
"Pus?"
"Hem,"
"Ada apa dengan wajahmu apa kamu sedang tidak enak badan?" tanya Valeno saat keduanya sedang menikmati sarapan.
"Tidak aku baik-baik saja. Hanya saja aku merasa kelelahan akhir-akhir ini,"
"Aku sudah bilang padamu pus. Jangan setiap hari kamu pergi mengecek sekolah balap kamu. Kamu tenang saja tidak sampai satu tahun sekolah dan juga sirkuit akan selesai,"
"Tapi aku sudah tidak sabar,"
"Tapi kami juga harus menjaga kesehatanmu oke," ujar Valeno sambil mendekat ke arah Fillea dam memberikan ciuman di pipi istrinya. "Aku ke kantor dulu. Ingat jangan pergi kemana mana tetap di rumah,"
"Baiklah,"
"Terus kamu mau kemana?" tanya Valeno saat Fillea beranjak dari kursi.
"Aku ingin mengantarmu ke depan,"
"Tidak perlu pus. Kamu kembali ke kamar dan istirahatlah," sambung Valeno dan mencium kening Fillea.
"Hati-hati dijalan. Maaf kalau nanti aku tidak bisa mengantar makan siang untukmu,"
"Tidak apa. Aku berangkat dulu. Ada rapat penting di kantor hari ini. Sampai jumpa istriku," ujar Valeno yang langsung meninggalkan Fillea dengan terburu buru.
"Bi Surti,"
"Iya non,"
"Apa dokter yang merawat mamah di rumah sakit menelpon?"
"Tidak non,"
"Kalau begitu bi Surti ikut aku ke rumah sakit menemui mamah. Sudah satu minggu lebih aku tidak menemuinya,"
"Tapi non Lea terlihat pucat. Apa non Lea sakit?"
__ADS_1
"Tidak bi. Aku hanya merasa lemas. Nanti juga hilang. Bibi bersiap lah satu jam lagi kita kerumah sakit menemui mamah,"
"Baik non,"
Wek… Wek… Wek…
Fillea langsung berlari menuju wastafel yang berada di dapur dan mengeluarkan seluruh isi perutnya di bantu bi Surti yang langsung memijat belakang leher Fillea.
"Syukurlah non," ucap bi Surti sambil tersenyum senang.
"Kenapa bi Surti malah tertawa? Apa bi Surti senang kalau aku sakit?"
"Tentu," ucap singkat bi Surti sambil menatap Fillea yang sedang menatapnya tajam.
"Bi Surti jahat," sambung Fillea kesal dan langsung menuju kamarnya. Membuat bi Surti langsung menepuk jidatnya dan menyusul Fillea.
Wek… Wek… Wek
Saat sudah didalam kamar Fillea pun masih saja mengeluarkan isi perutnya yang sudah kosong.
"Kenapa bi Surti mengikutiku? Aku baru tahu bi Surti tuh jahat. Kenapa bi Surti terus saja tersenyum melihat penderitaanku seperti ini?"
"Maksud bi Surti?"
"Karena non Lea sedang hamil,"
"Tidak aku sedang tidak hamil bi,"
"Tapi bibi yakin non Lea sedang hamil. Bibi akan bersiap dan bibi akan dengan senang hati mengantar non Lea ke rumah sakit," ujar bi Surti yang langsung keluar dari dalam kamar Fillea.
*
*
*
"Bi Surti kenapa kita menuju ke ruangan dokter kandungan? Siapa yang sedang hamil? Apa bibi sedang hamil? Dengan siapa bi?" tanya Fillea saat keduanya sudah sampai di rumah sakit dan bibi Surti menarik tangan Fillea menuju ke ruangan dokter kandungan di rumah sakit tersebut. Tapi tidak di hiraukan bibi Surti yang langsung masuk kedalam ruangan dimana dokter kandungan berada saat suster yang berjaga tepat di depan ruangan tersebut menyuruh langsung masuk tanpa menunggu saat sebelumnya bibi Surti sudah melakukan reservasi terlebih dahulu via telepon.
__ADS_1
"Selamat siang silahkan duduk," sapa dokter pria yang begitu rupawan mempersilahkan Fillea dan juga bibi Surti untuk duduk.
"Terima kasih dok," sambung Fillea yang langsung duduk tepat di hadapan dokter tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Iya dok. Bi Surti sedang hamil silahkan dokter periksa dia. Dan dokter kasih tahu dia hamil dengan siapa," jawab Fillea sambil menunjuk bibi Surti yang duduk di sampingnya.
"Bibi mau hamil kalau yang menghamili bibi dokter yang ganteng ini," sambung bibi Surti sambil tersenyum pada dokter yang berada di depannya yang bernama dokter Boy.
"Baik silahkan ikut dengan saya,"
"Baik dok. Dokter mau menghamili bibi. Ya ampun bibi mimpi apa semalam kalau harus dapat brondong yang klimis begini," ujar bibi Surti dan beranjak dari duduknya.
"Silahkan ibu berbaring saya ingin memeriksa kandungan ibu,"
"Saya?" tanya bibi Surti sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya tadi bilang ibu yang sedang hamil bukan?"
"Ya ampun," Bibi Surti berkata sambil menepuk jidatnya sendiri. "Surti_ Surti fokus. Jangan karena melihat yang kinclong jiwa edanmu keluar," guman bibi Surti yang langsung menarik tangan Fillea menuju ranjang untuk di periksa.
"Bi Surti apa yg bibi…"
"Dok dia yang sedang hamil dokter periksalah," Bibi Surti memotong perkataan Fillea dan menyuruh Fillea untuk naik ke atas ranjang.
"Bi aku…"
"Non Lea diam saja biar dokter memeriksa non Lea," ucap bibi Surti memotong perkataan Fillea lagi.
"Dok bagaimana apa non Lea hamil?" tanya bi Surti antusias saat dokter selesai memeriksa Fillea.
*
Like
*
__ADS_1
Komen.
Bersambung..........