
Oke, berkat bantuan Jeannet, Indi mungkin telah menyingkirkan satu masalah utamanya. Tapi beberapa opsi masalah tampaknya masih belum terselesaikan. Mereka sudah tiba di kota tempat Indi tinggal.
Hanya saja, mereka jelas tidak tahu bagaimana bisa memasuki kota itu dengan menunggangi seekor naga, yang belum diberi makan. Berpikir tentang makanan kembali mengingatkannya bahwa mereka belum makan apapun.
Belum lagi Indi harus mencari tahu bagaimana caranya ia bisa sampai di rumahnya yang berada di tengah-tengah kota yang luas itu.
“Apa yang dilihat manusia saat aku membawa seekor naga?” tanya Indi.
Jeannet mengangkat bahunya, “entahlah, aku bukan lagi manusia. Tapi sepertinya mereka pastilah melihat sesuatu. Mungkin seekor burung raksasa, atau mungkin kelelawar raksasa. Kau tau, manusia kan pandai berimajinasi.”
“Andai aku memiliki gawaiku, kita mungkin dapat memesan ojek online dan langsung menuju ke rumahku,” keluh Indi.
Mereka tengah berada di bukit dekat kota, memutuskan untuk menunggu fajar tiba. Berharap mujizat ada seseorang yang datang, dan menawarkan pertolongan. Andai Fanny ada disini, dia pasti tau apa yang akan dilakukan, batin Indi.
Jeannet lalu memandang Indi, dengan senyum ompongnya yang lebar, “Hei, otak hantuku baru saja memikirkan ide yang brilian,”
“Apa itu?”
“Kau tidak perlu tahu. Yang harus kau lakukan adalah berimprovisasi. Oh ya, dan juga tenaga untuk berjalan.” Kata hantu cilik itu percaya diri.
***
Mereka meninggalkan Vega di bukit, dengan mengikatnya menggunakan tali rafia (Ide Jeannet). Mereka sudah berjalan sekitar dua kilo meter, di tengah malam, ketika mereka menemukan mini market yang masih buka.
“Jackpot!” seru Jeannet.
“Apa yang sebenarnya kau rencanakan?” tanya Indi yang sedari tadi penasaran.
“Kau tak perlu mengetahuinya. Karena aku tahu bahwa kau adalah manusia yang tak bisa berimprovisasi. Cukup ikuti saja alur ceritanya dan mainkan peranmu.”
__ADS_1
Mereka lalu masuk ke mini market itu. Alunan musik instrumental lembut beralun dari speaker tersembunyi. Mini market itu termasuk besar untuk sebutan mini.
Rak-rak belanjaan pun ada disitu, mulai dari bahan makanan hingga pakaian. Tidak ada siapa-siapa disitu selain Indi dan kasir penjaga mini market.
Kasir itu berbadan kekar dan proposional untuk seorang pria. Kulitnya berwarna cokelat, dan rambutnya tampak dipirang dan dipotong dengan model tentara. Ia tampak seperti tentara ketimbang kasir di mini market.
Dia mengenakan seragam mini market berwarna merah berlengan pendek, yang membuat otot-ototnya menyembul keluar. Di kantong bajunya disematkan kartu nama.
Indi membaca kartu nama itu “Ricky”.
Matanya jelas-jelas melebar ketika melihat Indi. Dia tidak salah. Seorang gadis yang tampak kumal, masuk ke mini marketnya di tengah malam.
“Mau beli apa mbak?” Katanya dengan aksen khas negara ini, dicampur dengan aksen bahasa dunia.
“Ehm, kepentingan perempuan,” kata Indi ‘berimprovisasi’.
“Oh, ada di rak paling ujung sebelah kanan,” katanya.
Indi melempar pandangannya pada Jeannet. Hantu cilik itu mengacungkan kedua jempolnya pada Indi. Sebaiknya hantu cilik itu sudah menjalankan rencananya. Dari balik rak belanja Indi memperhatikan apa yang sedang dikerjakan Jeannet.
Dia masuk ke meja kasir. Hal itu membuat Indi sedikit gugup. Bagaimana kalau dia ketahuan. Tunggu, Indi lupa bahwa Jeannet adalah hantu.
Hantu itu menyelinap dan sekarang berdiri tepat disamping Ricky. Perlahan Jeannet ‘memanjat’ tubuh kekar pria itu. Jeannet menangkap pandangan Indi lalu berkedip.
Indi benar-benar tak mengerti dengan apa yang ada di dalam kepala hantu itu. Jeannet kini menjadi hantu yang bergelantungan di lengan Ricky. Entah bagaimana cara kerjanya tapi Ricky tampak merasakan sesuatu.
‘Cepat sedikit!’ kata Indi tanpa suara.
__ADS_1
Jeannet mengangguk. Sedetik kemudian hantu itu memanjat lalu melompat di pundak Ricky. Kedua tangan mungilnya mengusap-usap wajah Ricky yang membuatnya berubah pucat.
Indi lalu menangkaap gerak bibir dari Jeannet, ‘IMPROVISASI’. Benar, Indi bahkan hampir lupa dengan itu. Dari rak perbelanjaan Indi mendekati kasir itu.
“Apa kau baik\-baik saja?” tanya Indi.
Ricky tampak merintih, “Ergh… Kepalaku dan pundakku terasa begitu berat. Tampaknya inilah yang terjadi ketika kau harus bekerja setiap malam,” keluhnya.
“Kurasa kau harus beristirahat,”
“Tidak, tak perlu, ini hanyalah penyakit biasa dari orang yang sering begadang. Lagipula, hasil dary GYM ku tak akan mengecewakan,” katanya terdengar sedikit angkuh.
Pria kekar itu terus memegang kepalanya. Sesekali ia merintih, suaranya terdengar seperti suara sapi yang hendak disembelih. Sedetik kemudian pria itu melompat dari meja kasir dan telah berada di depan Indi.
“Improvisasi,” bisiknya.
“Jeannet?”
Ricky atau Jeannet lalu memeluk dan menggendong Indi. Indi melihat kedipan mata Ricky lalu mulai berteriak.
“TOLONG!!!”
Ricky (Jeannet) kini mengambil beberapa makanan dan uang dari kasir, lalu berlari keluar dari mini market. Ia mencoba merogok kantungnya menemukan kunci motor lalu menyerahkannya pada Indi.
“Hei, aku tidak tahu bawa motor!” kata Indi.
“Ayolah, kau sudah lebih dewasa dariku. Lagipula membawa kendaraan ini sama seperti membawa sepeda.”
__ADS_1
Indi menatap motor itu gugup.
***