
"Aku tidak takut sama sekali karena aku yakin suamiku tidak akan pernah meninggalkan diriku hanya demi wanita seperti dirimu. Ingat itu Jessi!" ucap Fillea penuh penekanan sambil menatap tajam ke arah Jessi.
"Aku yakin Leno akan memilih diriku dibanding kamu. Karena hanya aku wanita yang dicintainya. Kamu hanya jadi pelarian saja," sambung Jessi penuh percaya diri sambil tersenyum sinis ke arah Fillea. Dan Valeno langsung berjalan ke arah Jessi. "Kamu lihat saja. Leno menghampiriku bukan?"
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan?" sambung Valeno yang sekarang sudah berada di hadapan Jessi.
"Aku menginginkan kamu kembali padaku Leno. Aku tahu kamu masih menyimpan rasa untukku. Kembalilah padaku dan tinggalkan istrimu,"
"Leno! Jangan lakukan itu!" teriak Fillea sambil berlari ke arah Valeno dan menahan tangan Valeno saat akan menampar pipi Jessi.
"Ingat baik-baik Jessi. Aku menolongmu bukan karena aku masih menyimpan rasa. Aku hanya peduli sebagai sesama manusia dan tidak ada yang lain ingat itu baik-baik!" tegas Valeno penuh penekanan. "Tapi sekarang aku menyesal sudah menolongmu. Setelah apa yang kamu lakukan kepada istriku. Pergilah dari apartemen ku ini pergi!"
"Leno aku harus pergi kemana? Aku mohon jangan usir aku Leno. Aku mohon," mohon Jessi sambil memegangi kaki Valeno.
"Mario bawa perempuan ini keluar. Aku tidak ingin melihatnya cepat!" perintah Valeno dan Mario dengan sigap langsung menarik tangan Jessi untuk keluar dari apartemen dengan paksa saat Jessi memberontak.
Valeno langsung memeluk tubuh Fillea yang berada tepat di sampingnya.
"Maafkan aku. Aku tidak tahu kebaikanku dianggap lain oleh Jessi. Dan maafkan aku karena aku, kamu jadi terluka begini. Sekali lagi maafkan aku," ujar Valeno yang sekarang beralih memegang dagu Fillea. "Dan terima kasih kamu sudah percaya padaku. Karena memang aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu pus,"
"Walaupun kamu ingin meninggalkan aku. Aku juga tidak peduli," ketus Fillea yang langsung menuju sofa untuk duduk.
"Pus apa yang kamu katakan? karena itu tidak akan pernah terjadi. Jangan pernah katakan itu lagi pus. Aku tidak bisa hidup tanpamu pus," sambung Valeno yang mengikuti Fillea.
"Bohong,"
__ADS_1
"Aku bersumpah pus suer,"
"Kamu tidak bisa hidup kalau kamu sudah tidak bernyawa dodol. Jangan suka menggombal. Aku tidak ingin mendengar gombalan dirimu yang tidak bermutu," sambung Fillea sambil menidurkan kepalanya di paha Valeno yang duduk di sampingnya.
"Kenapa kamu susah sekali di gombalin pus,"
"Aku tidak perlu gombalan dari mulut kamu. Yang aku butuhkan kesetiaan dan juga pembuktian,"
"Baik aku akan membuktikan padamu pus,"
"Buktikan saja jangan banyak bicara. Dan awas saja kalau kamu masih menemui Jessi walaupun tanpa sengaja bertemu dengannya. Aku tidak yakin kamu tidak akan tergoda dengannya. Tadi saja mata kamu langsung melotot hanya melihat punggung Jessi. Untung aku datang entah apa yang terjadi kalau aku tidak datang tepat waktu,"
"Aku melotot karena terkejut. Karena tiba-tiba dia menarik tangan ku dengan paksa. Dan dia langsung membuka dress yang di gunakan nya,"
"Jangan mengelak. Kamu laki-laki normal tidak mungkin kamu tidak tergoda,"
"Jangan mesum aku…" ucapan Fillea terhenti saat Valeno tiba-tiba mencium bibir Fillea.
"Ayuk pus," ajak Valeno setelah melepas tautan bibirnya.
"Kemana?"
"Talas bogor ku ingin mengeluarkan getah,"
"Tidak mau aku lelah,"
__ADS_1
"Dosa loh menolak ajakan suami,"
"Dosa itu kalau tidak menjalankan kewajiban kepada Tuhan,"
"Ini juga kewajiban kamu sebagai seorang istri. Mau yah?"
"Tidak mau aku lelah,"
"Pus, istriku, sayangku, manisku, cintaku, mau yah. Setelah itu kamu boleh meminta apapun diriku,"
"Tidak mau aku bisa membelinya sendiri,"
"Oh no pus," ucap Valeno frustasi sambil mengacak acak rambutnya. Kemudian dirinya langsung mengangkat ponselnya yang berdering.
"Apa!" Valeno terkejut sambil menatap Fillea yang masih tiduran di pangkuannya.
"Ada apa?" tanya Fillea penasaran.
*
Like
*
Komen
__ADS_1
Bersambung.........