-benar lemah, dan tak sanggup untuk bangun lagi. Dan tunggu, Indi baru memerhatikan kalau semua bekas luka yang ada di tubuhnya kini sudah tak ada lagi.


“Aku akan menyembuhkan semua lukamu,” kata Catherine lembut.


__ADS_1


“Bagaimana bisa?” tanya Indi.



“Terlalu panjang untuk menje\-“



“Tidak!” potong Indi.


Indi yang tadinya terlalu lemah bahkan untuk berbicara, tampaknya telah menemukan semangatnya kembali.


“Apakah aku menjadi satu\-satunya orang bodoh disini? Berhenti menyuruhku untuk tetap diam, dan menganggap aku tidak ada. Jangan katakan kalau aku hanyalah salah satu dari boneka untuk ramalan bodoh yang sampai saat ini tak Kutak mengerti maksudnya!”




“Tidak! Kali ini kalian yang harus diam dan mendengarkan. Jika kalian benar\-benar hanya menganggapku sebagai gadis indigo dengan kekuatan avatar bodoh, yang menjadi pion ataupun boneka dalam rencana ataupun ramalan itu, maka hentikanlah sekarang. Aku akan keluar dari semua hal ini,” kata Indi, dengan emosinya yang meledak\-ledak yang membuat Catherine terdiam.


Fanny yang sedari tadi sibuk dengan apa yang dia lakukan, kini juga ikut terdiam dengan apa yang barusan dikatakan Indi. Catherine menghela nafasnya panjang, lalu menatap Indi.


“Dengar Indi, kami sama sekali tidak ada niatan untuk membodohimu ataupun menjadikanmu boneka atau sejenisnya. Aku berjanji setelah semua ini berakhir aku akan menjelaskan semuanya kepadamu sedetail apapun itu. Semua pertanyaanmu apapun itu akan kujawab semuanya. Namun saat ini ada hal yang benar\-benar sangat penting yang harus kami lakukan. Dan pertama aku harus menyembuhkanmu terlebih dahulu,” kata Catherine yang tampaknya berhasil menenangkan Indi.



“Tunggu, penyembuhan? Apa hal yang seperti itu ada di dalam dunia indigo dan sejenisnya? Aku tidak ingat kalau aku pernah diajarkan hal itu di UCI. Aku mohon, jangan membuat aku kembali menjadi orang yang tampak bodoh disini,” kata Indi, nadanya sedikit memohon.


Mendengar perkataan Indi berhasil membuat Catehrine tersenyum. Ia lalu menghela nafas panjang, lalu menatap kedua mata Indi. Mata coklatnya tampak gemerlapan dibawah cahaya malam.

__ADS_1


“Dengar, kau bukanlah orang bodoh disini. Reaksi Fanny bahkan tampak lebih buruk dari pada yang kau lakukan saat ini,” kata Catherine sambil melirik Fanny dengan ujung matanya, yang dibalas dengan pandangan sarkatis dari Fanny.



“Ingatkah kau, bahwa ada enam tipe seorang indigo?” tanya Catherine, yang diikuti anggukan pelan dari Indi.



“Itu adalah teori yang sampai saat ini telah dibuktikan oleh para indigo sebelumnya. Namun ternyata hal itu salah,” kata Catherine pelan.



“Salah?” ulang Indi.


Catherine mengangguk, “Ada indigo lain di dunia ini. Dan aku adalah satu diantara mereka,”


“Maksudmu? Bukankah kau seorang spiritus?” tanya Indi pelan.



“Ya, aku seorang *spiritus*, juga *naturae*,” kata Catherine. Wajahnya tampak belum sepenuhnya yakin untuk mengatakan apa yang akan dia katakana selanjutnya.



“Dan seorang *lux*.”



\*\*

__ADS_1


__ADS_2