Indi Go!

Indi Go!
Episode 54


__ADS_3

***


Indi keluar dari mobil polisi. Ia menghela nafas. Di depannya, rumah itu masih berdiri. Rumah yang ditinggalinya lebih lama dari rumah-rumah sebelumnya. Indi mengerjap-ngerjapkan mata, seolah tak percaya kalau sudah lama ia meninggalkan tempat itu, dan betapa rindunya ia dengan bangunan itu.


Polisi yang mengantar Indi turun. Seragamnya masih melekat erat dengannya. Dipakainya topi polisinya. Keberadaan polisi itu membuat Indi sedikit gugup dan takut. Polisi itu menatap Indi.


“Ayo, aku akan menemanimu masuk,” katanya.



“Tidak,” Indi berhasil berkata. Polisi itu menatap Indi bingung. Garis kerutan yang tercipta dari alisnya yang bertautan jelas menunjukkan kecurigaannya.



“Kau tidak perlu masuk. Mereka pasti ada didalam dan sudah menungguku,” kata Indi beralasan.


__ADS_1


“Gadis kecil, kedua orang tuamu tak dapat dihubungi, dan kau sudah hilang selama satu bulan lebih tanpa sebab. Sebagai pelayan masyarakat aku harus memastikan kalau aku tidak hanya mengantarmu, tapi memastikan kalau kau dan kedua orang tuamu baik\-baik saja,”


Indi jelas saat ini berdoa agar apapun yang dilakukannya pagi tadi, bisa terjadi lagi. Tapi, setelah dipikir-pikirnya, setidaknya dengan adanya polisi ini dia merasa sedikit lebih aman daripada sendiri. Indi kembali menatap polisi itu lalu mengangguk.


“Baiklah, tapi biarkan aku yang masuk duluan, dan kau bisa menyusulku dari belakang,” kata Indi.


Indi kemudian membuka gerbang besi berwarna biru yang tak terkunci. Di pekarangan, Indi sempat mengedarkan pandangan. Bunga-bunga warna-warni kesukaan ibunya masih terlihat mekar dan terawat.


Taman mini milik Ibunya disamping rumahpun tampak bersih dengan rerumputan hijau yang terpangkas. Wewangian dari bunga-bunga itu jelas membuatnya kembali mengingat kenangan-kenangan bersama ibunya.


Rumah itu tampak tak berubah sama sekali. Beranda rumah yang dihiasi dengan bunga-bunga gantung. Kursi rotan khas yang dibeli Ayahnya masih berada tepat di samping pintu. Cat rumah yang berwarna biru tua yang setiap bulan selalu dilapisi dengan cat baru. Semua hal itu benar-benar menarik Indi ke ingatan-ingatan berharganya.


Polisi dibelakangnya mulai melirik Indi curiga, “Haruskah kudobrak pintu ini?”


“Tak perlu, aku akan mencobanya sekali lagi,”


Indi kembali mengetuk, ketika tangannya hendak melakukan ketukan ke tiga, gagang pintu itu bergerak, daun pintu lalu mulai terbuka. Di depan Indi, pria itu berdiri. Melihatnya mata Indi mulai berkaca-kaca. Tanpa arahan dan aba-aba, Indi memeluk erat pria yang ada di depannya.

__ADS_1


“AYAH!”


Indi menumpahkan semua emosi dan kesedihannya. Ia jelas-jelas merindukan pria itu. Pria yang selalu ada tiap Indi membutuhkannya. Pria yang akan selalu ada dan menyayangi Indi, disaat orang lain bahkan tak ingin menatapnya.


Pria itu membalas pelukan Indi erat, “Aku juga merindukanmu,” katanya, dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.


Melihat ada orang lain di belakang Indi membuat ayah Indi melonggarkan pelukannya.Ia melirik polisi yang ada dibelakang Indi.


“Terima kasih karena telah membawanya kembali,” kata Ayah Indi dengan rasa syukur.


Polisi itu tampaknya ikut terharu dengan apa yang dilihatnya, “Aku ikut bahagia a-,”


“Aku benar\-benar berterima kasih!” potong ayah Indi lalu memeluknya erat.



“Tidak masalah. Kalau begitu sepertinya tugasku sudah berakhir. Aku akan segera kembali ke kantor. Berbahagialah!”kata polisi itu,  lalu kembali ke mobilnya dan meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


***


__ADS_2