
Hi guys! maaf baru muncul kembali. Author sangat minta maaf karena belum update, karena pada tanggal 13 Agustus lalu Nenek author yang terkasih dipanggil pulang oleh Tuhan. karenanya, author harus balik ke kampung halaman, dan menyelesaikan segala rangkaian acara duka sampai ke 14 hari. Terima kasih banyak atas pengertiannya. author secepatnya akan update kelanjutannya. terima kasih. Tetap terus setia baca Indi Go! ya. GBu ✨
Perkataan Indi barusan berhasil membuat Noella kembali tersenyum. Ia kemudian perlahan mengangguk. Rasa kengerian meliputi sekujur tubuhnya. Detik berikutnya keheningan terjadi. Indi tak mengerti bagaimana reaksi yang dapat ia berikan.
Ia masih tak dapat mengkompilasi satu per satu apa yang baru saja diketahuinya. Apa yang baru saja diketahuinya sangat membuatnya marah namun juga bingung. Jika benar begitu maka dia,
“Apa yang kau pikirkan adalah benar. *The* *Sanctus*. Aku adalah bagian darinya,” kata Noella.
Kilasan penglihatan itu kembali meliputi Indi. Ia melihatnya, penglihatan yang dipikirnya memori alam kematian. Ia dengan jelas mengingat saat dimana Jeannet berhasil diambil dua orang bertopeng itu. Dan salah satu orang itu adalah Noella. Jika mereka the sanctus lalu siapa yang ada di UCI saat ini? Batin Indi.
__ADS_1
“Aku tahu. Otak kecilmu tentunya tak mampu dalam mencerna semua fakta ini,” Noella lalu mengangkat tangan kirinya dan sekilas melihat jarum pada jam tangannya,
“Lagipula aku sudah tak memiliki banyak waktu lagi untuk menjelaskannya padamu maupun memperlihatkannya. Sebentar lagi mereka akan tiba disini, dan aku tak ingin kematianmu menjadi sia\-sia di tangan mereka. Aku akan segera mengakhirimu disini. Tenang saja, kau akan tetap abadi bersamaku dalam wujud ini,” boneka *ventriloquist* tadi kembali melayang dan menimbulkan bunyi kertakan pada setiap sendi\-sendi kayunya.
Indi hendak mencoba berkonsentrasi dalam memfokuskan pandangannya pada boneka itu, namun tidak dalam satu kedipan boneka kayu itu sudah berada di depannya, tangan kanan boneka itu mengacung padanya, detik berikutnya Indi terhempas beberapa meter di udara, lalu dengan keras tersandar pada pohon tumbang.
Ia tak mungkin bisa mengalahkan Noella. Bahkan dengan semua usaha yang telah dilakukan sebelumnya, tidak menggurat segaris pun luka padanya. Dia terlalu kuat, batin Indi.
__ADS_1
Suara tawa Noella lalu terdengar menggelegar, “kau tak perlu memujiku seperti itu. Kau sama sekali tidak lemah sayang. Kau hanya memilih lawan yang salah. Bahkan aku berani bertaruh kalau boneka milikku ini tak dapat kau sentuh dengan keadaanmu sekarang ini,” katanya seiring langkahnya mendekat pada Indi.
Indi mencoba bangun. Ia merintih kesakitan ketika mencobanya. Diedarkannya pandangan pada sekeliling hutan itu. Beberapa meter dari sana Indi masih dapat melihat Catherine yang terbaring lemah, juga Jeannet yang masih saja bergumam hal-hal aneh itu.
Ia tak berdaya. Kali ini ia benar-benar putus asa. Ia mengangkat wajahnya dan memandang langit. Setidaknya jika ini merupakan hari terakhir dalam hidupnya, tak akan ada lagi penyesalan yang akan ia tinggalkan. Ia dapat menemui ibunya di alam sana, dan segala macam keabnormalan yang ia rasakan tak akan ia temui lagi. Ia sudah berusaha semampunya. Tak ada lagi alasan kuat yang harus mendorongnya untuk bangkit.
“Paling tidak aku dapat berakhir di bawah bintang\-bintang malam ini,” gumam Indi pelan.
Dibalik cahaya malam Indi dapat melihat guratan senyum pada wajah Noella. Dari belakang Indi ia merasakan lebih banyak energi yang kini sedang menuju ke arahnya. Pasti kumpulan hantu yang sebelumnya dilihat.
__ADS_1
“Tenanglah, akan kubuat kematianmu menjadi tak menyakitkan seperti yang telah kulakukan pada salah satu sahabatmu. Kau sebentar lagi akan bergabung dengannya,” kata Noella pelan.