Indi Go!

Indi Go!
Episode 73


__ADS_3

***


Ini ingatan Rico, batin Indi. Anak laki-laki itu adalah Rico, yang mungkin berusia enam atau tujuh tahun. Sedangkan wanita paruh baya di depannya pasti ibunya.


Mereka tengah berada di sebuah ruangan, yang di tebak Indi sebagai dapur. Walaupun sejujurnya Indi masih menanyakan bagaimana bisa ruangan dapur di bangun sebesar itu.


Ruangan ini bahkan mampu untuk menampung lima puluh orang untuk berpesta. Indi mengedarkan pandangannya. Ada beberapa lemari kayu yang menyimpan piring-piring yang tampak mahal di sudut-sudut ruangan.


Di tengah-tengah ruangan,terdapat meja kaca bundar, dengan ukiran kuda sebagai kaki-kakinya, dan tiga buah kursi. Sedang di langit-langit ruangan, tergantung sebuah lampu hias yang tampak antik.


“Aku berkata jujur Mama! Aku melihat anak perempuan. Rambutnya berwarna kuning, kau harus percaya padaku,” rengek Rico, yang kini  menarik-narik celemek ibunya.


“Rico ini bukan saatnya untuk bermain-main!” bentak Ibunya.


“Aku tidak bermain-main Mama. Akum au membuktikan kalau bukan aku yang menjatuhkan piring-piring milik nyonya! Aku tidak bersalah,” kata Rico yang tetap teguh pada pendiriannya.


PLAK! Tangan wanita paruh baya itu melayang cepat di pipi Rico. “Cukup! Aku tidak pernah membesarkanmu agar menjadi anak aneh! Sudah cukup kehidupan kita yang susah, jangan menyusahkannya lagi!”


Rico memegang pipinya, yang masih terasa hangat, sedang wanita itu beranjak dari ruangan itu. Indi benar-benar ingin memeluk Rico karena hal itu. Ia tahu kalau Rico tidak berbohong. Raut wajah Rico lalu berubah, Nampak jelas dipenuhi kekesalan.


Ruangan itu lalu mulai mengabur dalam pandangan Indi, lalu hembusan angin kencang membawa Indi pada penglihatan lain. Kali ini ia berada di depan cermin yang tingginya kira-kira satu setengah meter. Indi menebak kalau ia berada di rumah yang sama, dengan ruangan dapur yang ia lihat sebelumnya.


“Kenapa kau tak mau membantuku? Ku kira kita teman?” ucap Rico terisak di depan cermin.


Dalam cermin itu hanya ada bayangnya, namun detik berikutnya, Indi dapat melihat pantulan bayang lain yang muncul. Seorang anak perempuan dengan gaun putih, berambut pirang. Jeannet. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana Jeannet bisa berada di tempat yang sama dengan Rico, batin Indi.


“Aku berada disana Rico. Hanya saja, mereka tidak sama sepertimu. Mereka tak dapat melihat ataupun mendengarku,”


“Kau berbohong!” seru Rico. Kedua tangannya terkepal. Rautnya menjadi penuh dengan kebencian.


“Rico, aku tidak berbo-“


PRANG!!! Cermin itu retak. Salah satu tangan Rico kini berada tepat di sumber retakan cermin itu. Walaupun itu hanya bagian dari memori, tapi Indi dapat merasakan, aura kemarahan yang menyeliputi tubuh Rico. Urat-urat mulai menjalar dari kepala hingga tangannya.


“Aku akan membinasakanmu!”


Angin kembali berhembus, dan menghambur pandangan yang dilihat Indi. Kali ini Indi berada di ruangan yang tampak kumuh, dan usang. Terdapat noda serta goresan-goresan di dindingnya, yang tak lagi berwarna putih. Di ruangan itu Indi melihat seorang lelaki paruh baya.


Ia memakai kaos tanpa lengan putih yang sudah tampak begitu lusuh dan tua. Posturnya tegap, badannya kurus tapi terbentuk. Rambutnya ikal, sebahu. Di kedua lengannya, tergambar puluhan tato. Tampangnya bengis, sama seperti preman.

__ADS_1


Di tangan kanannya, ia memegang sabuk pinggang yang tebak Indi terbuat dari bahan karet, berwarna hitam. SPLASH! Satu cambukan mendarat di punggung Rico kecil. Anak itu meringis kesakitan.


“Dasar anak pembawa sial! Sudah cukup, hidup kita susah, malah kamu tambah lagi menjadi sengsara!”


SPLASH! Sekali lagi benda hitam itu menyentuh kulit tipis anak laki-laki itu. Berada disitu sudah cukup membuat Indi, ikut merasakan rasa sakit Rico. Ajaibnya, anak itu tak merintih sama sekali. Rautnya jelas menahan rasa sakit. Di kedua matanya, kini berlinang titik-titik putih.


“Apa kau pikir kita memiliki cukup uang untuk mengganti benda-benda yang sudah kau pecahkan?” kali ini nada pria itu lebih tinggi.


Kebencian memenuhi pandangan Rico, setiap kali benda itu menampar permukaan tubuhnya. Kedua tangannya dikepal, hingga membuat jemarinya memutih. Secepat kilat kilasan pandangan itu kembali mengabur.


Indi dapat mendengar suara, gesekan roda besi dan rel, yang memercik cahaya. Derit rem dari kereta pun jelas terdengar. Ia kini berada di tengah stasiun yang dipadati orang. Di tengah kerumunan itu ia mendapati Rico.


Raut wajahnya khawatir. Tubuhnya penuh dengan lebam, serta luka. Ia tampak sedang memeluk sesuatu, yang terbungkus kain putih. Pandangannya diedarkan ke sepunjuru arah. Dari balik kerumunan, beberapa orang tengah menghindari sesuatu, dan membuka jalan.


“Rico berhenti sekarang!” teriak orang itu.


Itu pria yang sama yang memukul Rico. Apa yang sebenarnya terjadi? Batin Indi. Melihat pria itu, Rico segera berlari dan menerobos orang-orang yang dilihatnya. Tepat di pinggir rel kereta, tangannya di gapai oleh seorang anak perempuan. Jeannet. Ia menggamit tangan Rico, dan membawanya berlari menjauh dari pria itu.


“Hentikan anak itu!” ucap pria yang mengejarnya. Pakaiannya, masih sama dengan apa yang dilihat Indi sebelumnya.


Rico masih terus berlari dengan tuntunan Jeannet. Entah bagaimana, Indi dapat terus mengikuti mereka. Detik berikutnya, suara pengumuman kedatangan kereta terdengar. Dalam beberapa menit, kereta tujuan kota segera tiba di stasiun itu.


Rico masih mencoba mengatur nafasnya. Di balik kerumunan orang, pria yang mengejarnya kini tak Nampak lagi. Rico menghela nafas lega.


“Kita selamat,” ucapnya.


\*\*\*


Deru kereta yang melaju, semakin terdengar. Desing yang tercipta dari gesekan roda dan rel, membuat Indi ikut menutup kedua telinganya. Rico berdiri, tak jauh di pinggir garis tunggu, kereta. Jika tebakan Indi benar, maka kereta ini akan tiba dalam beberapa menit lagi.


Kerumunan orang yang juga calon penumpang kereta, bersesak-sesakan menuju jalur masuk gerbong kereta, mendengar suara pemberitahuan yang bergema di stasiun.


“Sepertinya ayahmu sudah kehilangan jejak kita,” kata Jeannet yang sedari tadi mengedarkan pandangannya, sambil berjinjit.


Rico mengangguk lalu mengatur nafasnya. Ia membuka kain pembungkus benda yang dibawanya, lalu menghembuskan nafas lega. Indi masih tak dapat melihat benda yang dibungkusnya itu dengan jelas, tapi dari cara Rico membawanya, sudah pasti kalau itu adalah benda yang begitu berharga baginya.


Bunyi desing yang di dengar Indi, kini semakin jelas. Detik berikutnya, menunjukkan sesuatu yang tampak dipercepat. Indi melihat kilasan-kilasan penglihatan. Ia melihat tangan Rico yang akhirnya di genggam oleh ayahnya, ia lalu melihat sesuatu yang tampak tak begitu jelas. Rico yang berlari dari ayah dan ibunya, Jeannet yang entah bagaimana kini menuntun seorang bayi.


“Argh!..” Rico berteriak penuh dengan keputusasaan. Matanya penuh dengan sorotan dendam dan amarah.

__ADS_1


Di sekitarnya, orang-orang yang berada di stasiun itu mulai menunjukkan ekspsresi yang aneh.


Mereka tampak penuh dengan kebencian. Sorotan pandangan orang-orang itu lalu tertuju pada, ayah Rico. Melihat hal itu membuat pria paruh baya itu bergedik, dan dikuasai rasa gelisah.


“Hei apa yang kalian lihat? Aku hanya hendak memberi pencuri kecil ini pelajaran,” katanya.


“Mati.” Ucap salah seorang dari kerumunan itu.


Ayah Rico lalu menatap puteranya itu, kali ini ia memperkuat genggamannya, “Apa yang kau lakukan dukun cilik?”  tanya pria itu, dengan sorot matanya yang mengancam.


Mendengar itu membuat Rico menyunggingkan senyum sinisnya. Ia menatap lekat kedua mata pria yang dipanggilnya Ayah.


“Hanya hadiah kecil untuk perpisahan kita. Papa.” Ucapnya.


Di belakang mereka, kerumunan orang-orang di stasiun mulai mendekat. Hal itu membuat Ayah Rico semakin risau. Dalam sekejap ia memandang Rico dengan kemarahan, melepaskan genggamannya, dan mulai berlari menjauh dari kerumunan itu. Semua kilasan itu lalu berhenti.


BRUK! Indi terjatuh dari genggaman Rico. Ia tersedak. Nafasnya tersengal-sengal. Ia merasakan keram di sekujur lehernya. Pandangannya buram. Ia mengerjap matanya, mencoba mencari tahu apa yang baru saja terjadi. Pandanganya lalu menangkap, Catherine yang kini berada di depannya.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Jeannet yang kini berada di sampingnya.


Indi mencoba menjawab pertanyaannya. Namun, tak ada sepatah kata pun yang keluar. Hanya ada suara serak nan cempreng. Ia menggeleng pelan. Melihat hantu cilik itu membuat ingatan Indi kembali pada apa yang baru saja dilihatnya. Pandangannya lalu beralih pada Rico, yang masih berdiri di depan Catherine.


“Kau beruntung Indi. Terlambat beberapa detik saja, kau pasti sudah mati,” terang Rico.


Di lengan kanannya, ada luka goresan yang menganga. Apa yang terjadi, batin Indi. Di perhatikanlah bilah pisau Catherine, yang menampakkan sedikit bercak darah.


“Indi, orang ini tak akan membiarkan kita pergi dari sini. Ada hal yang harus kau lakukan. Ingat pesan dari ibumu, rencana awal kita,” kata Catherine.


Indi hendak memprotes, karena sedari awal ia masih begitu buta dengan rencana yang dimaksudkan oleh Catherine. Namun, yang keluar dari mulutnya hanyalah suara erangan cemprengnya.


“Aku akan menghentikannya disini. Kau, pergilah bersama Jeannet,”


Rico tersenyum, “Apa kau pikir aku akan membiarkannya? Jangan pikir kau bisa mengalahkanku, karena hal yang barusan kau lakukan. Meski harus kuakui, aku tidak tahu kalau kau memiliki kemampuan seperti itu,” jelas Rico.


Indi masih mencoba mencerna semua hal yang terjadi. Yang diingatnya, ia hamper saja mati karena hendak menyerang Rico, karena sesuatu yang dilakukannya pada Jeannet.


“Catherine menyelamatkanku,” tutur Jeannet.


Indi menatapnya kebingungan, “Kau juga diselamatkannya. Entahlah, tapi ada sesuatu dari Catherine, yang baru ku lihat hari ini,” ucapnya.

__ADS_1


Catherine, lalu mendekati mereka. Indi baru menyadarinya. Gadis itu tampak baik-baik saja.


__ADS_2