
'Tidak semudah itu. Setelah apa yang kamu lakukan padaku dan juga Berlin,"
"Barikan aku kesehatan aku…"
Belum sempat Jessi menyelesaikan perkataan yang. Beberapa polisi datang bersamaan dengan Mario. Dan langsung mengamankan Jessi. Dan membawa Jessi keluar dari penjara bawah tanah tersebut untuk mempertanggung jawabkan perbuatan menjalani hukuman. Meskipun sebelumnya Jessi memohon kepada Fillea dan juga Valeno untuk membebaskan dirinya. Tapi tidak di hiraukan oleh keduanya.
"Terima kasih untuk semuanya, berkat bantuan kamu aku bisa menemukan Jessi," ujar Berto sambil menepuk punggung Valeno saat semuanya sudah berada di halaman rumah kosong tersebut sambil menatap kepergian Jessi ke kantor polisi.
"Berterima kasihlah kepada Mario. Aku tidak melakukan apapun. Mario lah yang bekerja dengan baik," jelas Valeno balik menepuk punggung Berto.
"Papi. Kenapa mami di bawa oleh polisi?" tanya Berlin yang sekarang menghampiri Berto.
"Karena mami harus menjalankan hukuman. Kamu masih ingat bukan apa yang pernah mami katakan dan mami lakukan pada kamu. Jika kamu melakukan kesalahan?"
"Iya Berlin tahu papi. Tapi mami tidak membawa Berlin ke kantor polisi. Berlin hanya di pukul kalau melakukan kesalahan. Kenapa mami harus di bawa kekantor polisi kalau mami salah? Tinggal pukul saja seperti mami sering memukul Berlin,"
__ADS_1
"Sayang. Berlin belum mengerti kesalahan apa yang mami lakukan. Karena Berlin masih kecil. Tapi papi akan menjelaskannya nanti jika Berlin sudah besar. Sekarang Berlin Berkenalan dengan om dan juga tante ini," ujar Berto mengalihkan perhatian Berlin agar tidak terus menanyakan tentang mami nya. Sambil menunjuk ke arah Valeno dan juga Fillea yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada.
Senyum mengembang dari kedua sudut Fillea sambil menghampiri Berlin dan berjongkok mengsejajarkan tubuhnya dengan Berlin.
"Boleh tante memeluk Berlin?" tanya Fillea dengan senyum yang masih mengembang membuat Berlin langsung mengangguk. Fillea langsung memeluk tubuh Berlin dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Fillea begitu iba terhadap Berlin setelah apa yang dialaminya selama ini. Dan Fillea masih bersyukur bahwa mamah Astrid tidak sejahat Jessi kepada Berlin.
"Kenapa tante menangis?" tanya Berlin sambil melepas pelukan Fillea saat Berlin mengetahui Fillea menangis saat sedang memeluknya.
"Tidak tante tidak menangis. Tante hanya kelilipan debu," jawab Fillea sambil tersenyum dan menghapus air matanya. "Berlin sayang. Boleh tidak tante mengatakan sesuatu?"
"Tante hanya ingin berpesan. Janganlah kamu melupakan mami Jessi. Dan lupakan semua perbuatan mami Jessi kepada Berlin. Karena bagaimanapun mami Jessi adalah mami yang sudah melahirkan Berlin kedunia ini,"
"Kenapa tante mengatakan hal seperti itu? Tentu saja Berlin tidak akan melupakan mami. Dan Berlin sudah melupakan perlakuan mami," ujar Berlin sambil tersenyum membuat Fillea langsung memeluk tubuh Berlin kembali.
*
__ADS_1
*
*
Fillea bersandar di bahu Valeno saat keduanya sudah berada di dalam mobil untuk pulang kerumah setelah sebelumnya Fillea ikut mengantar keluarga Berto menginap di hotel milik sang suami. Kemudian Valeno langsung merangkul Fillea dan menyandarkan kepala istrinya di dada bidangnya.
"Kenapa hatiku tidak setegar Berlin. Di usianya yang sangat muda dia sudah mempunyai hati yang sangat luas. Tidak seperti diriku. Dan aku…"
"Sssttt jangan katakan apapun lagi," sambung Valeno memotong perkataan Fillea dan menaruh jari telunjuk nya di atas bibir sang istri. "Aku sudah pernah bilang jangan pernah mengingat masa lalu oke. Itu sudah berlalu dan sekarang kamu dan juga mamah Astrid sudah bersama," ucap Valeno tahu apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya. Dan sekarang Pikirkan anak kita di dalam sini," ucap Valeno lagi sambil mengelus perut istrinya. Dan Valeno langsung mengambil ponsel miliknya yang terus berdering.
*Like*Komen*Bersambung..............
NO CURCOL 😂😂😂😂😂
SUKA SILAHKAN BACA TIDAK SUKA YO RA OPO-OPO.
__ADS_1
SELAMAT HARI JUMAT SEMOGA KALIAN SELALU DALAM LINDUNGAN SANG KUASA AMIN🙏🙏🙏🙏🙏🙏