
"Dari tadi aku juga sedang memikirkannya bagaimana caranya ya?" sambung Valeno sambil menyangga dagunya dengan satu tangannya, dan mata Valeno langsung menatap Fillea yang berada tepat di depannya.
Hingga keduanya diam tanpa kata dengan pikirannya masing-masing.
"Mata sayu yang begitu indah tanpa bulu mata palsu, bulu matanya sudah lentik, kedua pipi yang merona tanpa blush on yang menempel di kedua pipinya, hidung yang tidak terlalu mancung tapi membuatnya terlihat menarik, bibir yang berwarna marum yang begitu menggairahkan, pasti rasanya manis semanis madu," batin Valeno sambil menelan salivanya ketikan mengamati setiap jengkal wajah Fillea yang tidak kurang satu meter dari hadapannya.
"Leno," ucap Fillea sambil memainkan telapak tangannya di hadapan Valeno saat Fillea memanggil Valeno beberapa kali tapi tidak mendapat tanggapan dari Valeno yang terus menatap Fillea.
Tuk
"Sakit apa yang kamu lakukan Lea?" ujar Valeno saat Fillea memukul kepala Valeno menggunakan sendok yang berada di meja.
"Jangan melihat aku seperti itu, nanti kamu naksir lalu patah hati, karena aku pastikan aku tidak akan pernah menyukaimu dasar buaya kampret,"
"Pede, aku juga tidak akan pernah menyukaimu dasar perempuan aneh,"
"Baguslah kalau begitu. Dan sekarang apa yang akan kita lakukan untuk membatalkan pernikahan kita?"
"Kita kabur saja, saat acara pernikahan kita bagaimana,"
"Enak saja aku tidak ingin membuat papah terkena serangan jantung,"
__ADS_1
"Terus apa?"
"Aku ada ide," ujar Fillea sambil tersenyum dan memainkan alisnya ke arah Valeno dan Valeno langsung menaikan satu alisnya mendengar ide dari Fillea. "Jadi kita tetap mengikuti rencana mereka,"
"Tak sudi aku harus menikah dengan wanita seperti dirimu," sambung Valeno sambil tersenyum sinis ke arah Fillea.
"Awas nanti jatuh cinta padaku baru tahu rasa," ujar Fillea membuat Valeno langsung tertawa kencang.
"Kamu itu bukan seleraku, lihat saja tubuhmu itu bagaikan papan triplek tidak ada menggoda godanya, seleraku itu wanita dengan tubuh bagaikan gitar biola,"
"Bagus kalau begitu, pasti kamu akan setuju dengan ideku,"
"Tidak kalau aku harus menikah dengan kamu,"
"Baiklah aku setuju dengan ide kamu, deal," ucap Valeno sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Fillea setelah Fillea mengatakan ide apa yang akan keduannya sepakati.
"Deal," balas Fillea dan langsung menjabat tangan Valeno.
*
Fillea yang baru masuk kedalam rumah setelah dirinya kembali dari cafe bersama Valeno langsung mengedarkan pandangannya keseluruhan penjuru isi rumah, saat didalam rumahnya sudah sunyi senyap tidak seperti terakhir kali dirinya meninggalkan rumah.
__ADS_1
"Kalau masuk kedalam rumah itu harus memberi salam, sudah berapa kali papah beritahu kamu Lea," ucap papah Fillea yang sedang duduk di sofa ruang tamu membuat Fillea nyengir kuda dan langsung memberi salam sambil mendekat ke arah papah nya.
"Kenapa sudah sepi pah? Kemana semua orang?" Tanya Fillea yang sekarang ikut duduk di samping papah nya.
"Belum lama mereka pulang sayang, mereka lama menunggu kamu akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Kemana Leno?"
"Dia langsung pulang pah, setelah mengantar aku,"
"Papah yakin dengan pilihan kamu sayang, dan papah sungguh bahagia akhirnya kamu akan segera menikah, dan yang membuat papah lebih bahagia lagi, karena keluarga Leno, keluarga yang taat dan patuh dengan agama, dan tentu saja Leno bisa membimbing kamu menjadi lebih baik, papah bahagia sekali," ujar papah Fillea sambil tersenyum ke arah Fillea.
"Cih, membimbingku menjadi lebih baik, dianya aja manusia terendah yang pernah aku kenal menjijikan," gumam Fillea sambil membalas senyum papah nya agar papah Fillea tidak mengetahui bakal calon menantunya saat tadi Fillea dan juga Valeno sudah berjanji menutupi keburukan masing-masing dari semua orang termasuk kedua orang tua mereka Masing-masing.
*
Fillea langsung menatap kertas HVS yang berada di tangannya sambil memeriksa kembali jika tulisan yang berada di kertas HVS tersebut sesuai dengan apa yang akan dirinya tunjukan kepada Valeno saat keduanya sepakat untuk tetap mengikuti kemauan orang tuanya untuk menikah, dengan syarat keduanya harus membuat surat perjanjian satu sama lain sebelum keduanya menikah.
"Oke siap," ucap singkat Fillea yang langsung menempelkan dua buah materai di atas kertas tersebut di sisi kanan dan juga kiri lalu Fillea menambahkan tanda tangannya di atas salah satu materai tersebut sambil tersenyum.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung................