
"Mario jalan saja, nanti aku bisa ketinggalan penerbangan," sambung Fillea.
"Mario berhenti!"
"Mario jalan!" sambung Fillea lagi membuat Mario terus melajukan mobil yang dikendarainya.
"Mario bos kamu siapa? Berhenti atau…"
"Leno diamlah untuk apa kamu menyuruh Mario untuk berhenti. Kamu lihat jam berapa ini? Kita bisa ketinggalan pesawat," ujar Fillea memotong perkataan Valeno.
"Tapi kamu lihat rambutku masih berantakan, bisa jatuh harga diriku kalau orang lain melihat rambut ku berantakan seperti ini,"
"Ya ampun Leno begitu saja kamu berisik sekali, tinggal kamu sisir rambutmu di dalam mobil, nih aku bawa sisir," ujar Fillea sambil memberikan sisir miliknya yang baru saja dirinya ambil dari dalam tasnya.
"Aku tidak bisa melakukannya tanpa bercermin,"
"Ya ampun begitu saja tidak bisa, sini aku bantu," ucap Fillea yang langsung mengambil sisir yang berada di tangan Valeno lalu Fillea menyisir rambut Valeno, tanpa Fillea sadari Valeno mengamati setiap jengkal wajah Fillea saat wajahnya dan juga wajah Fillea hanya berjarak beberapa senti hingga nafas Fillea yang segar menerpa dirinya.
Sssstttt…
__ADS_1
Mario sengaja mengerem mobil yang dikendarai dengan tiba-tiba membuat Valeno dan juga Fillea terkejut dan bibir keduanya saling bersentuhan untuk sepersekian detik dengan mata keduanya saling bertemu sebelum Fillea menyadari dan langsung menjauhkan wajahnya.
"Maaf pak, bu, tadi ada kucing lewat," bohong Mario yang langsung melajukan mobilnya kembali sambil tersenyum.
"Berterima kasih lah pada ku bos laknat, berkat aku kau bisa menikmati bibir dari istrimu sendiri yang sudah pasti rasanya lebih nikmat," gumam Mario sambil menatap Valeno yang sedang menatapnya sambil memainkan alisnya pada Mario dari kaca spion tahu jika Mario melakukannya dengan sengaja. Hingga tidak ada lagi aktifitas didalam mobil saat Valeno dan juga Fillea sibuk dengan ponselnya masing-masing hingga keduanya tiba di bandara dan Fillea langsung berlari menuju pintu keberangkatan saat tidak lama lagi pesawat yang akan ditumpangi nya lepas landas membuat Valeno langsung ikut berlari mengikuti Fillea.
"Lea!" teriak Valeno saat Fillea terjatuh karena berlari dan dengan sigap Valeno langsung membopong tubuh Fillea untuk menaiki anak tangga masuk ke dalam pesawat.
"Turunkan tidak! Malu dilihat orang banyak Leno,"
"Sudah diamlah, aku tahu kaki kamu terkilir kalau kamu memaksa untuk berjalan akan menambah sakit kaki kamu," ujar Valeno membuat Fillea hanya diam pasrah karena memang dirinya merasakan sakit di kakinya. Hingga keduanya tiba di tempat duduknya. Dan Valeno langsung melepas sepatu yang Fillea kenakan dan menaruh kaki Fillea di pangkuannya untuk memeriksa kaki Fillea.
"Tidak usah aku sudah merasa baikkan,"
"Jangan membantah, aku tidak mau direpotkan oleh mu," ucap ketus Valeno yang langsung pergi meninggalkan Fillea yang sedang memegangi kakinya.
"Tidak ada yang perlu di kuatir kan, sekarang nona berbaringlah dan luruskan kaki nona," ujar pramugari setelah memeriksa keadaan kaki Fillea dan mengubah tempat duduk Fillea menjadi tempat tidur. "Jika ada sesuatu jangan sungkan-sungkan memanggil saya, kalau begitu saya permisi, selamat menikmati penebangan ini," ucap ramah pramugari yang langsung meninggalkan keduanya.
"Tadi pramugari bilang apa? Diam saja," ucap Valeno saat Fillea beranjak dari kursinya.
__ADS_1
"Aku ingin buang air kecil. Apa aku harus buang air kecil disini tidak kan?" tanya Fillea ketus yang langsung berjalan menuju toilet dengan tertatih saat dirinya masih merasa sakit di pergelangan kakinya.
"Hati-hati, kalau butuh bantuan bilang saja," ujar Valeno yang langsung menahan tubuh Fillea yang sempoyongan sambil memegangi kepalanya. "Jangan bilang kamu mengalami jetlag,"
"Tidak tahu biasanya aku tidak merasa pusing. Tapi kenapa sekarang aku merasa pusing, Leno bantu aku ke kamar mandi," ujar Fillea yang langsung memeluk tubuh Valeno dan Valeno langsung membantu Fillea menuju toilet. "Kenapa kamu ikut masuk kedalam toilet?" tanya Fillea membuat Valeno langsung menunjuk tangan Fillea yang masih memeluk dirinya. "Oh maaf," ucap Fillea sambil nyengir kuda dan langsung melepas tangannya yang masih memeluk Valeno.
Tangan Valeno reflek mengelus elus rambut Fillea saat Fillea tidak berdaya ketika sudah beberapa kali Fillea mengeluarkan isi perutnya.
"Singkirkan tanganmu aku baik-baik saja, aku hanya butuh istirahat," ucap Fillea sambil menyingkirkan tangan Valeno.
"Lihatlah dirimu, jangan sok kuat Lea,"
"Leno!"
*
*
*
__ADS_1
Bersambung............