Indi Go!

Indi Go!
Chapter 8: Episode 33


__ADS_3

CHAPTER 8


Fanny Penyihir?


Memakan waktu beberapa jam menuju air terjun. Indi dan ketiga temannya, harus menuju utara menembus perbukitan, menyebrangi sungai, dan beberapa ladang rumput. Selain medan yang begitu menantang, keluhan serta makian dari teman-teman Indi, membuat perjalanan mereka menjadi begitu lamban.


Untungnya, tidak ada hal\-hal aneh yang terjadi dalam perjalanan mereka. Indi mencoba tenang dengan perjalanan ini, namun tak bisa. Selain terganggu dengan segala keluhan dari teman\-temannya, sejak keluar dari wilayah para peri, Indi dapat melihat makhluk\-makhluk yang tak pernah ia lihat sebelumnya.



Terkadang pandangannya menangkap seorang perempuan bergaun hijau yang serupa dengan rerumputan berlari\-lari. Atau gadis\-gadis yang tampak telanjang? Dengan dedauanan, dan bunga\-bunga menutupi tubuh mereka.



“Gak usah kaget dengan semua yang kau lihat,” kata Fanny.



“Semuanya normal, dan benar\-benar ada,” sambungya.



“Maksudmu kau juga dapat melihat mereka?” tanya Indi bingung.



“Tidak, aku tak sengaja membaca pikiranmu, atau mungkin sengaja,” kata Fanny, yang membuat Indi memutar bola matanya.



“Dulunya aku menganggap itu sebagai dongeng, tapi kali ini aku dapat melihat mereka secara langsung. Kau tau setelah ku ingat\-ingat lagi, waktu kecil kata mamaku aku sering berkata kalau aku melihat peri, ataupun duyung ketika di pantai. Mamaku akan menertawakannya, dan berkata kalau aku memiliki imajinasi yang menarik. Sekarang aku paham bahwa, semua yang kulihat waktu itu bukanlah imajinasi,” kata Indi kagum, “Tunggu, bagaimana dengan dewa\-dewi? Apakah mereka nyata?” sambungnya.


Fanny tersenyum, “Tentu saja mereka nyata. Menurutmu bagaimana seseorang bisa mengendalikan api, petir, air, dan lain-lainnya?”


“Maksudmu mereka juga indigo yang memiliki kemampuan, seperti elementum?”


Fanny menghela nafas, “sepertinya waktu pelajaran sejarah tentang Indigo kau hanya tertidur atau menghayal. Haruskah aku menjelaskannya dari awal padamu?”


Indi terkekeh, “rangkumannya saja.” latanya.


“Intinya zaman dulu, para indigo memiliki kemampuan yang lebih. Beberapa dari mereka bahkan memiliki kemampuan untuk membunuh seseorang dan juga membangkitkan. Hanya saja seiring berkembangnya zaman, kemampuan manusia indigo menjadi semakin menurun, dan sampai di masa kita sekarang. Dimana hanya ada enam kemampuan dari seorang indigo,” jelas Fanny.

__ADS_1



“Oke, sepertinya sesi pertanyaan telah berakhir, dan saatnya kita untuk melanjutkan perjalanan, berdasarkan idemu.” Sambung Fanny.



“Tunggu, semalam kau berjanji padaku untuk menjelaskan sesuatu tentang Jeannet dan ibuku.”



“Akan kuceritakan saat kita sudah dekat dengan air terjun itu, dan beristirahat.” Kata Fanny menutup diskusi.


Indi, merasa belum puas dengan jawaban dari Fanny. Tapi sepertinya, Fanny memanglah tipe orang yang suka menggantung orang saat menjawab. Hal itu membuat Indi bertanya-tanya apakah saat ini Fanny memilikih pacar atau tidak.


Setelah beberapa jam perjalanan, akibat keluhan baik dari mulut dan perut mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti sejenak dan beristirahat, dibawah sebuah pohon rindang.


Liona mengeluarkan beberapa buah yang disiapkan para peri, juga beberapa potong roti sisa dari toko souvenir. Sedang Fanny membantu Liona untuk memotong-motong buah. Dan Jeannet, tampaknya dia masih meraju karena kejadian di bus. Ia pergi beberapa meter menjauh dari pohon tempat yang lainnya duduk.


“Ehmm, apakah ada salah satu dari kita yang bisa membujuknya?” tanya Indi.


Sedetik kemedian, tangan Fanny dan Liona telah menunjuk Indi. Kemudian melanjutkan apa yang sedang mereka lakukan. Indi menghela nafas. Ia bahkan tidak pernah bisa membuat teman manusianya berhenti meraju. Kini ia harus mencoba untuk membujuk seorang hantu cilik.


Hantu itu masih cemberut, yang membuat Indi tersenyum kikuk. “Aku juga mau berterima kasih padamu,”


Raut Jeannet lalu melembut.


Meskipun wajahnya masih masam, “Berterima kasih untuk apa?” celetuknya.


“Karena apa kau berterima kasih?”



“Karena kau satu\-satunnya hantu yang peduli denganku. Bahkan sejak pertama kali aku tiba di UCI, kau adalah orang maksudku hantu pertama yang menyapaku. Bahkan malam itu, kau melindungiku dari Rico,” kata Indi.



“Kau tahu, seharusnya aku yang meminta maaf padamu, dan juga yang lainnya,” kata Jeannet lalu menundukkan kepalanya.



“Apa maksudmu? Kau tidak punya salah apa\-ap\-“

__ADS_1



“Sudahlah, aku tahu kalian pasti membenciku karena kejadian di bus hari itu. Padahal niatku hanya ingin membantu. Ketika kejadian itu terjadi. Bukannya melibatkanku, kalian malah meninggalkanku, di bus itu,” kata Jeannet mulai terisak.



“Tahukah kau, kalau aku juga menahan segala ketakutanku untuk meminta bus itu menolong kita.  Apa kau pikir karena aku sama seperti mereka, aku tak bisa takut dengan mereka?”


Kali ini Indi benar-benar bersalah. Sejak awal ia lupa bahwa Jeannet adalah seorang anak kecil. Ia merasa menjadi manusia yang benar-benar biadab karena meninggalkan seorang anak kecil di bus yang dipenuhi oleh hantu cacat.


Indi mulai memeluk Jeannet, “Aku benar-benar minta maaf Jeannet,” ia lalu mengeluarkan sebuah apel dari tas belanja yang ia ambil di toko souvenir.


“Kau maukan memaafkan temanmu ini?” kata Indi sambil menawarkan apel.


Jeannet “mengambil” apel itu. Ia menyeka kedua matanya dan menarik ingusnya. Sari apel yang tadi diambilnya digigitnya.


“Aku memaafkanmu,” kata Jeannet tersenyum.


Melihat Jannet tersenyum membuat Indi meyimpulkan sebuah senyum. Meskipun ia adalah hantu, tapi Jeannet mengingatkannya pada adik Indi. Ia bahkan belum pernah melihatnya ketika ia dilahirkan. Mengingat hal itu membuat Indi menjadi sedih.


“Oh ya, bisakah aku bertanya padamu?” kata Indi.



“Apa itu?”



“Hmmm yang pertama, bagaimana kau bisa kembali menemukan kami, dan yang kedua, bagaimana kau bisa ikut terlibat dalam semua ini?”


Jeannet kembali menggigit apelnya. “Untuk yang pertama adalah hal yang gampang. Kau tahu aku adalah anak yang cerdas dan tidak pernah tesesat, bahkan sejak aku masih hidup. Setiap kali orang tuaku mengira kalau aku hilang, atau tersesat, aku pasti kembali pada mereka. Untuk yang kedua, karena kau adalah temanku kan?” jawabnya sambil mengunyah.


Oke, Indi memang tak pernah berharap lebih setiap kali bertanya pada Jeannet. Setidaknya ia sudah berhasil untuk membuat hantu cilik itu berhenti meraju. Meski ia masih penasaran dengan hantu cilik itu.


“Ingatlah Indi, apapun yang terjadi nanti, ingatlah kalau aku adalah temanmu. Dan teman mungkin akan meninggalkan seperti yang kau lakukan, tapi mereka akan kembali, pada mereka yang benar\-benar seorang teman.” Kata Jeannet, menghabisi apelnya lalu bergabung dengan Fanny dan Liona.


Wow tidak terasa Indi Go! Sudah masuk chapter 8. Author sangat berterima kasih atas antusiame kalian dalam membaca Indi Go! Oh iya sesuai janji author, gambar-gambar dari karakter Indi Go! Akan diperlihatkan sebentar lagi 😉. Ikuti terus Indi Go! Sampai chapter 10 ya. Jangan lupa vote, comment, dan share juga cerita Indi Go! Agar author semakin semangat dalam menulis!


Thank you.


#staysafe

__ADS_1


__ADS_2