
Seminggu kemudian
Fillea sudah siap dengan pakaian kantornya saat Valeno mengijinkan dirinya untuk tetap bekerja di perusahaan milik paman nya, ketika papah Fillea sudah jarang berangkat ke kantor karena akhir-akhir ini kesehatannya menurun.
Fillea sedang menyiapkan pakaian yang akan dikenakan Valeno ke kantor saat Valeno masih berada di dalam kamar mandi.
"Sudah selesai," ucap Fillea saat dirinya sudah selesai menyiapkan pakaian Valeno.
"Kata siapa? Ini belum selesai," ujar Valeno yang tiba-tiba masuk kedalam ruang ganti mengagetkan Fillea, apalagi saat handuk yang dipakainya dia lempar ke sembarang arah. Dan memperlihatkan adik besarnya sudah berdiri tegak.
"Pus yuk?" ajak Valeno yang sekarang memeluk tubuh Fillea dari belakang.
"Ini sudah siang. Aku ada rapat di kantor dan kamu juga ada rapat,"
"Rapat bisa diundur. Aku sudah puasa seminggu lebih pus, aku ingin berbuka dengan yang nikmat-nikmat pus. Yuk sekali saja aku berjanji hanya sekali," pinta Valeno sambil membuka kancing kemeja yang Fillea kenakan.
"Hanya sekali tidak boleh lebih!"
"Oke pus," ucap senang Valeno dan mengangkat tubuh Fillea menuju sofa yang berada di dalam ruang ganti tersebut. "Apa kamu siap menerima tusukan maut dari ku pus?" tanya Valeno ketika dirinya sudah melepas pakaian yang Fillea kenakan dan sekarang keduanya sudah polos. Dan tidak ada lagi perkataan yang keluar dari kedua nya digantikan dengan des@han dan juga decitan sofa yang menjadi saksi bisu aktifkan keduanya di pagi hari, saat orang diluaran sedang sibuk mencari rezekinya. Dua manusia yang berada di atas sofa malah mencari kenikmatan yang menjadi candu bagi kedua anak manusia yang dulu pernah saling membenci.
Hingga suara lenguhan dari bibir keduanya bergantian menandakan keduanya sudah mencapai puncak kenikmatan setelah hampir tiga puluh menit lebih keduanya cari.
"Terima kasih pus," ujar Valeno sambil mencium bibir Fillea yang masih berada di atas tubuhnya.
*
__ADS_1
*
*
Fillea yang baru kembali dari ruang rapat langsung menghembuskan nafasnya kasar. Lalu dirinya menyandarkan kepalanya di sandaran kursi yang berada di ruang kerjanya.
"Apa ada yang harus saya kerjakan lagi bu Lea?" tanya Siska sekretaris Fillea yang berada didalam ruang kerja Fillea.
"Tidak. Kamu selesaikan saja laporan proyek yang berada di luar kota. Aku ingin beristirahat sebentar dan jangan ganggu aku,"
"Baik bu. Kalau begitu saya permisi," ujar Siska yang langsung keluar dari ruangan.
"Siska aku sudah bilang kamu kerjakan laporan yang berada diluar kota. Aku ingin beristirahat!" kesal Fillea yang masih menyandarkan kepalanya sambil memejamkan matanya saat ada yang masuk ke dalam ruangannya.
"Ternyata istriku galaknya permanen ternyata," sambung Valeno membuat Fillea langsung membuka matanya. "Aku datang pus. Kamu tidak ingin menyambut ku? Aku membawa makan siang untukmu. Tepatnya untuk aku dan juga kamu pus. Aku tahu kamu belum makan siang bukan?"
"Pasti kamu lelah bukan? Aku sudah bilang kamu tinggal duduk cantik dirumah menunggu aku pulang kerja pus. Tidak usah bekerja lagi," ujar Valeno sambil memutar kursi kerja Fillea agar Fillea menghadap ke arahnya.
"Ini juga karena kamu tadi pagi. Katanya berjanji hanya sekali nyatanya kamu minta nambah lagi,"
"Enak pus,"
"Sudahlah aku lapar,"
"Oke aku akan melayanimu bagaikan ratu pus," ujar Valeno yang langsung mengangkat tubuh Fillea menuju sofa lalu dirinya langsung menyiapkan makanan yang baru dibawanya dan menyuapi Fillea dengan telaten bergantian dengan dirinya.
__ADS_1
"Terima kasih kus,"
"Jangan katakan itu. Aku dengan senang hati akan melayanimu karena kamu ratu didalam hidupku pus,"
"Bisa aja gombalnya belajar dari mana? Oh iya aku lupa kamu kan mantan…" Perkataan Fillea berhenti saat Valeno tiba-tiba mencium bibirnya.
"Itu makanan penutup pus,"
"Itu namanya modus,"
"Modus sama istri sendiri tidak apa kali pus,"
"Iya in aja,"
"Pus aku ingin mengajakmu ke suatu tempat yang pasti kamu rindukan,"
"Kemana?"
*
Like
*
Komen
__ADS_1
*
Bersambung...........