
Sebelum dokter tersebut menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Pintu ruang IGD tersebut dibuka dari dalam. Dan keluar beberapa perawatan yang mendorong brankar yang di atasnya terdapat mayat yang sudah di tutupi kain putih. Membuat mommy Valeno jatuh pingsan dan langsung di bawa oleh paman Malik dan juga bibi Sabila ke bangku tunggu sementara itu Valeno langsung membuka kain yang menutupi mayat tersebut memastikan itu daddy nya atau bukan. Valery langsung menangis histeris saat mengetahui daddy nya lah yang berada di atas brankar tersebut yang sudah tidak bernyawa dan pergi untuk selamanya. Lalu Fillea memeluk tubuh Valery untuk menenangkannya dan air mata Fillea jatuh tidak tertahan. Tahu apa yang Valery rasakan. Karena dia sudah pernah merasakan sebelumnya. Kehilangan seseorang yang begitu berharga bagi hidup kita adalah hal yang bisa membuat hidup kita berhenti untuk sesaat. Tidak ada kata yang keluar dari mulut Fillea karena dirinya tahu persis. Yang sekarang ingin di lakukan oleh Valery hanya menagis untuk mengurangi rasa sedihnya di tinggal oleh seorang ayah sosok yang begitu tegas tapi penyayang bagi seluruh anaknya.
"Maaf pak. Kami akan membawa jenasah ini untuk di bersihkan," ujar salah satu perawat pada Valeno yang sedang memegangi wajah sang daddy dengan air mata yang tidak bisa di bendung. Dan Valeno mengingat kembali bagaimana sosok daddy nya di matanya.
"Daddy!"
*
*
*
Mommy Valeno duduk bersimpuh di samping jazad sang suami saat sudah berada di rumahnya sebelum di bawa ke pemakaman. Tidak ada lagi air mata yang keluar dari wanita paruh baya saat air matanya sudah kering menangisi kepergian sang suami yang sangat di cintainya. Suami yang sudah merubah hidupnya. Sosok suami yang membuat hidupnya berwarna. Sosok suami dan juga ayah yang sangat baik bagi dirinya.
__ADS_1
Lantunan ayat suci yang keluar dari wanita paruh baya di samping jasad sang suami membuat semua orang juga ikut melantunkan nya tidak terkecuali Valeno yang selama ini tidak pernah melantunkan ayat suci. Fillea yang melihat suaminya langsung tersenyum senang sambil mengelus perut nya. Dan langsung ikut duduk di samping sang suami yang terus fokus melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran untuk sang daddy.
*
*
*
"Mommy. Aku tahu perasaan mommy. Ikhlaskan daddy. Biarkan daddy tenang di sisi yang maha kuasa. Dan mendapatkan tempat yang layak,"
"Mommy selalu ikhlas sayang. Karena ini memang sudah takdir yang maha kuasa. Mommy juga akan menanti hari dimana mommy akan di kebumikan juga seperti daddy kalian. Dan mommy harap tidak ada air mata yang keluar dari kalian saat waktu itu tiba," ucap wanita paruh baya tersebut sambil tersenyum ke arah Valeno membuat Valeno langsung memeluk sang mommy diikuti saudara kembarnya.
"Sayang kenapa kamu yang menangis?" tanya bibi Sabila sambil memeluk bahu Fillea yang sedang menatap sang suami.
__ADS_1
"Tidak bi. Aku hanya terharu melihat mommy yang begitu tegar. Mungkin kalau aku berada di situasi seperti ini aku tidak akan kuat menghadapinya,"
"Kamu harus kuat sayang. Karena kematian akan menghampiri setiap makhluk hidup yang ada di dunia ini,"
"Jika aku harus pergi dari dunia ini. Aku ingin pergi bersama dengan suamiku," sambung Fillea yang langsung berjalan menuju ke arah suaminya dan ikut memeluk sang mommy.
"Leno," panggil paman Malik sambil menepuk bahunya. Dan menyuruh Valeno untuk mengikutinya.
"Apa? Jadi…"
"Iya dia yang sudah sengaja melakukan ini semua. Dan tenang saja paman sudah mengamankan nya," ucap paman Malik memotong perkataan Valeno setelah memberi tahu yang sebenarnya terjadi.
*Like*Komen*Bersambung............
__ADS_1