
***
Kedua gadis itu terjun dari ketinggian beberapa meter. Di bawah Indi melihat barisan pepohonan, yang sepertinya akan sangat fatal jika ditabrak. Belum lagi, fakta kalau ia tak bisa terbang, begitu pula dengan Catherine.
Indi benar-benar ingin mencoba untuk menarik rok Catherine dan membuatnya menjadi parasut, sama seperti yang sering dilihatnya di film-film. Tapi sepertinya keadaan mereka tak semudah itu. Mereka jatuh dengan cepat, hal itu membuatnya bahkan tak bisa bernafas dengan benar.
Di depannya, Catherine tampak terjatuh dengan anggun. Ia melihat gadis itu, yang nampaknya mengatakan sesuatu pada Indi, yang entah bagaimana dapat dibacanya,
Gunakan kemampuanmu!
Andai Indi tahu begaimana cara kerjanya, ia tidak akan memilih terjun bebas seperti ini. Pikirannya berpacu, pada ingatan waktu itu. Saat dimana ia berhasil menahan seekor naga agar tidak terjatuh. Sayangnya, iya tidak tahu bagaimana teknisnya melakukan hal itu lagi.
Tenggelam dalam pikirannya membuat Indi lupa kalau ia sedang terjatuh. Mereka kini tinggal beberapa meter untuk menbarak hutan di bawah. Ayolah Indi. Ini saatnya kau berguna! Batinnya. Tepat saat mereka akan menabrak, Indi merasakan sensasi geli di otaknya.
“Kau berhasil Indi,” kata Catherine.
Indi membuka matanya. Ia sudah menyentuh ujung pohon, namun tidak jatuh. Ia memalingkan pandangannya pada Catherine, yang juga tampaknya tidak terjatuh. Aku berhasil! Terima kasih otak, batin Indi bersyukur atas pencapaiannya.
“Sekarang kau bisa menurunkan kita kan?” tanya Catherine.
__ADS_1
“Hmm... Seingatku, aku tidak tahu caranya menurunkan, hanya memberhentikan,” jawab Indi polos.
Kedua gadis itu saling bertukar pandang tampaknya baru menyadari sesuatu.
“Argh!..” teriak keduanya, yang terjatuh, di lantai hutan.
Indi mengerang kesakitan. Tangannya sepertinya terkilir saat ia jatuh. Catherine terjatuh tepat di sampingnya. Anehnya ia baik-baik saja. Hal itu membuat Indi terkesima. Gadis berambut coklat itu bahkan tidak terjatuh. Entah bagaimana caranya, ia berhasil berdiri dengan kedua kakinya.
“Bagaimana kau melakukan itu?” tanya Indi.
“8 tahun pelatihan di UCI, tampaknya membuahkan hasil yang baik,” kata Catherine, lalu mengulurkan tangannya membantu Indi berdiri.
“Sebelum aku bertanya, bagaimana cara kita menuju gunung, kau berhutang penjelasan padaku tentang terjun bebas yang barusan kita lakukan,”
Catherine tersenyum, yang membuat Indi sedikit kesal dan memutar bola matanya.
“Aku minta maaf karena langsung menarikmu untuk terjun. Kemampuan kita masih terlalu jauh untuk dapat mengalahkan gerombolan hantu yang kita lihat,”
Indi menatap Catherine mencoba untuk mencerna penjelasannya. Ia paham sekali tentang bagaimana rasanya dirasuki. Tapi ia kemungkinan memilih untuk, dirasuki daripada terjun bebas dari langit.
__ADS_1
“Setidaknya kita tidak harus hampir mati karena terjun dari langit kan?” protes Indi.
Sepertinya, pernyataan Indi barusan, berhasil membuat Catherine tersinggung. Gadis itu menatap Indi sarkas.
“Kau bahkan tak bisa menghentikan dirimu saat dirasuki satu hantu saja. Bagaimana caramu berhadapan dengan ratusan hantu? Belum lagi fakta bahwa kita menunggangi naga, yang rohnya sementara dikendalikan. Hal itu membuatnya menjadi wadah yang sangat sempurna untuk dirasukki. Lagipula aku memilih untuk terjun karena aku percaya dengan apa yang dapat kau lakukan,”
Indi benar-benar merasa baru saja melakukan kebodohan, “Aku minta maaf,” kata Indi pelan.
“Tak apa, disini aku juga yang salah. Tapi, aku merasakan ada yang tidak beres, dengan semua ini,”
“Apa maksudmu?”
“Mereka tampaknya sengaja agar kita datang ke gunung itu, lalu memancing kita untuk terjun, dengan menaruh ratusan hantu di jalan menuju tujuan kita. Entahlah, semua ini hanya perkiraanku saja. Aku jelas belum terlalu mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, aku meyakini satu hal. Kita telah dijebak, sejak awal,” jelas Catherine, raut wajahnya mulai serius.
“Dijebak?”
“Dan, aku jelas mengerti dengan semua pola ini. Sejak awal, kitalah incaran mereka, karena itu mereka menahan ibumu dalam pertarungan dengan boneka-boneka itu. Mereka sudah tahu kalau kita akan menemui Fanny untuk satu tujuan, karena itu mereka menempatkan hantu-hantu itu. Semua hal ini sedari awal mengarahkan kita agar terjun bebas menuju titik ini. Dia pasti dalang di balik jebakan ini,” Catherine melirik pohon yang ada di samping mereka. Dengan sigap, ia menarik Indi lalu tiarap. Dua belati melesat di tempat mereka berdiri tadi.
“Keluarlah Lisa!”
__ADS_1
***